Kurs Rupiah Ditutup Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gencatan Senjata AS-Iran

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 78 poin atau 0,46 persen menjadi 17.090 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini

oleh Septian DenyDiterbitkan 09 April 2026, 18:00 WIB
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah  terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 78 poin atau 0,46 persen menjadi 17.090 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.012 per dolar AS.

Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia menilai pelemahan rupiah dipicu sikap menunggu pasar terkait kepastian kesepakatan gencatan senjata antara AS dengan Iran.

“Pasar masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis energi global,” ucapnya dikutip dari Antara, Kamis (9/4/2026).

Mengutip Anadolu, sebelumnya AS telah menerima proposal berisi 10 poin sebagai dasar yang dapat dijalankan untuk negosiasi dengan tujuan untuk mengakhiri perang.

Mengutip pernyataan dan laporan terkait, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) mengatakan proposal tersebut mencakup jaminan tidak adanya agresi terhadap Iran, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan hak Teheran untuk pengayaan uranium, serta pencabutan semua sanksi utama dan sekunder AS.

Selain itu, tercantum pula mengenai penghentian resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran, pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian permusuhan di semua garda depan, termasuk di Lebanon.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran menegaskan bahwa pembicaraan itu tidak berarti perang telah berakhir dan menekankan bahwa setiap kesepakatan akhir bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat Iran serta penyelesaian secara rinci.

Jalur aman melalui Selat Hormuz juga akan dijamin selama periode negosiasi melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

 

 

Gencatan Senjata

Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun, Zionis Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara besar-besaran di daerah Dahiyeh, sebelah selatan Beirut, Lebanon.

Tentara Israel sebelumnya menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dengan total wafat 254 orang.

Bahkan, sebagaimana dilaporkan Sputnik, Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (8/4) kemudian mengatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dan menyebut isu tersebut sebagai “kesalahpahaman”.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan kelompok Hizbullah. Trump menilai situasi di negara itu merupakan bagian dari “bentrokan terpisah.”

“Meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, pasar menilai dampaknya masih bersifat sementara dan belum mampu memberikan sentimen risk-on yang kuat,” ungkap Tiffani.

 

Ketidakpastian di Kawasan Asia Barat

Dia menegaskan bahwa tekanan utama berasal dari ketidakpastian di kawasan Asia Barat, khususnya terkait Selat Hormuz yang belum sepenuhnya kembali normal.

Kondisi ini dinilai menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah.

“Sementara itu, dari sisi domestik, sentimen terhadap rupiah masih cenderung terbatas. Beberapa faktor seperti melambatnya kinerja ekspor, tekanan terhadap cadangan devisa akibat intervensi, serta kekhawatiran terhadap fiskal dan defisit anggaran turut menahan penguatan rupiah,” kata dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.082 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.009 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya