IMF Prediksi Dunia akan Defisit Minyak

IMF menyebutkan meski perang berhenti cepat di Iran, dunia juga masih hadapi kekurangan minyak pada 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 April 2026, 20:30 WIB
Dana Moneter Internasional atau the International Monetary Fund (IMF) memprediksi dunia akan mengalami kekurangan minyak pada 2026. (Foto: AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau the International Monetary Fund (IMF) memprediksi dunia akan mengalami kekurangan minyak pada 2026. Hal ini bahkan jika perang antara Amerika Serikat (AS), Israel dengan Iran diselesaikan pekan ini. IMF menjadi lembaga keuangan terbaru yang mengingatkan dampak dari konflik di Iran.

"Jika semuanya berhenti malam ini, dan mulai besok, kita bergerak menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Kita masih akan menghadapi kekurangan minyak untuk tahun ini,” Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas kepada CNN, dikutip Rabu (15/4/2026).

Sementara itu, Badan Energi Internasional atau the International Energy Agency (IEA) pada Selasa pekan ini dalam laporan pasar minyak terbarunya, pasokan minyak global anjlok 10,1 juta barel per hari pada Maret. “Gangguan terbesar dalam sejarah,” tulis IEA.

IEA meski tidak memperkirakan kekurangan minyak tahun ini, tetapi menurunkan perkiraan pasokan minyak global secara tajam yang sekarang diperkirakan melebihi permintaan hanya sebesar 441.000 barel per hari dibandingkan 2,4 juta barel per hari dalam laporan Maret.

Menurut IMF, angka-angka itu menyoroti perubahan dramatis dalam prospek pasar energi global dan perekonomian yang lebih luas sebagai akibat dari perang. Sebelum konflik, perekonomian global berkinerja lebih baik dari yang diharapkan, dengan pertumbuhan yang diperkirakan direvisi naik tahun ini.

“Ada banyak momentum dalam perekonomian global,” ujar Gourinchas.

Ia menambahkan, hal itu mulai dari berkurangnya ketidakpastian atas tarif AS dan ledakan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, sejak perang dimulai, prospek global tiba-tiba menjadi suram demikian disebutkan dalam laporan World Economic Outlook terbaru dari IMF.

“Konflik itu masih dapat menyebabkan krisis energi global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ia menambahkan.

 

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Seorang wanita berjalan ke konter tiket Southwest di Bandara Internasional Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Jae C. Hong)

IMF kini memprediksi pertumbuhan global sebesar 3,1% pada 2026, turun 0,2% dari perkiraan Januari. Revisi moderat ini mengasumsikan perang akan relatif singkat. Inflasi global juga akan meningkat menjadi 4,4% pada 2026.

Namun, IMF juga menguraikan dua skenario untuk konflik yang lebih lama. Dalam skenario lebih parah, di mana harga minyak dan gas alam melonjak 100-200% pada Januari dan tetap pada level itu hingga 2027. Selain itu, pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 2% pada 2026.

“Itu akan sama dengan hampir terjadi resesi global yang didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi di bawah 2%, yang hanya terjadi empat kali sejak 1980,” tulis IMF.

Masa yang Sangat Berbahaya bagi Dunia

Prediksi IMF ini adalah yang terbaru dari semakin banyaknya ekonom dan organisasi, termasuk Asian Development Bank (ADB) dan the United Nations (UN) memperingatkan tentang dampak ekonomi dari perang yang berkepanjangan di Iran.

Peringatan-peringatan itu menjabarkan konsekuensi yang semakin nyata dari perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel termasuk di negara-negara sahabat atau sekutu yang sekarang menghadapi prospek kekacauan ekonomi.

Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, menghentikan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia, serta pasokan komoditas lain yang cukup besar seperti gas alam, helium, dan pupuk. Beberapa negara mulai kekurangan pasokan bahan bakar, terutama di kawasan Asia-Pasifik, dan harga barang-barang yang terbuat dari produk minyak bumi mulai naik.

 

 

Menkeu Australia Mengingatkan Ekonomi Global Hadapi Masa Bahaya

Pada Rabu, Menteri Keuangan Australia Jim Chalmers memperingatkan ekonomi global menghadapi "masa yang sangat berbahaya" sebagai akibat dari perang di Timur Tengah.

“Australia berada dalam posisi yang lebih baik dan lebih siap daripada sejumlah negara lain, tetapi kita tidak akan terhindar dari dampak guncangan ekonomi yang sangat besar ini,” ujar dia kepada wartawan.

Pemerintah Australia memperkirakan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tahun ini. “Rakyat Australia tidak memilih keadaan perang di Timur Tengah ini, tetapi mereka membayar harga yang mahal untuk itu,” kata Chalmers.

Australia telah memangkas pajak bensin dan solar hingga setengahnya selama tiga bulan untuk memberikan sedikit keringanan kepada konsumen yang mengalami kesulitan keuangan akibat lonjakan harga bahan bakar.

Chalmers sedang melakukan perjalanan ke Washington untuk pertemuan menteri keuangan G20 minggu ini, serta pertemuan dengan IMF dan Bank Dunia. Ia mengatakan akan bergabung dengan pejabat lain dalam menyerukan diakhirinya perang.

“Dari sudut pandang ekonomi, berakhirnya perang tidak bisa datang terlalu cepat,” ujar dia.

Ia menambahkan,konsekuensinya akan dirasakan “untuk beberapa waktu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya