Liputan6.com, Jakarta - Ketika sebagian aparatur sipil negara (ASN) mulai menjalani kebijakan work from home (WFH), rutinitas berbeda tetap dijalani Ribka (bukan nama sebenarnya). Dokter umum di salah satu Puskesmas di wilayah Jakarta Timur itu justru tetap berdiri di garis depan pelayanan kesehatan, memastikan warga tetap mendapat layanan medis.
Pagi itu, aktivitas di Puskesmas sudah dimulai seperti biasa. Pasien datang silih berganti, sebagian dengan keluhan ringan, sebagian lainnya membutuhkan penanganan lebih lanjut
Advertisement
Di antara antrean itu, Ribka bergerak cepat dari satu pasien ke pasien lain, memeriksa, memberi resep, sekaligus menenangkan. Bagi dia, kebijakan WFH tidak berlaku bagi tenaga kesehatan. Justru di saat sebagian sektor bisa bekerja dari rumah, kebutuhan pelayanan kesehatan tetap harus berjalan langsung di lapangan.
“Pelayanan kesehatan itu tidak bisa ditunda. Pasien tetap datang, dan kami harus tetap ada,” ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di hari pertama pemberlakuan WFH bagi ASN, Jumat, (10/4/2026)
Ia menyadari, perannya sebagai dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama membuatnya menjadi garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat. Puskesmas menjadi tempat pertama warga mencari pertolongan, bahkan untuk kondisi darurat sekalipun.
Tantangan dan Resiko Terhadap Penyakit
Tak hanya melayani pasien, Ribka juga harus menjalankan tugas administratif pelayanan kesehatan, koordinasi dengan tim, hingga memastikan alur pelayanan berjalan lancar di tengah keterbatasan.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Risiko paparan penyakit, beban kerja yang tidak menentu, hingga tuntutan pelayanan yang cepat menjadi bagian dari keseharian. Namun, hal itu tak menyurutkan komitmennya.
“Ini sudah jadi tanggung jawab kami. Mau kondisi seperti apa pun, pelayanan harus tetap jalan,” kata dia.
Dia mengatakan sebagai dokter di Puskesmeas, ia dan sejumlah dokter lainnya harus memastikan pelayanan siap sebelum pasien pertama datang. Mulai dari mengecek kesiapan ruang periksa, berkoordinasi dengan perawat, hingga memastikan stok obat tersedia.
Tetap Siaga Layani Pasien Datang dengan Berbagai Keluhan
Dalam sehari, jumlah pasien yang datang bisa puluhan hingga ratusan orang. Keluhan yang ditangani pun beragam, dari penyakit ringan seperti flu dan demam, hingga kasus yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
Tak hanya itu, ia juga harus menjalankan tugas administratif, mengisi rekam medis, laporan harian, hingga koordinasi program kesehatan masyarakat seperti imunisasi dan pencegahan penyakit.
"Kadang orang lihatnya hanya saat kami memeriksa pasien. Padahal di belakang itu banyak hal yang juga harus dikerjakan,” kata Ibhas.
Dia mengaku harus selalu menjaga kewaspadaan, tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
"Risiko pasti ada, tapi itu sudah jadi bagian dari profesi. Yang penting kita tetap jaga prosedur dan melayani dengan maksimal,” ujarnya.
Meski tidak menikmati fleksibilitas WFH, Ribka tidak melihat pekerjaannya sebagai beban. Justru, ia memaknainya sebagai bentuk pengabdian.
"Ini sudah jadi tanggung jawab kami. Mau kondisi seperti apa pun, pelayanan harus tetap jalan,” ujarnya.