Liputan6.com, London - Sebuah taman margasatwa di Inggris terpaksa melakukan eutanasia terhadap seluruh kawanan serigala setelah konflik internal yang meningkat tajam menyebabkan sejumlah hewan mengalami cedera serius.
Pengelola Wildwood Trust, yang berlokasi di luar kota Canterbury, menyatakan keputusan tersebut diambil sebagai langkah terakhir setelah berbagai upaya penanganan tidak berhasil menghentikan pertikaian di dalam kelompok.
Advertisement
Kawanan yang terdiri dari lima serigala — Odin, Nuna, Minimus, Tiberius, dan Maximus — dieutanasia setelah tiga di antaranya menderita luka yang mengancam jiwa akibat perkelahian yang terus berulang. Kondisi ini dinilai sudah tidak dapat ditangani secara aman, baik bagi hewan maupun petugas.
Direktur Jenderal Wildwood Trust, Paul Whitfield, mengatakan bahwa tim penjaga telah berupaya maksimal untuk mencari solusi terbaik sebelum mengambil keputusan tersebut.
“Para penjaga kami sangat peduli dengan hewan-hewan ini dan telah melakukan segala yang mereka bisa untuk menemukan jalan keluar,” ujarnya dalam pernyataan resmi, seperti dilaporkan CNN pada Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa serigala merupakan hewan sosial yang hidup dalam struktur keluarga kompleks. Ketika dinamika tersebut terganggu, konflik dapat meningkat dan memicu penolakan antarindividu dalam kawanan.
“Dalam kasus ini, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran kesejahteraan yang berkelanjutan serta risiko cedera serius yang tidak dapat diterima,” kata Whitfield.
Opsi Lain Tak Mungkin Dilakukan
Menurut pihak pengelola, opsi lain seperti memisahkan serigala dalam jangka panjang atau memindahkan mereka ke kawanan lain juga tidak memungkinkan. Pemisahan dinilai dapat memperburuk kondisi psikologis hewan, sementara penggabungan dengan kelompok lain berisiko memicu konflik baru.
Wildwood Trust menegaskan bahwa eutanasia tidak pernah menjadi pilihan mudah, namun dalam situasi tertentu dapat menjadi langkah paling manusiawi untuk mencegah penderitaan lebih lanjut.
“Keputusan ini merupakan upaya terakhir, dengan kesejahteraan hewan sebagai prioritas utama,” ujar Whitfield.
Peristiwa ini menyoroti kompleksitas pengelolaan satwa sosial di lingkungan konservasi, terutama ketika dinamika alami kelompok mengalami gangguan yang tidak dapat dipulihkan.