Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (13/4/2026) menegaskan bahwa dirinya tidak akan meminta maaf atas kritik yang ia lontarkan kepada Paus Leo XIV.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada para wartawan di Gedung Putih saat ditanya apakah ia berutang permintaan maaf kepada paus pertama asal AS itu.
Advertisement
"Tidak, saya tidak akan," kata Trump seperti dikutip dari laporan The Hill.
"Karena Paus Leo mengatakan hal-hal yang keliru. Ia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran dan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya."
Trump mengunggah pernyataan panjang di platform media sosial Truth Social pada Minggu (12/4) yang berisi kritik terhadap Paus Leo IV, dengan menyebutnya "lemah dalam menangani kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri."
"Saya tidak menginginkan seorang paus yang menganggap Iran boleh memiliki senjata nuklir," tulisnya. "Saya tidak menginginkan seorang paus yang menganggap tindakan AS menyerang Venezuela sebagai sesuatu yang buruk."
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia "hanya menanggapi Paus Leo XIV", yang sebelumnya secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perang Iran.
"Jadi, kami sangat menjunjung tinggi hukum dan ketertiban," ujar Trump. "Dan dia tampaknya mempermasalahkan hal itu, jadi tidak ada yang perlu saya minta maaf. Dia salah."
Trump malah menyatakan bahwa dirinya lebih menyukai saudara laki-laki Paus Leo XIV, Louis Prevost, karena sosoknya adalah "pendukung kuat MAGA dan sosok yang hebat."
MAGA adalah singkatan dari "Make America Great Again", sebuah slogan politik yang dipopulerkan Trump dalam kampanyenya pada Pilpres AS 2016, yang bertujuan menekankan upaya mengembalikan kejayaan ekonomi, kekuatan global, dan nilai-nilai tradisional AS.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump mengatakan tentang saudara Paus Leo XIV, "Dia mengerti, sementara Leo tidak!"
Pada Sabtu (11/4), Paus Leo XIV mengecam apa yang ia sebut sebagai "khayalan akan kemahakuasaan" yang mendorong terjadinya perang Iran. Meskipun ia tidak menyebut nama Trump atau AS secara langsung dalam pernyataannya, pesan tersebut secara luas dipahami oleh publik dan media internasional sebagai respons ancaman eskalasi militer AS terhadap Iran.
Lantas, pada Senin, ia menanggapi kritik Trump dengan mengatakan bahwa ia tidak memiliki rasa takut terhadap pemerintahan Trump.