Liputan6.com, Jakarta - World Bank menilai jika konflik di kawasan Timur Tengah berakhir berpotensi menciptakan “pajak pembangunan” bagi negara-negara berkembang, yakni tambahan beban ekonomi yang harus ditanggung akibat faktor eksternal seperti lonjakan harga energi.
"Kalau konflik ini berakhir, kita melihat bahwa akan ada pajak pembangunan pada semua negara berkembang, tapi semoga intensitasnya tidak setinggi yang kita khawatirkan," kata Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik World Bank, Aaditya Mattoo, dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Terkini Asia Timur dan Pasifik, secara daring, Rabu (8/4/2026).
Advertisement
Namun demikian, Aaditya Mattoo berharap dampak tersebut tidak akan sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan. Menurutnya, meski terdapat harapan konflik dapat segera berakhir, dampak yang ditimbulkan dinilai tidak akan sepenuhnya hilang dalam waktu singkat.
"Jadi, ini tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang sekedar sementara, seperti yang saya sampaikan tadi, genjatan senjata yang terjadi tidak meyakinkan dari kacamata kepastian," ujarnya.
Kendati demikian, konflik di Timur Tengah telah berujung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak luas ke berbagai sektor ekonomi. Tidak hanya itu, gangguan terhadap kapasitas produksi minyak bumi dan gas turut memperparah tekanan biaya secara global.
Kawasan Asia Timur dan Pasifik Hadapi Tekanan Berat
World Bank atau Bank Dunia memperkirakan Kawasan Asia Timur dan Pasifik menghadapi tekanan berat dalam beberapa waktu ke depan, seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan lonjakan harga energi.
Mattoo, mengatakan kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut, terutama menjelang 2026.
"Seperti yang Anda lihat, sebagian besar negara di kawasan ini akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat pada tahun 2026 dan telah terjadi pada tahun 2025," ujarnya,
Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap perdagangan dan energi membuat kawasan ini sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Situasi global yang tidak menentu pun memperburuk prospek ekonomi secara keseluruhan.
Mattoo menyebut salah satu faktor utama yang membebani pertumbuhan adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan tersebut, tetapi juga memicu efek domino terhadap ekonomi global.