Liputan6.com, Jakarta - Sebuah bandara Spanyol mendadak dilirik selama perang Iran vs Israel dan AS. Konflik di Timur Tengah telah mengguncang perjalanan udara ke dan dari negara-negara Teluk hingga nyaris lumpuh.
Situasi ini memicu ketidakpastian, bukan hanya bagi penumpang, namun juga industri penerbangan secara keseluruhan. Serangan yang menyasar bandara-bandara di kawasan tersebut membuat maskapai harus bergerak cepat melindungi aset mahal mereka, termasuk pesawat bernilai miliaran rupiah.
Advertisement
Di tengah kondisi itu, melansir NDTV, Jumat (3/4/2026), sebuah bandara terpencil di pedesaan Spanyol muncul sebagai solusi. Maskapai mengalihkan dan memarkir pesawat yang terdampak penutupan wilayah udara ke sana.
Bandara Teruel, yang dikenal sebagai pusat perawatan dan penyimpanan pesawat di Eropa, kembali sibuk. Maskapai memanfaatkannya untuk mengamankan armada, sekaligus mengantisipasi gangguan pasokan bahan bakar.
Lonjakan serupa terakhir terjadi saat pandemi COVID-19, ketika sekitar 140 pesawat diparkir di sana. Ketika konflik memanas setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2926, negara itu langsung membalas dengan menargetkan bandara-bandara di kawasan tersebut.
Situasi ini memaksa penutupan wilayah udara secara luas di Teluk Persia. Serangan itu merusak dua pesawat sipil di Bandara Internasional Dubai, yakni Airbus A380 milik Emirates dan Airbus A321 milik Saudia.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan ini tetap berdampak besar bagi maskapai, seperti Emirates dan Qatar Airways. Pesawat merupakan aset bernilai tinggi, dan penggantiannya membutuhkan waktu lama.
Lebih dari 20 Pesawat Qatar Airways
Akibatnya, maskapai berisiko kehilangan pendapatan lebih besar di tengah gangguan operasional. Untuk mengurangi risiko, maskapai kini mengambil langkah perlindungan, termasuk memindahkan dan memarkir pesawat di lokasi yang lebih aman, seperti pusat penyimpanan khusus.
Flightradar24, layanan pelacakan penerbangan global yang menyediakan informasi waktu nyata tentang ribuan pesawat di seluruh dunia, melaporkan bahwa Qatar Airways telah memarkir lebih dari 20 pesawat di bandara Spanyol, yang juga beroperasi sebagai unit Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
Meski jumlah ini kecil, mengingat ukuran armada Qatar Airways yang sekitar 270 pesawat, langkah ini menandakan bahwa pusat-pusat penerbangan Asia Barat mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk pulih dari krisis.
Reputasi Bandara Teruel
Teruel telah lama dikenal sebagai pusat penyimpanan pesawat. Bandara ini pertama kali menarik perhatian global selama pandemi, ketika armada pesawat di seluruh dunia dihentikan operasinya, dan maskapai penerbangan berebut solusi parkir jangka panjang.
Sejak itu, Teruel tetap menjadi tujuan utama, tempat pesawat tidak hanya disimpan, tapi dalam banyak kasus, dipensiunkan, dibongkar, dan didaur ulang untuk pergantian suku cadang. Area ini merupakan lokasi lapangan terbang militer Claude antara tahun 1936 dan 1939 selama Perang Saudara Spanyol.
Area ini secara berkala digunakan sebagai tempat latihan menembak oleh Angkatan Udara Spanyol sebelum dikembangkan kembali. Setelah renovasi besar-besaran, fasilitas ini dibuka kembali pada 2013 sebagai pusat komersial khusus yang berfokus pada perawatan, perbaikan, dan perombakan (MRO) pesawat terbang, serta penyimpanan jangka panjang.
Mengapa Bandara Teruel?
Beberapa perluasan sejak itu telah mengubahnya menjadi kompleks penerbangan yang luas yang mencakup lebih dari 5,4 juta meter persegi. Faktor kunci di balik daya tarik Teruel adalah iklimnya yang kering dan bebas garam, yang secara signifikan mengurangi korosi dan membantu menjaga pesawat selama periode tidak aktif yang lama.
Hal ini menjadikannya sangat menarik saat maskapai penerbangan menghadapi ketidakpastian operasional dan potensi risiko pasokan bahan bakar jet terkait konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Bandara ini juga merupakan rumah bagi TARMAC Aerosave, operator MRO utama yang memanfaatkan iklim yang menguntungkan untuk menawarkan layanan perawatan bersama dengan kapasitas penyimpanan untuk lebih dari 120 pesawat pada waktu tertentu.