Bursa Saham Asia Menguat Mengikuti Wall Street, Ini Pemicunya

Mengekor wall street, bursa saham Asia Pasifik naik pada perdagangan saham Kamis, (16/4/2026) di tengah harapan kesepakatan perdamaian AS dan Iran.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 April 2026, 08:35 WIB
Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Kamis, (16/4/2026). (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Kamis, (16/4/2026). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik mengikuti wall street seiring harapan kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat.

Mengutip CNBC, saham telah menguat pekan ini karena kemungkinan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Indeks S&P 500 naik 3% pada pekan ini. Sementara itu, indeks Nasdaq dan Dow Jones masing-masing bertambah 5% dan lebih dari 1%.

Presiden AS Donald Trump menuturkan, perang Iran hampir berakhir. Ia mengklaim, Iran sangat ingin membuat kesepakatan.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNBC pada Selasa pekan ini, kalau putaran kedua  negosiasi antara Iran dan AS sedang dibahas. Menurut sumber itu belum ada yang dijadwalkan secara resmi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,38% menjadi USD 90,94 per barel pada pukul 08.00 malam WT. Harga minyak Brent turun 0,36% menjadi USD 94,59 per barel.

Indeks Kospi di Korea Selatan naik 1,03%. Sementara itu, indeks Kosdaq bertambah 0,77%. Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,81% dan indeks Topix menanjak 0,70%. Indeks S&P 200 di Australia melompat 0,22%.

Indeks Hang Seng di Hong Kong berada di posisi 26.129, dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.947,32.

Semalam di Wall Street, indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 keduanya diperdagangkan di sekitar titik datar. Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average naik 45 poin, atau 0,1%.

Selama sesi reguler Rabu, S&P 500 naik 0,80%, berakhir di 7.022,95. Nasdaq Composite naik 1,59% menjadi 24.016,02, sementara Dow Jones Industrial Average turun 72,27 poin, atau 0,15%, untuk ditutup di 48.463,72.

Baik Nasdaq maupun S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi, dengan indeks yang didominasi saham teknologi mencatatkan kemenangan beruntun hari ke-11 dan indeks pasar saham yang lebih luas mencatatkan sesi positif ke-10 dari 11 sesi.

Penutupan IHSG pada 15 April 2026

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah pada perdagangan saham Rabu, (15/4/2026). Koreksi IHSG hari ini di tengah sektor saham kesehatan pimpin penurunan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih di kisaran 17.000.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,68% menjadi 7.623,58. Indeks saham LQ45 merosot 0,57% ke posisi 759,94. Sebagian besar indeks saham acuan melemah.

Pada Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.777,57 dan level terendah 7.623,58. Sebanyak 380 saham menguat dan 292 saham melemah. 149 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 3.164.275 kali dengan volume perdagangan saham 51,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,6 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.127.

Mayoritas sektor saham melemah. Sektor saham kesehatan turun 2,81%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham infrastruktur melemah 1,33% dan sektor saham consumer siklikal menanjak 1%. Sementara itu, sektor saham energi tergelincir 0,27%, sektor saham basic susut 0,44%, sektor saham keuangan terpangkas 0,64%.

 

 

Sektor Saham

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Di sisi lain, sektor saham transportasi melonjak 3,45%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham industri menanjak 1,54%, sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,30%, sektor saham properti bertambah 0,21%, dan sektor saham teknologi melompat 0,57%.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, pelemahan IHSG hari ini didominasi faktor eksternal dan tekanan rupiah. Pertama, rupiah yang terus melemah jadi pemicu utama, ini membuat aset Indonesia kehilangan daya tarik sehingga asing cenderung outflow dan wait and see.

“Kedua, profit taking di saham big caps setelah rebound beberapa hari sebelumnya, terutama di saham-saham penggerak indeks, ikut menarik IHSG ke zona merah,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Reydi menilai, koreksi IHSG bukan perubahan fundamental, tapi kombinasi tekanan kurs dan capital outflow atau aliran dana investor asing yang keluar. “Selama rupiah masih lemah, IHSG cenderung fluktuatif dan rawan pullback jangka pendek,” ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya