Menlu AS: Operasi Militer terhadap Iran Selesai dalam Hitungan Minggu

AS, ungkap Rubio, dapat mencapai tujuannya tanpa memerlukan pasukan darat.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 28 Maret 2026, 08:48 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Paris - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio pada Jumat (27/3/2026) mengatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran diperkirakan akan berakhir "dalam hitungan minggu, bukan bulan".

Rubio menyampaikan pernyataan tersebut kepada para wartawan sebelum meninggalkan Prancis, tempat ia menghadiri pertemuan para menteri luar negeri negara-negara G7. Ia menyebut bahwa operasi militer berjalan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.

"Kami lebih cepat dari jadwal dalam operasi tersebut dan berharap dapat menyelesaikannya pada waktu yang tepat, dalam hitungan minggu, bukan bulan. Kemajuannya berjalan sangat baik," ujar Rubio seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.

Ia menambahkan bahwa Washington sudah hampir mencapai tujuan militernya dan segera menyelesaikan tugas tersebut.

"Ini tidak akan menjadi konflik yang berkepanjangan," katanya saat menjawab pertanyaan wartawan.

Rubio mengklaim bahwa AS telah melampaui target pada sebagian besar sasaran, termasuk melemahkan kemampuan rudal, drone, dan kekuatan militer Iran.

"Kami mencapai semua tujuan tersebut. Untuk sebagian besar target, kami lebih cepat dari yang direncanakan dan kami dapat mencapainya tanpa pasukan darat," lanjutnya.

Rubio memperingatkan bahwa salah satu tantangan langsung setelah operasi berakhir adalah kemungkinan Iran mencoba menerapkan sistem "toll" atau pungutan di Selat Hormuz. Ia menyebut langkah tersebut "ilegal, tidak dapat diterima, dan berbahaya bagi dunia".

"Itu berbahaya bagi dunia dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya," ungkap Rubio.

Sejak 28 Februari, AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran, yang menyebabkan lebih dari 1.340 orang tewas.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas sejak konflik dimulai. Konflik ini juga mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia.

 

 

Respons Positif G7

Dalam upaya mengakhiri perang, AS telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran, yang mencakup langkah-langkah terkait program nuklir dan rudal balistik Teheran, serta keamanan maritim di Selat Hormuz.

Namun, Iran menolak proposal tersebut dan mengajukan lima syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian serangan, jaminan tidak adanya konflik lanjutan, pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Terkait pertemuan G7, Rubio mengatakan ia mendapat respons positif dari negara-negara yang hadir, khususnya mengenai isu Selat Hormuz.

Mengenai potensi penutupan selat tersebut, Rubio menyatakan bahwa negara-negara yang paling terdampak diharapkan bersedia mengambil tindakan.

"Kami akan membantu mereka. Dan itu yang saya sampaikan hari ini," ujarnya. "Dan saya mendapat respons yang baik terhadap pesan tersebut."

Saat ditanya apakah Iran telah merespons proposal AS, Rubio mengatakan belum ada jawaban resmi yang diterima.

"Kami telah menerima pesan. Kami telah melakukan pertukaran pesan dan terdapat indikasi dari pihak Iran—apa pun yang masih tersisa dari sistemnya—mengenai kesediaan untuk membahas beberapa hal," klaim Rubio.

Washington, sebut Rubio, masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari Iran, termasuk mengenai siapa yang akan menjadi pihak perunding dan kapan pembicaraan potensial dapat dilakukan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya