Rupiah Kembali Melemah, Tertekan Data Inflasi AS

Rupiah melemah ke Rp 17.104 per dolar AS akibat tekanan eksternal dan data inflasi AS.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 April 2026, 17:45 WIB
Petugas valas menghitung mata uang dolar AS di DolarAsia Valas di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (16/4/2024). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (10/4/2026), seiring tekanan dari sentimen global yang masih kuat. Rupiah tercatat turun 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.104 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya Rp17.090 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu sikap pasar yang cenderung menahan diri menjelang rilis data inflasi AS.

“Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat,” katanya dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, data Consumer Price Index (CPI) AS diperkirakan mengalami kenaikan. Kondisi ini berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di Negeri Paman Sam, sekaligus mendorong penguatan dolar AS.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut memberikan sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

 

Intervensi BI Tahan Tekanan Rupiah

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Di tengah tekanan global, faktor domestik masih menjadi penopang stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi aktif dari Bank Indonesia disebut berperan penting menjaga pergerakan rupiah agar tidak melemah lebih dalam.

Muhammad Amru Syifa menyebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilisasi rupiah menjadi prioritas utama bank sentral.

“Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore,” kata Amru.

Langkah intervensi dilakukan melalui pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan ke level Rp17.112 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.082 per dolar AS.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah masih diperkirakan akan dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya