Tren Belanja Cokelat Paskah 2026: Lebih Kecil tapi Premium

Ada tiga tren belanja cokelat Paskah yang disorot dalam perayaan tahun ini.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 03 April 2026, 13:00 WIB
Cokelat kelinci Paskah dipajang untuk dijual selama festival cokelat 'Festichoc' di Versoix dekat Jenewa, Swiss, pada 16 Maret 2024. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Cokelat Paskah masih jadi tradisi, tapi cara orang berbelanja produk ini terus berubah. Data dari platform pengiriman Foodora di beberapa negara Eropa menunjukkan tren baru: ukuran produk makin kecil, pilihan rasa makin beragam, dan sebagian besar pembelian terjadi di menit-menit terakhir.

Jika dulu orang cukup membeli satu telur cokelat besar, melansir laman Bakery and Snacks, Jumat (3/4/2026), kini mereka lebih suka mengisi keranjang dengan berbagai jenis camilan yang lebih variatif dan fleksibel. Cokelat tetap jadi favorit, tapi dominasinya mulai bergeser.

Cokelat susu masih mendominasi, meski porsinya perlahan menurun seiring meningkatnya minat pada cokelat putih dan hitam. Di Inggris, Ocado mencatat lonjakan signifikan pada pencarian cokelat hitam, serta produk beralkohol, seperti telur Paskah rasa Guinness dan truffle Champagne.

Konsumen tetap mengeluarkan uang dalam jumlah besar, tapi kini mereka melakukannya dengan lebih selektif, mempertimbangkan kualitas, variasi, dan pengalaman yang ditawarkan. Di sisi lain, inovasi produk semakin terasa di rak-rak ritel.

Produsen menggabungkan unsur nostalgia dengan sentuhan modern, mulai dari cokelat beralkohol, roti khas dengan rasa baru, hingga camilan unik dan dekorasi meja. Paskah tidak lagi sekadar mempertahankan tradisi, namun juga menjadi momen eksplorasi rasa dan gaya hidup.

Salah satu perubahan paling mencolok adalah pergeseran ke produk berukuran kecil. Produk cokelat 0–50 gram kini mendominasi penjualan, melampaui ukuran telur tradisional.

Sensitivitas Harga

Pembuat roti menghias kue cokelat Paskah berbentuk domba tradisional dengan masker di toko roti Schuerener Backparadies, Dortmund, Jerman, Rabu (8/4/2020). Pembuatan kue Paskah dengan masker bertepatan dengan pandemi virus corona COVID-19. (Ina FASSBENDER/AFP)

Konsumen cenderung membeli banyak item kecil daripada satu produk besar. Tren ini juga mencerminkan sensitivitas terhadap harga, karena ukuran kecil lebih terjangkau dan memberi fleksibilitas dalam berbelanja.

Selain itu, format ini mendorong pembelian impulsif, terutama menjelang perayaan saat orang melengkapi belanja mereka atau mencari tambahan hadiah kecil. Merek pun menyesuaikan strategi dengan menghadirkan produk yang mudah dibagikan, cocok dijadikan hadiah, dan menarik secara visual.

Bahkan, kategori tradisional ikut bertransformasi, dengan pendekatan premium dan artisanal agar tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat. Produk-produk edisi terbatas juga semakin banyak bermunculan untuk menciptakan rasa eksklusivitas. Dari sisi rasa, perubahan terjadi lebih cepat. 

 

Rasa Lebih Berani

Cokelat paskah berbentuk kelinci yang mengenakan masker di toko roti Baeckerei Bohnenblust di Bern, Swiss, Jumat (27/3/2020). Cokelat berbentuk kelinci dengan masker berwarna putih dari tepung gula ini dibuat di tengah pandemi virus corona yang sedang merebak di seluruh dunia. (STEFAN WERMUTH/AFP)

Konsumen kini tertarik pada rasa yang lebih berani dan kompleks, seperti cokelat dengan cabai, miso, pistachio, serta kombinasi rasa floral atau citrus. Minuman premium dan produk berbasis alkohol juga semakin populer, mencerminkan pergeseran ke pengalaman Paskah yang lebih dewasa dan berkelas.

Produk lintas kategori pun makin berkembang, menggabungkan permen, camilan, dan elemen pengalaman dalam satu paket. Banyak produk dirancang untuk dinikmati bersama, memperkuat peran Paskah sebagai momen kebersamaan keluarga.

Bahkan, dekorasi kini ikut menjadi bagian penting, menunjukkan bahwa pengalaman visual dan suasana perayaan juga diperhitungkan dalam keputusan belanja. Meski banyak hal berubah, satu kebiasaan tetap bertahan: belanja di menit terakhir.

Belanja Mepet Waktu

Pekerja menyelesaikan pembuatan cokelat paskah berbentuk kelinci yang mengenakan masker di toko roti Baeckerei Bohnenblust di Bern, Swiss, Jumat (27/3/2020). Di kemasannya dipasang sebuah kertas bertuliskan cara melindungi diri untuk mencegah penularan virus corona. (STEFAN WERMUTH/AFP)

Puncak pembelian terjadi dua hingga tiga hari sebelum Paskah, bersamaan dengan lonjakan promosi dan diskon. Pola ini menegaskan pentingnya strategi waktu bagi peritel dalam menarik perhatian konsumen dan memaksimalkan penjualan.

Pada akhirnya, Paskah kini berkembang menjadi momen yang lebih dinamis, personal, dan berorientasi pengalaman. Namun, kunci sukses bagi produsen dan peritel tetap sama: memadukan produk klasik dengan inovasi, menyediakan variasi harga, menekankan pengalaman, dan memastikan ketersediaan produk di saat permintaan mencapai puncaknya.

Paskah bukan lagi sekadar liburan tradisional; ini menjadi momen yang menyatukan kreativitas, kualitas, dan kegembiraan, menciptakan pengalaman yang lebih lengkap bagi konsumen modern. Jadi, apa cokelat Paskah favorit Anda?

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya