Volatilitas Rupiah Jadi Tantangan Sekaligus Peluang Bagi Perbankan

Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap valuta asing (valas) sebagai dinamika yang perlu dihadapi dengan pendekatan hati-hati.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 April 2026, 17:30 WIB
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank OCBC NISP Tbk memandang tingginya volatilitas nilai tukar rupiah terhadap valuta asing (valas) sebagai dinamika yang perlu dihadapi dengan pendekatan hati-hati. Di tengah tekanan global, bank menegaskan fokus utamanya tetap pada menjaga posisi keuangan yang aman, baik bagi perusahaan maupun nasabah.

Direktur Johannes Husin menyatakan, kondisi fluktuasi valas yang tinggi tidak serta-merta dianggap sebagai ancaman semata. Menurutnya, hal terpenting adalah memastikan eksposur bank dan nasabah tetap terkelola dengan baik di tengah ketidakpastian pasar. 

“Mengenai apakah dengan volatilitas valas terhadap rupiah yang sangat tinggi ini menjadi ancaman atau kesempatan. Buat kami jelas tugas utama adalah memastikan posisi rasa baik dan aman semua. Karena kan pertanyaan awalnya juga berangkat dari exposure kita dan nasabah juga punya exposure,” kata Johannes dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Paparan Publik, di OCBC Tower, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya terus berupaya membantu nasabah dalam memitigasi risiko akibat gejolak nilai tukar. Upaya ini dilakukan dengan memastikan setiap risiko yang muncul dapat diidentifikasi dan dikelola secara terukur.

“Kita mau memastikan bahwa gejolak ini kita bisa membantu nasabah kita untuk memitigasi. Memastikan bahwa risiko-risiko mereka bisa kita bantu,” ujarnya.

Selain itu, bank juga melihat adanya peluang dari kondisi tersebut, khususnya dalam hal diversifikasi portofolio nasabah. Dengan strategi yang tepat, volatilitas valas justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas pilihan investasi.

 

 

 

Volatilitas Jadi Momentum Diversifikasi

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menurut Johannes, peluang dari pergerakan valas yang dinamis dapat dimanfaatkan nasabah untuk melakukan diversifikasi portofolio. Dalam kondisi tertentu, instrumen berbasis valas bisa menjadi alternatif untuk menjaga nilai aset.

“Mengenai opportunity, kami lihat itu sebagai sesuatu yang kalau misalnya memang ada kesempatan dimana itu adalah bisa memberikan nasabah untuk mendiversify portfolio mereka itu ya memang sesuatu yang sangat mudah. Itu kita lihat kita bantu juga,” jelasnya.

OCBC NISP pun berperan aktif dalam memberikan solusi kepada nasabah agar dapat mengambil peluang tersebut secara optimal. Bank membantu nasabah memahami risiko sekaligus potensi keuntungan dari instrumen valas.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa langkah tersebut tetap harus dilakukan secara terukur dan sesuai dengan profil risiko masing-masing nasabah. Pendekatan yang disiplin menjadi kunci dalam menghadapi pasar yang fluktuatif.

Strategi Mitigasi Risiko Diperkuat

Dalam menghadapi tingginya volatilitas rupiah, OCBC NISP mengandalkan kerangka manajemen risiko (risk management framework) yang telah dibangun sejak lama. Sistem ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas operasional bank.

Johannes menuturkan, berbagai langkah seperti stress test rutin dilakukan untuk mengukur ketahanan bank terhadap berbagai skenario pasar. Selain itu, aktivitas bisnis juga dibatasi oleh limit yang telah ditentukan manajemen.

“Mengenai cara memitigasi sekali lagi kita punya risk management framework sudah kita bangun sudah sejak lama, stress test kita selalu ada,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya