Waspada dari Timur: Gempa Bitung M7,6 dan Jejak Tsunami yang Tak Boleh Diabaikan

Gempa Magnitudo 7,6 mengguncang wilayah perairan Bitung Sulut dan Maluku Utara, Kamis pagi (2/4/2026).

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 02 April 2026, 08:39 WIB
Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Kota Bitung, Sulawesi Utara, Senin (18/8/2025).

Liputan6.com, Bitung - Gempa Magnitudo 7,6 dengan pemutakhiran M7,3 mengguncang wilayah Bitung Sulut dan Maluku Utara, pagi ini,m Kamis (2/4/2026). Getaran gempa terasa di Manado yang menyebabkan seorang lansia tewas tertimpa reruntuhan. Sementara satu warga lainnya mengalmi patah kaki usai melompat saat merasakan getaran gempa.

Daryono, Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) kepada wartawan, Kamis (2/4/2026) mengatakan, kawasan ini (perairan Sulut dan Malut) bukan sekadar perairan biasa, melainkan salah satu zona tektonik paling kompleks dan aktif di dunia.

"Di balik guncangan tersebut, tersimpan sejarah panjang aktivitas gempa dan tsunami yg membentuk wajah pesisir di utara Indonesia," katanya.

Daryono mengatakan, zona Laut Maluku dikenal unik krn berada dlm sistem subduksi ganda—lempeng yang 'terjepit' dari dua arah. Kondisi ini menciptakan tekanan luar biasa yg kerap dilepaskan dalam bentuk gempa bermekanisme sesar naik (thrust).

"Mekanisme inilah yg paling efektif dlm mengangkat dasar laut secara tiba-tiba, shgberpotensi memicu tsunami," ungkapnya.

Jika menengok ke belakang, catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah Sulut dan Malut telah berulang kali mengalami tsunami, meski umumnya dalam skala lokal hingga menengah. Pada 1845 di Kema, Minahasa Utara, gelombang laut tercatat dua kali menggenangi daratan dan tiga kali surut jauh hingga ke pemecah ombak. Peristiwa serupa berlanjut pada 1857 dan 1859, ketika tsunami bahkan mampu mengangkat material hingga mencapai atap bangunan di pesisir.

Memasuki akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, kejadian tsunami masih terus berulang, seperti di kawasan Kepulauan Sangihe–Talaud (1871), Laut Maluku (1899), hingga Halmahera Utara (1927).

"Meski sebagian besar berdampak terbatas, pola kejadian ini menegaskan bahwa energi tektonik di kawasan ini tdk pernah benar-benar 'diam'," kata Daryono.

Dalam periode yang lebih modern, tsunami kecil tercatat mengikuti gempa-gempa signifikan, seperti pada 1965, 1996, hingga kejadian di sekitar Halmahera pada 2014 dan 2019. Bahkan peristiwa besar di kawasan regional seperti tsunami Mindanao 1976 turut memberikan dampak hingga wilayah utara Indonesia, menunjukkan keterkaitan dinamika tektonik di kawasan ini.

Dari rangkaian sejarah tersebut, terlihat pola yang konsisten, yakni tsunami di Laut Maluku umumnya berskala kecil hingga menengah dan bersifat lokal. Namun justru di situlah letak bahayanya.

"Banyak wilayah pesisir dan pulau kecil berada sangat dekat dengan sumber gempa, sehingga waktu tiba tsunami bisa hanya dalam hitungan menit, tanpa banyak kesempatan untuk peringatan dini. Gempa M7,3 pagi ini perlu dipahami dalam konteks tersebut," katanya.

Meski tidak selalu diikuti tsunami besar, kata Daryono, karakter mekanisme sumber yang dominan berupa thrust fault tetap menyimpan potensi deformasi vertikal dasar laut. Selain itu, kemungkinan pemicu tambahan sptlongsoran bawah laut juga tidak bisa diabaikan.

Kawasan Laut Maluku mungkin tidak sepopuler zona megathrust Sumatera dalam hal tsunami besar, tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa wilayah ini tetap aktif dan berisiko. Kombinasi antara sumber gempa yg dekat, mekanisme yg mendukung pembangkitan tsunami, serta kondisi geografis pesisir menjadikannya wilayah yg memerlukan kewaspadaan tinggi.

"Gempa hari ini bukan hanya peristiwa sesaat, tetapi bagian dari dinamika panjang bumi yg terus berlangsung. Dan dari sejarah yg ada, satu pesan penting selalu berulang, waspada adalah kunci utama keselamatan di wilayah rawan gempa dan tsunami seperti Laut Maluku," katanya.

 

Antisipasi Gempa Bumi

Ini yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan sesudah gempa bumi.

Sebelum:

- Pastikan bahwa struktur dan letak rumah Anda dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempa, seperti longsor atau likuefaksi. Evaluasi dan renovasi ulang struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempabumi.

- Kenali lingkungan tempat Anda bekerja: perhatikan letak pintu, lift, serta tangga darurat. Ketahui juga di mana tempat paling aman untuk berlindung.

- Belajar melakukan P3K dan alat pemadam kebakaran.

- Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempabumi.

- Atur perabotan agar menempel kuat pada dinding untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempabumi.

- Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah. Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempabumi terjadi

- Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran.

- Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan.

- Siapkan alat yang harus ada di setiap tempat: Kotak P3K, senter/lampu baterai, radio, makanan suplemen dan air.

Saat Terjadi Gempa Bumi:

- Jika Anda berada dalam bangunan: lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja, cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan guncangan, lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

- Jika berada di luar bangunan atau area terbuka: Menghindar dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon. Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.

- Jika Anda sedang mengendarai mobil: keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran.

- Jika Anda tinggal atau berada di pantai: jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami.

- Jika Anda tinggal di daerah pegunungan: apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.

Setelah Terjadi Gempa Bumi:

- Jika Anda berada di dalam bangunan: keluar dari bangunan tersebut dengan tertib; jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa;periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K; telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.

- Periksa lingkungan sekitar Anda: apabila terjadi kebakaran, apabila terjadi kebocoran gas, apabila terjadi hubungan arus pendek listrik. Periksa aliran dan pipa air, periksa apabila ada hal-hal yang membahayakan.

- Jangan memasuki bangunan yang sudah terkena gempa,karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.

- Jangan berjalan di daerah sekitar gempa, kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.

- Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan). Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.

- Mengisi angket yang diberikan oleh instansi terkait untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi.

- Jangan panik dan jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya