Bursa Asia Kompak Tertekan, Investor Cemas Lonjakan Harga Minyak

Bursa Asia melemah akibat konflik Iran, sementara harga minyak terus melonjak dan menekan sentimen investor.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 31 Maret 2026, 08:05 WIB
Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham atau bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa ini, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.

Sentimen negatif ini juga dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang terus berlanjut, menambah tekanan di pasar keuangan.

Mengutip CNBC, Selasa (31/3/2026), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali meningkatkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa AS akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg jika Selat Hormuz tetap ditutup dan tidak ada kesepakatan damai.

Pernyataan tersebut muncul ketika konflik Iran telah memasuki pekan kelima. Bahkan, pemerintah AS disebut tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg, yang menjadi jalur utama ekspor minyak Iran.

Akibat konflik tersebut, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—yang sebelumnya menjadi jalur sekitar 20% pengiriman minyak dunia—hampir terhenti sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Di sisi lain, harga minyak terus menguat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% dan sempat menembus level USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

 

Gerak Saham Asia dan Wall Street

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Sejumlah indeks utama di kawasan Asia mencatat penurunan. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,12% pada awal perdagangan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,84%, sementara indeks Topix turun 0,57%. Tekanan juga terlihat di Korea Selatan, dengan indeks Kospi merosot 2,4% dan Kosdaq turun 0,77%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan tidak hanya terjadi di Asia. Bursa saham Amerika Serikat juga ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.

Indeks S&P 500 turun 0,39% menjadi 6.343,72 dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut. Nasdaq Composite terkoreksi 0,73% ke level 20.794,64, sementara Dow Jones Industrial Average justru naik tipis 0,11%.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa prospek inflasi masih terkendali meskipun harga energi meningkat. Ia juga menegaskan bank sentral belum perlu menaikkan suku bunga.

Namun demikian, ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan bursa Asia dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya