Perokok Beralih ke Rokok Elektrik, Ini Penjelasan Soal Risiko Lebih Rendah

Perokok dewasa mulai beralih ke rokok elektronik yang dinilai berisiko lebih rendah, namun tetap perlu digunakan secara bertanggung jawab.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 07 April 2026, 09:34 WIB
Keberadaan rokok elektrik mendapat sorotan dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kesadaran akan kesehatan terus meningkat, termasuk di kalangan perokok dewasa yang mulai mencari alternatif untuk mengurangi dampak negatif merokok. Salah satu yang kini banyak digunakan adalah rokok elektronik atau vape, selain produk tembakau dipanaskan dan kantong nikotin.

Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok, Garindra Kartasasmita, menjelaskan perbedaan utama antara rokok konvensional dan rokok elektronik terletak pada proses penggunaannya.

“Perbedaan paling signifikan adalah prosesnya. Rokok itu dibakar, sedangkan rokok elektronik melalui sistem pemanasan. Pembakaran itulah yang membuat risikonya sangat berbeda,” ujar Garindra dalam diskusi publik di Tangerang Selatan, Banten, dikutip Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, rokok elektronik bekerja dengan memanaskan cairan yang mengandung ekstrak nikotin menjadi uap. Metode ini dinilai memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang melalui proses pembakaran.

Meski demikian, Garindra menekankan pentingnya penggunaan yang bertanggung jawab, termasuk memperhatikan lingkungan sekitar.

“Sebagai pengguna produk tembakau alternatif, kita harus tahu tempat dan waktu. Jangan sampai uap itu mengganggu orang lain. Minimal kalau ngehembusin uapnya itu ke atas, dan kalau di tempat sempit atau dekat orang lain, sebaiknya minta izin,” tambahnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan perbedaan profil risiko antara rokok elektronik dan rokok konvensional. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa produk tembakau alternatif memiliki kadar toksikan lebih rendah karena tidak melalui proses pembakaran, berdasarkan standar World Health Organization (WHO).

 

Perbaiki Kualitas Udara

Temuan tersebut sejalan dengan studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi terhadap lebih dari 5.600 perokok dewasa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa peralihan dari rokok konvensional ke rokok elektronik selama 30 hari dapat memberikan perbaikan jangka pendek pada fungsi pernapasan, dengan hasil yang serupa dengan mereka yang berhenti merokok sepenuhnya.

Sementara itu, Mamet, mantan perokok yang kini menggunakan rokok elektronik sejak 2019, mengaku merasakan perubahan signifikan setelah beralih.

“Pertama soal penampilan, gigi saya sekarang tidak kuning lagi seperti dulu saat masih merokok. Bau badan dan baju juga jadi lebih bersih,” ungkapnya.

Ia menyebut alasan beralih juga berkaitan dengan kenyamanan orang di sekitarnya, termasuk menjaga kualitas udara di rumah. Namun, ia mengakui proses transisi tidak selalu mudah.

“Paling susah itu biasanya setelah makan atau saat sedang pusing. Tapi untungnya di vape banyak varian rasa, jadi bisa membantu sebagai pengganti,” katanya.

Mamet juga mengingatkan pentingnya sikap bertanggung jawab, termasuk tidak menggunakan vape di area terlarang serta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang limbah seperti cartridge atau botol liquid sembarangan.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi terkait produk tembakau alternatif.

“Jangan telan informasi mentah-mentah atau sekadar percaya dari sumber yang belum tervalidasi,” tegasnya.

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya