Kadin Percepat Implementasi FTA Indonesia-EAEU, Targetkan Perdagangan Naik Dua Kali Lipat

Kadin Indonesia targetkan nilai perdagangan dengan EAEU naik dua kali lipat dalam tiga tahun melalui implementasi FTA. Simak sektor unggulan yang jadi motor pen

oleh Tira SantiaDiterbitkan 11 April 2026, 15:15 WIB
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia Pahala Mansury. (Dok Bio Farma)

Liputan6.com, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Russia-Indonesia Workshop on Eurasian Economic Union (EAEU)-Indonesia Free Trade Agreement (FTA) in Practice: Rules, Procedures and Tips for Businesses.

Kegiatan ini menghadirkan Deputy Minister of Economic Development of the Russian Federation Vladimir Ilichev untuk membahas implementasi perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang telah ditandatangani Indonesia pada akhir 2025.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia Pahala Mansury mengatakan, workshop ini menjadi langkah konkret untuk mendorong pemanfaatan perjanjian tersebut oleh pelaku usaha nasional.

“Indonesia sudah menandatangani sebuah perjanjian FTA dengan anggota-anggota Eurasian Economic Community dan diharapkan perdagangan bisa meningkat sampai dengan 2 kali lipat dalam waktu 3 tahun,” ujar Pahala di Menara Kadin Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/4/2026).

Ia menyebutkan, nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara EAEU (Armenia, Belarusia, Kazakstan, Kirgistan, dan Rusia) saat ini berada di kisaran USD 5 miliar. Dengan adanya pengurangan tarif serta hambatan non-tarif, peningkatan perdagangan dinilai sangat memungkinkan dalam beberapa tahun ke depan.

Pahala menjelaskan terdapat tiga sektor utama yang berpotensi menjadi motor peningkatan perdagangan, yakni komoditas pangan, energi dan hilirisasi mineral, serta industri padat karya.

“Ada 3 sektor (yaitu) food related commodities seperti CPO, gandum, fertilizer. Sektor energi termasuk hilirisasi mineral, serta labor intensive industry seperti tekstil, garment, machinery dan electronics," ujarnya.

 

Masih Ada Kendala

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia Pahala Mansury. (dok: BTN)

Kendati demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam implementasi kerja sama tersebut, terutama pada sistem pembayaran dan infrastruktur keuangan antar-negara. Sebagai solusi, Pahala menilai perkembangan teknologi finansial dapat dimanfaatkan untuk menjembatani hambatan tersebut.

“Fintech seperti blockchain, digital asset, crypto bisa menjadi salah satu solusi,” katanya.

Selain itu, penguatan infrastruktur rantai pasok seperti logistik, pengiriman, dan penyimpanan juga dinilai penting untuk memastikan potensi kerja sama dapat terealisasi secara optimal.

 

Posisi Indonesia

Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI Djatmiko Bris Witjaksono yang hadir mewakili Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam nilai perdagangan dengan EAEU masih berada di bawah beberapa negara ASEAN.

“Indonesia saat ini berada pada posisi ketiga mitra dagang terbesar EAEU di ASEAN. Dari sisi investasi, Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan Tailan dan Vietnam dalam menarik aliran investasi dari kawasan tersebut. Thailand dan Vietnam masih memimpin kawasan dibandingkan Indonesia," kata Djatmiko.

Meski demikian, ia menilai perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU merupakan platform strategis untuk meningkatkan kemitraan ekonomi kedua kawasan, didukung oleh pasar domestik Indonesia yang besar, pertumbuhan kelas menengah, serta komitmen terhadap pengembangan industri dan reformasi regulasi.

"Ke depan, Indonesia siap untuk semakin memperkuat perannya dan memperdalam kerja sama dengan EAEU, dengan tujuan menjadi mitra strategis utama di ASEAN melalui peningkatan perdagangan," tutupnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya