Liputan6.com, Jakarta - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diprediksi akan melonjak drastis, pada 1 April 2026. Hal tersebut, karena konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran dan Amerika Serikat - Israel, serta pembatasan di jalur strategis Selat Hormuz berdampak kepada lonjakan hanya minyak dunia.
Pengamat Ekonomi Wisnu Wibowo mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi dari lonjakan harga minyak dunia. Sebagai contoh, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka Mei naik 2,92% menjadi USD 115,86 per barel pada awal perdagangan hari ini.
Advertisement
Dengan lonjakan harga minyak dunia tersebut, harga BBM diproyeksi bisa naik antara 5%-10%. Dengan kisaran kenaikan itu, harga BBM RON 92 diperkirakan akan naik Rp 1.000.
"Range kenaikan segitu dalam kondisi normal. Jadi bisa dihitung kenaikannya, jika Pertamax RON 92 Rp 12.000-an misalnya, ya antara Rp 1.000-an," ujar dia, Senin (30/3/2026).
Menyikapi kenakan harga BBM ini, bagi pemilik kendaraan baik mobil atau motor, jangan sering gonta-ganti BBM yang justru bisa menimbulkan masalah serius bagi performa dan keawetan mesin mobil dalam jangka panjang.
Perlu diketahui, mobil-mobil keluaran terbaru kini dirancang dengan sistem pembakaran yang semakin presisi. Setiap mesin memiliki rasio kompresi dan teknologi injeksi bahan bakar yang disesuaikan dengan nilai oktan tertentu.
Ketika jenis BBM yang digunakan tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan, proses pembakaran di ruang mesin menjadi tidak sempurna. Akibatnya, tenaga mobil menurun, konsumsi bahan bakar meningkat, dan efisiensi mesin pun terganggu.
Penggunaan Oktan Lebih Rendah
Penggunaan BBM dengan nilai oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan bisa memicu gejala knocking atau yang dikenal dengan istilah “ngelitik”.
Gejala ini ditandai dengan munculnya suara ketukan halus dari ruang bakar, akibat bahan bakar sudah terbakar sebelum waktunya. Bila dibiarkan, kondisi tersebut bisa menyebabkan kerusakan serius pada piston, katup, hingga kepala silinder.
Sebaliknya, memakai BBM dengan oktan terlalu tinggi juga tidak selalu membawa manfaat. Pembakaran justru bisa menjadi kurang efisien karena tidak sesuai dengan desain mesin.
Kebiasaan gonta-ganti BBM memang tampak seperti solusi cepat untuk menghemat pengeluaran, terutama saat harga BBM naik. Namun, risiko yang ditimbulkan terhadap mesin mobil justru jauh lebih besar.
Kerusakan akibat pembakaran yang tidak sempurna bisa membuat Anda harus mengeluarkan biaya servis atau perbaikan yang nilainya jauh lebih mahal dibanding penghematan sesaat dari selisih harga BBM.
Agar performa mesin tetap optimal dan usia kendaraan lebih panjang, sebaiknya gunakan BBM yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan secara konsisten.
Dengan begitu, Anda tidak hanya menjaga tenaga mobil tetap prima, tetapi juga memastikan sistem pembakaran bekerja efisien serta menghindari kerusakan komponen mesin di kemudian hari.
Dampak Gonta-Ganti BBM pada Mesin
Meski wajar terjadi saat pasokan terbatas, gonta-ganti BBM sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering karena bisa menimbulkan masalah pada mesin. Berikut dampaknya:
1. Performa Mesin Menurun
Mesin bisa terasa loyo, sulit dihidupkan, atau bekerja tidak konsisten. Pergantian BBM membuat pembakaran tidak stabil sehingga tenaga mesin berkurang.
2. Komponen Mesin Cepat Rusak
Ruang bakar, piston, hingga ring piston lebih cepat aus akibat ketidaksesuaian bahan bakar. Dalam jangka panjang, biaya perawatan bisa membengkak.
3. Konsumsi BBM Lebih Boros
Mesin yang dipaksa beradaptasi dengan BBM berbeda cenderung lebih boros. Akibatnya, pengeluaran untuk bahan bakar justru semakin tinggi.
4. Emisi Gas Buang Meningkat
Pembakaran tidak sempurna akibat BBM yang tidak konsisten bisa meningkatkan emisi gas buang dan merusak katalisator.
5. Mesin Berkerak
Sisa pembakaran dari BBM yang berbeda bisa menimbulkan kerak di ruang bakar. Jika dibiarkan, hal ini akan menurunkan efisiensi mesin.