Prabowo Bakal Umumkan Naik atau Tidaknya Ongkos Haji Rabu Sore 8 April 2026 Ini

Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan naik atau tidaknya ongkos haji 2026 pada Rabu (8/4/2026).

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 08 April 2026, 14:45 WIB
Suasana ibadah tawaf jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia di Masjidil Haram, Makkah. (FOTO: MCH PPIH ARAB SAUDI 2023)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan naik atau tidaknya ongkos haji 2026 pada Rabu (8/4/2026). Menteri Haji dan Umrah RI M Irfan Yusuf mengatakan, pihaknya sudah mengkaji menghitung biaya-biaya terdampak kenaikan avtur.

"Tim dari yang di bawah koordinasi Menko Perekonomian sudah melakukan berbagai perhitungan-perhitungan dan insyaallah nanti sore akan diumumkan langsung oleh Presiden," ujar Irfan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku pihaknya sebenarnya telah mengantongi angka terkait ongkos penerbangan haji 2026, namun untuk pengumuman resmi menunggu pengumuman resmi dari Presiden.

"Terkait nilainya itu sudah ada, tapi nanti akan langsung mungkin disampaikan oleh Presiden. Kami sudah dapat nilainya, kami sudah hitungkan, akan kami sampaikan kepada Presiden," kata Dahnil.

Sebelumnya, Irfan Yusuf mengungkapkan, ada potensi kenaikan biaya haji tahun ini akibat naiknya harga avtur dan kondisi geopolitik timur tengah.

"Kenaikan harga avtur global, serta pelemahannya nilai tukar rupiah, biaya tersebut meningkat signifikan. Kondisi politik juga memungkinkan lakukan rerouting penerbangan untuk menghindari wilayah udara konflik," kata Irfan dalam rapat Komisi VIII DPR, Rabu (8/4/2026).

Ia menyebut, adanya perubahan rute penerbangan membuat memperbesar beban biaya yang harus ditanggung jamaah.

"Garuda mengusulkan tambahan 7,9 juta per jemaah. Sedangkan Saudi Airline mengusulkan tambahan sebesar 480 US dollar per jemaah," jelas Irfan.

 

Biaya Haji 2026 Dikabarkan Naik, Presiden Minta Tak Dibebankan ke Jemaah

Kementerian Agama Republik Indonesia rutin mengadakan manasik haji untuk calon jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah M. Irfan Yusuf mengungkapkan, ada potensi kenaikan biaya haji tahun ini akibat naiknya harga avtur dan konflik di Timur Tengah.

"Kenaikan harga avtur global, serta pelemahannya nilai tukar rupiah, biaya tersebut meningkat signifikan. Kondisi politik juga memungkinkan lakukan rerouting penerbangan untuk menghindari wilayah udara konflik," kata Irfan dalam rapat Komisi VIII DPR, Rabu (8/4/2026).

Dia menyebut, adanya perubahan rute penerbangan membuat beban biaya membengkak dan harus ditanggung jemaah.

"Garuda mengusulkan tambahan 7,9 juta per jemaah," kata dia.

"Sedangkan Saudi Airlines mengusulkan tambahan sebesar 480 US dollar per jemaah," sambungnya.

 

Prabowo Minta Tidak Dibebankan ke Jemaah Haji

Jemaah haji Indonesia kloter 2 Embarkasi Solo (SOC-02) bersiap meninggalkan hotel di Makkah menuju Bandara AMAA Madinah untuk dipulangkan ke Tanah Air. (Foto: Humas Kemenag)

Sementara, kata Irfan, apabila menggunakan skenario tanpa perubahan rute, biaya haji diproyeksikan tetap meningkat.

"Kondisi ini menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini berada dalam tekanan faktor global yang semakin kompleks sehingga diperlukan penguatan efisiensi, koordinasi, dan mitigasi untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan haji," ungkapnya.

Meski demikian, Irfan menyebut Presiden Prabowo telah memerintahkan kenaikan biaya tidak boleh dibebankan kepada jemaah.

"Intinya Presiden Prabowo berharap apapun yang terjadi, kenaikan-kenaikan, jika terjadi kenaikan beliau minta tidak dibebankan kepada jemaah haji kita. Itu adalah komitmen dari Presiden Prabowo yang sudah dimintakan kepada kami dengan tim untuk bisa menindaklanjuti dan menghitung berapa sebenarnya kebutuhan yang diperlukan," pungkasnya.

Infografis Perbedaan Rukun dan Wajib Haji dengan Rukun Umrah. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya