Tantangan Berat Transisi Penggunaan Truk Listrik di Indonesia

Transisi menuju kendaraan listrik saat ini terus dilakukan oleh pemerintah, baik untuk mobil penumpang ataupun komersial, seperti bus dan truk.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 10 April 2026, 18:17 WIB
Kalista dan Toyota Tsusho Mulai Uji Coba Truk Listrik di Indonesia (ist)

Liputan6.com, Jakarta - Transisi menuju kendaraan listrik saat ini terus dilakukan oleh pemerintah, baik untuk mobil penumpang ataupun komersial, seperti bus dan truk. Namun, untuk menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan ini, memang tak semudah membalikan telapak tangan.

Bicara penggunaan truk di Indonesia, tak bisa lepas dari industri logistik Tanah Air. Dan saat ini kondisinya adalah, penggunaan truk di dalam negeri masih didominasi oleh truk tua, yang bahkan umurnya lebih dari 20 tahun.

Dijelaskan Ketua Umum Asosiasi Penguasaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan, berdasarkan data yang dipaparkan, dari total 6,4 juta unit truk yang beroperasi di Indonesia, hanya sebagain kecil yang masuk kategori usia prima.

Bahkan, sekitar 65 persen truk telah melampaui usia 20 tahun, bahkan sisanya sudah beroperasi lebih dari empat dekade.

Fakta ini diperparah dengan temuan bahwa hanya 5 persen armada yang benar-benar memenuhi syarat laik operasi secara teknis.

"Kalau pemerintah ingin mendorong transisi ke truk listrik, maka arah kebijakan subsidi harus jelas. Jika subsidi BBM secara bertahap dialihkan untuk mendukung kendaraan listrik, termasuk truk, maka beban negara bisa lebih efisien dan transisi ke energi bersih bisa lebih cepat," jelas Gemilang, dalam seminar bertajuk 'Transformasi Logistik Indonesia, Peran Truk Listrik di Masa Depan Transportasi' di GIICOMVEC 2026, JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).

Lanjut Gemilang, jika pemerintah serius untuk beralih menggunakan truk listrik, pihak asosiasi penguasa truk ini sejatinya sangat setuju.

Bahkan, pilot project ini bisa menjadi salah satu strategi untuk meremajakan truk yang beroperasi di Indonesia.

"Jadi intinya, kami mendukung, kami optimistis, tapi membutuhkan keberpihakan kebijakan dan penyederhanaan regulasi agar implementasi bisa berjalan," tegasnya.

Sementara itu, menurut Pakar Otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, transisi menuju kendaraan listrik bukan sekedar pergantian mesin, melainkan perombakan total ekosistem logistik yang melibatkan manusia, teknologi dan infrastruktur secara bersamaan.

Hambatan Besar

Selain itu, Yanes juga mengingatkan untuk para pengusaha, jika hambatan terbesar transisi penggunaan truk listrik, justru terletak pada aspek sumber daya manusia dan bukan lagi hanya soal ketersediaan unit, atau biaya awal investasi.

"Sejujurnya transisi menuju truk listrik ini tidak mudah. Tentu banyak faktor yang harus dipelajari terutama driver (pengemudi/sopr), bukan hanya soal pengetahuan teknis, tapi juga faktor kebiasaan di balik kemudi," jelas Yannes.

Lanjutnya, mengoperasikan truk listrik memang harus mengubah paradigma, dari penggunaan mesin diesel menjadi motor listrik.

"Skeptisisme terhadap daya tahan truk listrik dibanding diesel konvensional masih tinggi. Strategi adopsi harus mengintegrasikan program pelatihan sosiokultural yang mengubah persepsi pengemudi, EV adalah alat kerja yang lebih aman, suportif, dan efisien," tukasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya