Ini Beban Baru Negara Berkembang Jika Konflik Timur Tengah Berakhir

World Bank menilai jika konflik di kawasan Timur Tengah berakhir berpotensi menciptakan “pajak pembangunan” bagi negara-negara berkembang

oleh Tira SantiaDiterbitkan 08 April 2026, 22:00 WIB
Kepulan asap tebal membubung dari fasilitas penyimpanan minyak yang terkena serangan AS-Israel pada Sabtu 7 Maret 2026 malam di Teheran, Iran, Minggu 8 Maret 2026. Militer Israel kembali melancarkan serangan udara yang menargetkan sejumlah fasilitas infrastruktur energi di Iran, khususnya di wilayah Teheran dan sekitarnya. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Jakarta - World Bank menilai jika konflik di kawasan Timur Tengah berakhir berpotensi menciptakan “pajak pembangunan” bagi negara-negara berkembang, yakni tambahan beban ekonomi yang harus ditanggung akibat faktor eksternal seperti lonjakan harga energi.

"Kalau konflik ini berakhir, kita melihat bahwa akan ada pajak pembangunan pada semua negara berkembang, tapi semoga intensitasnya tidak setinggi yang kita khawatirkan," kata Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik World Bank, Aaditya Mattoo, dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Terkini Asia Timur dan Pasifik, secara daring, Rabu (8/4/2026).

Namun demikian, Aaditya Mattoo berharap dampak tersebut tidak akan sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan. Menurutnya, meski terdapat harapan konflik dapat segera berakhir, dampak yang ditimbulkan dinilai tidak akan sepenuhnya hilang dalam waktu singkat.

"Jadi, ini tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang sekedar sementara, seperti yang saya sampaikan tadi, genjatan senjata yang terjadi tidak meyakinkan dari kacamata kepastian," ujarnya.

Kendati demikian, konflik di Timur Tengah telah berujung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak luas ke berbagai sektor ekonomi. Tidak hanya itu, gangguan terhadap kapasitas produksi minyak bumi dan gas turut memperparah tekanan biaya secara global.

 

Kawasan Asia Timur dan Pasifik Hadapi Tekanan Berat

Deretan gedung bertingkat terlihat dari jendela gedung pencakar langit di kawasan Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan di kisaran 5,2%, berada di bawah target APBN 2020 sebesar 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

World Bank atau Bank Dunia memperkirakan Kawasan Asia Timur dan Pasifik menghadapi tekanan berat dalam beberapa waktu ke depan, seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan lonjakan harga energi.

Mattoo, mengatakan kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut, terutama menjelang 2026.

"Seperti yang Anda lihat, sebagian besar negara di kawasan ini akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat pada tahun 2026 dan telah terjadi pada tahun 2025," ujarnya,

Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap perdagangan dan energi membuat kawasan ini sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Situasi global yang tidak menentu pun memperburuk prospek ekonomi secara keseluruhan.

Mattoo menyebut salah satu faktor utama yang membebani pertumbuhan adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan tersebut, tetapi juga memicu efek domino terhadap ekonomi global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya