Kate Middleton Lolos dari Insiden Topi Terbang Saat Kunjungi Uskup Agung Wanita Pertama Inggris

Kate Middleton tiba di halaman Katedral Canterbury yang dipimpin uskup agung wanita pertama Inggris saat cuaca berangin. Ia terlihat memegangi topi lebarnya.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 26 Maret 2026, 09:00 WIB
Kate Middleton tiba di halaman Katedral Canterbury dengan topi lebar untuk menghadiri kebaktian yang dipimpin uskup agung wanita pertama Inggris, Dame Sarah Mullally, pada Rabu, 25 Maret 2026.(dok. Yui Mok / POOL / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kate Middleton bersama suaminya, Pangeran William, melakukan kunjungan bersejarah ke Katedral Canterbury yang dipimpin uskup agung wanita pertama Inggris, Dame Sarah Mullally, pada Rabu, 25 Maret 2026. Cuaca saat itu di London sangat berangin hingga mantel Kate terlihat tersibak. Untungnya, ia lolos dari insiden topi terbang.

Mengutip Hello Magazine, Kamis (26/3/2026), Kate saat itu mengenakan topi jerami bertepi lebar dari perancang asal London, Juliette Botterill. Meskipun kondisi cuaca kurang menguntungkan, Putri Wales berhasil membuat angin tampak seperti hembusan yang sangat ringan, menjaga topinya tetap di tempatnya ketika disambut Lord Liutenant of Kent, Lady Colgrain.

Topi sang putri tetap berada di posisi sempurna di kepalanya dan tidak ada sehelai rambut pun dari sanggulnya yang rapi terlihat berantakan setelah ia masuk ke dalam gedung. Pangeran dan Putri Wales kemudian melanjutkan perkenalan resmi mereka sebelum menuju tempat duduk mereka untuk upacara tersebut.

Topi lebar Kate menampilkan pola berputar yang menarik perhatian di sekelilingnya dengan satu bulu di bagian depan sebagai hiasan. Topi tersebut tampaknya seharga 690 pound sterling (sekitar Rp15,64 juta). Menurut situs desainer, topi tersebut dikenakan dengan ikat kepala elastis yang memberi Kate dukungan ekstra agar tetap berada di posisi sempurna di atas sanggulnya.

Kate tetap mengenakan topinya di dalam katedral, tempat ia diantar menyusuri lorong bersama William oleh Dekan Canterbury, Dr. David Monteith. Topinya masih terpasang saat duduk dan saat menyanyikan himne pembuka, "Praise, my soul, the King of heaven," untuk memulai upacara.

 

 

Kate Middleton tiba di halaman Katedral Canterbury dengan topi lebar untuk menghadiri kebaktian yang dipimpin uskup agung wanita pertama Inggris, Dame Sarah Mullally, pada Rabu, 25 Maret 2026. (dok. Henry NICHOLLS / AFP)

Jubah Mantel dan Anting-anting Sentimental

Kate Middleton menghadiri kebaktian yang dipimpin uskup agung wanita pertama Inggris di Katedral Canterbury, London, Rabu, 25 Maret 2026. (dok. Jordan Pettitt / POOL / AFP)

Senada dengan topinya, Kate mengenakan busana terbarunya, yakni mantel mewah dari salah satu merek favoritnya, Suzannah London. Menurute Hello, mantel berwarna abu-abu itu terbuat dari wol kasmir mewah dengan potongan semi-pas modern, berbingkai satin sutra hitam yang elegan, yang jatuh ke rok midi A-line.

Busana seharga £2.850 (sekitar Rp64,6 juta) itu sebenarnya dilengkapi dengan ikat pinggang yang dapat dilepas. Kate memilih tak memakainya untuk kesempatan itu. Ia memadankannya dengan sepatu hak tinggi berwarna hita,

Ia melengkapi penampilannya dengan riasan natural namun tegas. Tak lupa dengan anting-anting mutiara Cassandra Goad miliknya. Perhiasan itu bernilai sentimental karena dikenakannya saat pembaptisan si bungsu Pangeran Louis pada 2018.

Anting-anting tersebut sangat menakjubkan, berbentuk bunga cavolfiore. Setiap mutiara memiliki berlian kecil di tengahnya, dikelilingi emas. Cassandra Goad adalah perancang perhiasan populer di Sloane Street yang eksklusif di London.

 

Busana Abu-abu ala Kate Middleton

Kate Middleton menyambut Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu dan istrinya, Oluremi Tinubu, yang melawat ke Inggris. (dok. Yui Mok / POOL / AFP)

Sekitar seminggu sebelumnya, tepatnya pada Rabu, 18 Maret 2026, Kate Middleton untuk pertama kalinya mengenakan busana bergaya era 80an dengan mengenakan gaun mantel abu-abu. Gaun itu, mengutip Hello Magazine, Kamis (19/3/2026), menampilkan rok potongan pensil, kerah putih bergaya era 80an yang kontras, dan kancing double-breasted.

Detail unik gaun terdapat pada bagian belakang yang bergaya korset diikat tali. Busana itu ternyata dirancang oleh desainer berkebangsaan Inggris berdarah Nigeria, Tolu Coker, yang peragaan busananya di London Fashion Week dihadiri Raja Charles bulan lalu.

Kate memadankan busananya dengan topi karya Jane Taylor yang berdetail putih senada dengan gaun mantelnya dan sepatu hak tinggi kulit ular abu-abu rilisan Hugo Boss. "Siluet gaun Tolu Coker benar-benar mencerminkan keahlian, dan sebagai momen mode yang sesungguhnya, saya sangat senang melihatnya mengenakan busana rancangan desainer Inggris-Nigeria," kata penata gaya Sian Clarke dari Styled by Sian kepada Hello.

 

 

Tugas Kenegaraan Kate Middleton

Princess of Wales tampil memukau dengan pesona klasik yang sarat makna sejarah. (Foto: Instagram/ princeandprincessofwales)

"Palet warna netral dari ujung kepala hingga ujung kaki menghadirkan kesan elegan, tenang, dan anggun tanpa usaha. Keputusannya untuk menghindari warna-warna mencolok terasa sangat disengaja. Memilih abu-abu sebagai dasar netral yang halus memungkinkan fokus tetap pada kunjungan dan penyambutan, sambil tetap terlihat sangat memukau. Sederhana, tetapi berkesan," jelas Clarke. 

Busana itu dikenakannya saat menyambut Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu dan ibu negara Oluremi Tinubu ke Inggris di Fairmont Hotel Windsor. Menyambut para pejabat asing telah menjadi tugas rutin bagi Pangeran dan Putri Wales selama kunjungan kenegaraan dan merupakan tanda peran kerajaan mereka yang semakin tinggi sejak Raja Charles naik takhta pada 2022.

Sejak itu, Kate mempraktikkan apa yang disebut sebagai 'flag dressing', yakni menghormati negara dengan mengenakan satu atau dua warna dari bendera nasional negara tersebut, sebuah tren yang juga dijalankan Ratu Elizabeth dan Putri Diana. Kunjungan kenegaraan pertama Nigeria dalam 37 tahun itu diselenggarakan di Kastil Windsor karena Istana Buckingham sedang direnovasi. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya