Harga Kedelai di Jakarta Tembus Rp 20 Ribu, Pemprov DKI Imbau Warga Lirik Urban Farming

Harga kedelai di DKI Jakarta melonjak signifikan hingga menembus Rp20 ribu per kilogram di pasar tradisional.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 08 April 2026, 17:40 WIB
Fluktuasi harga kedelai yang terlalu cepat menyulitkan perajin dalam mengatur produksi dan berpotensi memicu keluhan konsumen. Tampak dalam foto, seorang pekerja membilas kedelai di pabrik tahu, Surabaya, Jawa Timur pada Kamis 5 Februari 2026. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga kedelai di DKI Jakarta melonjak signifikan hingga menembus Rp20 ribu per kilogram di pasar tradisional. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun mengimbau masyarakat mulai melirik urban farming sebagai salah satu upaya menjaga ketahanan pangan rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, kenaikan harga terjadi baik di tingkat pengrajin tahu dan tempe maupun pedagang pasar.

Dia merinci, harga kedelai mengalami kenaikan bervariatif mulai Rp10.500-Rp11.000 per/kg pada tingkat pengrajin tahu dan tempe dari yang sebelumnya Rp 8.000-Rp 8.600 per/kg.

"Harga pada tingkat pedagang pasar tradisional Rp15.000-Rp20.000 per/kg dari harga sebelumnya berkisar Rp 13.000-Rp 18.000 per/kg," kata Hasudungan dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan harga kedelai dipicu oleh dinamika global, terutama dari negara eksportir utama kedelai Jakarta. Selain itu, faktor melemahnya nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi.

"Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika secara global terkait gejolak negara eksportir kedelai terbesar Amerika Serikat dan nilai tukar rupiah yang menurun," ucap Hasudungan.

Kenaikan Terjadi Sejak Ramadan

Lonjakan harga bahan baku pembuatan tahu ini berdampak langsung pada biaya produksi dan keuntungan para perajin. Tampak dalam foto, seorang pekerja menyiapkan kedelai di pabrik tahu, Surabaya, Jawa Timur pada Kamis 5 Februari 2026. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Hasudungan menyebut, berdasarkan pantauan lapangan oleh tim enumerator dan petugas statistik pertanian DKI Jakarta, kenaikan harga kedelai mulai mencuat sejak Ramadan pada Februari 2026 dan terus berfluktuasi hingga saat ini.

Dia juga mengungkapkan bahwa pasokan kedelai di Jakarta masih sangat bergantung pada impor.

"Komoditas kedelai di DKI Jakarta hampir seluruhnya merupakan produk import dan sebagian kecil merupakan pasokan daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," kata Hasudungan.

Menurut dia, kedelai menjadi bahan baku utama bagi pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (PUSKOPTI) DKI Jakarta dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO).

Oleh sebab itu, sebagai langkah mitigasi, Pemprov DKI mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan serta memanfaatkan lahan terbatas melalui urban farming.

"Warga DKI Jakarta dapat juga melakukan kegiatan urban farming untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri dirumah masing-masing," jelas Hasudungan.

Pasokan Terkendali

Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo mengatakan, berdasarkan pemantauan anggota Gakoptindo di berbagai daerah, harga kedelai memang mengalami dinamika.

"Namun tidak terjadi lonjakan ekstrem sebagaimana diberitakan," jelas dia kepada Liputan6.com.

Selain itu, kondisi pasokan masih dalam keadaan terkendali untuk mendukung kegiatan produksi anggota koperasi.

Untuk diketahui, saat ini harga kedelai berada di kisaran Rp 10.800 hingga Rp 11.000 per kilogram.

 

Catatan Redaksi: Artikel ini diperbarui dengan penambahan informasi penting serta data terbaru untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

Infografis Biang Kerok Harga Kedelai Melambung Tinggi. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya