Liputan6.com, Washington D.C - Liputan6.com mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya terkait insiden jatuhnya jet tempur Amerika Serikat di wilayah Iran. Pesawat yang jatuh dipastikan bukan F-35, melainkan F-15E Strike Eagle, jet tempur dua kursi yang diawaki pilot dan petugas sistem senjata.
Informasi ini diperoleh dari pejabat Amerika Serikat yang mengonfirmasi jenis pesawat dalam insiden tersebut, demikian dikutip dari laman CBC, Sabtu (4/4/2026).
Advertisement
Dalam perkembangan terbaru, dari dua awak yang sempat melontarkan diri, satu orang telah ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara satu awak lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian di wilayah Iran.
Belum ada keterangan resmi mengenai identitas maupun kondisi medis awak yang telah ditemukan. Otoritas AS juga belum merinci apakah yang ditemukan adalah pilot atau petugas sistem senjata.
Pentagon dan Komando Pusat AS sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi terkait detail insiden maupun operasi penyelamatan yang sedang berlangsung.
Operasi Penyelamatan Berlangsung di Tengah Risiko Tinggi
Upaya pencarian dan penyelamatan berlangsung dalam situasi yang sangat berisiko, mengingat lokasi jatuhnya pesawat berada di wilayah musuh. Dua helikopter Black Hawk yang dikerahkan dalam misi tersebut dilaporkan sempat mendapat tembakan dari pihak Iran, meski berhasil keluar dengan selamat.
Di sisi lain, otoritas Iran juga dilaporkan mengerahkan aparat dan warga sipil untuk mencari awak pesawat yang jatuh. Situasi ini semakin memperumit operasi penyelamatan yang dilakukan oleh militer AS.
Sebelumnya, Liputan6.com menyebut pesawat yang jatuh adalah F-35. Redaksi meralat informasi tersebut setelah adanya konfirmasi terbaru dari sumber resmi.
Perbedaan jenis pesawat ini penting, mengingat F-15E Strike Eagle merupakan jet tempur dengan dua awak, berbeda dengan F-35 yang hanya diawaki satu pilot.
Dampak terhadap Konflik
Insiden ini menjadi salah satu perkembangan signifikan dalam konflik yang telah berlangsung hampir lima pekan antara AS dan Iran. Selain meningkatkan tensi militer, kejadian ini juga berpotensi menambah tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat, terutama terkait keselamatan personel militernya di wilayah konflik.
Hingga kini, operasi pencarian terhadap satu awak yang masih hilang terus dilakukan, dengan tantangan besar di lapangan serta risiko eskalasi yang masih tinggi.