Liputan6.com, Jakarta - Tenaga kesehatan (nakes) menjadi kelompok yang rentan terdampak oleh paparan campak. Bahkan, penyakit ini telah memicu kematian di kalangan dokter yang bertugas menangani pasien campak.
Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah memperkuat pencegahan campak melalui program imunisasi nasional bagi anak-anak. Namun, program imunisasi nasional untuk orang dewasa termasuk nakes belum tersedia.
Advertisement
“Jadi saat ini program imunisasi campak itu memang diberikan pada tiga kelompok usia. Yang MR (vaksin measles dan rubella) dosis 1 pada usia 9 bulan, kemudian yang kedua pada usia 18 bulan. Nanti saat SD kelas 1 itu juga diberikan booster (dosis penguat) melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah),” kata Direktur Imunisasi, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (Ditjen P2) Kemenkes RI, Indri Yogaswari dalam webinar bersama Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (1/4/2026).
“Nah, memang untuk dewasa ini walaupun tersedia vaksinnya, MMR (mumps, measles, rubella) itu bisa pada dewasa, itu ada dan memang bisa diberikan. Akan tetapi, memang tidak diadopsi ke dalam suatu program yang sifatnya nasional,” tambahnya.
Dengan kata lain, jika orang dewasa ingin melakukan imunisasi campak, maka vaksinnya bisa dicari di fasilitas kesehatan. Hanya saja, vaksin ini perlu dibayar secara pribadi, tidak ditanggung negara.
“Pada dewasa itu vaksinnya ada dua dosis dengan intervalnya minimal 28 hari. Untuk harga bervariasi, ada yang bisa Rp 700 ribu per satu dosis, ada juga yang Rp 350 ribu per dosis,” jelasnya.
Izin Pemberian Vaksin MR dari BPOM
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis anak Hartono Gunardi mengatakan bahwa vaksin MR sejauh ini hanya diberi izin edar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk diberikan kepada anak-anak saja.
“Kementerian Kesehatan belum menyediakan vaksin MR untuk dewasa dan mungkin perlu kita ketahui bersama bahwa vaksin MR diberi izin edar oleh Badan POM dari (usia) 9 bulan sampai 15 tahun. Jadi belum dengan dewasa, mungkin di masa depan akan direvisi, tapi sementara ini adalah sampai 15 tahun,” jelasnya.
Kenapa Pemberian Vaksin Campak Tak Dilakukan di Usia Lebih Muda?
Selama ini, pemberian vaksin campak dimulai pada usia 9 bulan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kasus campak dapat terjadi pada anak di bawah usia tersebut.
“Untuk saat ini memang program yang kami kawal masih berpegang pada MR dosis 1 dimulai pada usia 9 bulan. Kenapa tidak dimulai pada usia yang lebih awal? Padahal kemarin dari data yang ada di kami, kasus-kasus itu yang paling muda ada usia 6 bulan,” kata Indri.
“Kalau itu (vaksin) mau diberikan pada usia yang lebih awal, tentu saja kami harus melakukan beberapa kajian atau demonstrasi program dulu, uji coba dulu di beberapa lokus terpilih. Jadi perlu diskusi dengan beberapa pakar terkait pemberian di usia yang lebih muda,” jelasnya.
Indri menambahkan, hal-hal yang perlu dibuktikan sebelum menetapkan waktu pemberian vaksin berdasarkan usia adalah:
- Apakah pemberian vaksin campak di usia lebih muda terbukti efektif?
- Apakah kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI-nya lebih ringan?
- Apakah penyediaan vaksin dan sumber daya manusia atau SDM-nya cukup?
“Jadi tidak serta-merta, kita memerlukan kajian secara bersama dulu sebelum memutuskan untuk diberikan kepada anak yang lebih muda,” papar Indri.