Nestapa Nelayan Kepulauan Sangihe: Tangkapan Melimpah, Tapi Bingung Jual ke Mana

Potensi perikanan yang melimpah di Tatoareng, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, ternyata belum berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan di sana.

oleh Yoseph IkanubunDiterbitkan 06 April 2026, 10:23 WIB
Potensi perikanan yang melimpah di Tatoareng, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, ternyata belum berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan di sana. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Liputan6.com, Jakarta - Potensi perikanan yang melimpah di Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut) ternyata belum berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayannya. Hingga kini, para nelayan tradisional di wilayah tersebut masih terjebak dalam masalah klasik: ketidakpastian pasar pasca-panen.

Sejumlah nelayan menyampaikan hal ini saat kegiatan Sosialisasi dan Penandatanganan Ikrar Kemitraan Kepala Desa/Lurah Pesisir (Coastal 500) untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 14 di Kabupaten Kepulauan Sangihe, belum lama ini.

Kapitalau atau Kepala Desa Mahengetang, Apner Mananggel, menuturkan bahwa melimpahnya hasil laut seringkali justru menjadi beban bagi nelayan karena minimnya akses pemasaran.

"Masalah perikanan di Sangihe adalah ketika selesai melakukan penangkapan, kami bingung menjual atau memasarkan hasil tangkapan itu ke mana," ujar Apner di hadapan jajaran Pemkab Kepulauan Sangihe dan perwakilan Rare Indonesia, dikutip SEnin (6/4/2026).

Selain akses pasar, masyarakat mendesak Pemkab Kepulauan Sangihe untuk meningkatkan kapasitas penampungan ikan di Dagho. Penguatan infrastruktur ini dinilai krusial agar mampu menyerap hasil tangkapan nelayan lokal secara maksimal.

Tak hanya sektor ekonomi, Apner juga menyoroti beratnya beban pemerintah desa dalam menjaga kawasan konservasi. Selama ini, pengawasan dilakukan secara mandiri oleh warga desa dengan keterbatasan dana.

"Untuk menganggarkan kontribusi bagi orang yang mau melakukan pengawasan konservasi itu sangat sulit. Kami memohon kepada Dinas Kelautan dan Bapelitbangda untuk berperan aktif memberikan solusi alternatif yang tepat," ujarnya.

 

Langkah Pejabat Terkait

Penyelam di Gunung Banua Wuhu, gunung api bawah laut di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. (Dok: IG @ucilaatjin https://www.instagram.com/p/CL0_idWBbBJ/?igsh=MXF6amlrbGxoeDE2NQ%3D%3D)

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bappelitbang Daerah Kabupaten Sangihe, Ronald Izaak menyatakan kesiapannya untuk menjembatani aspirasi nelayan Tatoareng ke tingkat pusat. Mengingat adanya keterbatasan anggaran daerah, koordinasi langsung dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadi langkah strategis.

Ronald pun menginstruksikan Dinas Perikanan untuk segera melakukan pendataan kebutuhan di lapangan.

”Tolong Kepala Dinas, didata segala kebutuhan, nanti akan disiapkan jaringan berupa Starlink di sana agar difasilitasi untuk melaksanakan zoom bersama pihak Kementerian," ujarnya.

Langkah ini diharapkan dapat membuka jalan bagi masuknya investasi dan perbaikan sistem pemasaran, sehingga alat tangkap tradisional yang digunakan masyarakat tetap mampu menopang ekonomi keluarga secara berkelanjutan.

Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe Michael Tungari beserta jajaran, 77 kepala desa, 13 lurah, dan 14 camat dari seluruh wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya