Jangan Terkecoh, Email Phishing Kini Makin Meyakinkan Berkat Bantuan AI

Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, mengungkapkan tren serangan siber saat ini telah berevolusi seiring dengan adopsi AI yang semakin masif.

oleh IskandarDiterbitkan 14 April 2026, 15:39 WIB
Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memacu efisiensi bisnis, namun di sisi lain, ia menjadi senjata baru yang mematikan bagi para peretas.

Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, mengungkapkan bahwa tren serangan siber saat ini telah berevolusi seiring dengan adopsi AI yang semakin masif di berbagai sektor TI.

"Sekarang semuanya serba AI. Namun pada saat yang sama, hal itu juga terjadi di kalangan para peretas. Mereka menggunakan AI bukan hanya untuk efisiensi kerja, tetapi untuk melacak dan mempertajam serangan siber mereka," ujar Clara dalam pemaparannya, Selasa (14/4/2026) di Jakarta.

Menurut Clara, AI bukan lagi sekadar teknologi eksperimental. Integrasi AI pada layanan populer seperti Google Drive dan Microsoft 365 membuktikan bahwa teknologi ini telah menjadi standar industri.

Namun, keterhubungan yang semakin erat antarperusahaan dan tumpukan data yang semakin besar justru membuka celah keamanan yang lebih luas bagi tim IT di balik layar.

Salah satu ancaman yang paling nyata adalah evolusi email phishing. Jika dulu phishing mudah dikenali karena bahasanya yang kaku, kini dengan bantuan AI, peretas bisa membuat pesan yang sangat personal dan meyakinkan. 

Bahaya Ransomware

Peretas kini mampu menganalisis profil korban, mengetahui proyek yang sedang dikerjakan, hingga memantau jam operasional sistem perusahaan untuk menentukan waktu serangan yang paling tidak terdeteksi.

"Serangan tidak lagi terjadi secara mendadak. Peretas semakin pintar; mereka menanam 'benih' terlebih dahulu dan menyerang di momen paling kritis, misalnya saat penutupan kuartal atau periode penjualan tinggi. Tujuannya agar perusahaan merasa rentan dan terpaksa membayar tebusan demi kelancaran operasional," Clara memaparkan.

Menghadapi fenomena ini, ia menekankan bahwa perusahaan tidak boleh lagi mengandalkan cara-cara lama. Serangan ransomware bahkan kini tidak hanya mengincar data utama, tetapi juga mulai menargetkan data cadangan (backup).

Hal inilah yang mendorong Synology meluncurkan ActiveProtect Appliance, sebuah solusi perlindungan data yang dirancang khusus untuk menghadapi kecanggihan serangan di era AI.

 

Kekebalan Data Cadangan

Solusi ini menawarkan perlindungan terintegrasi yang mampu mengonsolidasi cadangan dari berbagai perangkat ke dalam satu sistem terpusat. Dengan manajemen satu dasbor, administrator TI dapat lebih efisien memantau keamanan tanpa harus mempelajari berbagai perangkat lunak yang berbeda.

Clara menegaskan, kunci pertahanan siber di masa depan adalah "kekebalan" data cadangan.

"Backup hanya berguna jika bisa dipulihkan. Di era AI, perusahaan membutuhkan solusi yang tidak hanya menyimpan data, tetapi juga memastikannya tidak dapat ditembus oleh manipulasi peretas," ia memungkaskan.

Infografis 10 Tips Amankan Data Pribadi dari Serangan Siber. (Liputan6.com/Abdillah)

Infografis 10 Tips Amankan Data Pribadi dari Serangan Siber. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya