Liputan6.com, Phnom Penh - Magawa, seekor tikus raksasa Afrika pendeteksi ranjau darat yang pernah dianugerahi medali emas atas aksi heroiknya, diabadikan sebagai patung. Ini merupakan kali pertama di dunia untuk tikus pendeteksi ranjau.
Patung yang diukir dari batu lokal oleh para seniman itu diresmikan di Siem Reap, Kamboja, pada Jumat (3/4/2026), menjelang Hari Internasional Kesadaran Ranjau yang diperingati setiap 4 April.
Advertisement
Melansir laporan BBC, Magawa hidup hingga usia delapan tahun. Selama lima tahun kariernya yang dimulai pada 2016, ia berhasil menemukan lebih dari 100 ranjau darat dan bahan peledak lainnya di Kamboja.
Menurut United Nations, ranjau darat masih menjadi ancaman serius di Kamboja. Lebih dari satu juta orang masih tinggal dan bekerja di wilayah yang terkontaminasi ranjau serta bahan peledak yang belum meledak.
Magawa dilatih oleh lembaga amal asal Belgia, APOPO, sebelum dipindahkan ke Kamboja untuk memulai tugasnya sebagai pendeteksi ranjau pada 2016. Dengan indera penciumannya yang sangat tajam, ia mampu mendeteksi senyawa kimia yang terdapat dalam bahan peledak. Setelah menemukan indikasi ranjau, Magawa akan memberi tanda kepada pawang manusia agar ranjau tersebut dapat diamankan dan dimusnahkan.
Sepanjang kariernya, Magawa berhasil membersihkan lebih dari 141.000 meter persegi lahan—setara dengan sekitar 20 lapangan sepak bola. Ia juga mampu memeriksa area seluas lapangan tenis hanya dalam waktu 20 menit.
Pada 2020, Magawa dianugerahi PDSA Gold Medal, penghargaan tertinggi untuk hewan yang setara dengan George Cross—penghargaan keberanian sipil di Inggris—atas pengabdiannya dalam menyelamatkan nyawa. Ia menjadi tikus pertama yang menerima penghargaan tersebut sejak pertama kali diberikan.
Kenapa Tikus?
Setelah memasuki masa pensiun karena usia lanjut dan penurunan kemampuan fisik, Magawa mati pada tahun 2022.
Manajer Program Kamboja dari APOPO, Michael Raine, menyatakan bahwa monumen ini menjadi pengingat bagi komunitas internasional bahwa pekerjaan pembersihan ranjau di Kamboja masih belum selesai. Ia juga menyebutkan bahwa Kamboja menargetkan bebas ranjau pada tahun 2030.
APOPO sendiri telah melatih tikus-tikus yang dikenal sebagai HeroRATS sejak tahun 1990-an. Karena ukuran tubuhnya yang kecil, tikus-tikus ini tidak cukup berat untuk memicu ledakan ranjau, sehingga lebih aman dibandingkan manusia.
Selain mendeteksi ranjau, HeroRATS mampu pula mendeteksi penyakit tuberkulosis dengan lebih cepat dibandingkan metode mikroskopi konvensional di laboratorium. Mereka bahkan telah dilatih untuk membantu mencegah perdagangan satwa liar ilegal di Tanzania.
Sementara itu, tikus lain yang juga dilatih APOPO, bernama Ronin, mencetak rekor dunia baru pada 2025 setelah menemukan 109 ranjau darat dan 15 bahan peledak yang belum meledak sejak 2021. Pencapaian Ronin di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Magawa.