Liputan6.com, Tel Aviv - Israel pada Selasa (24/3/2026) menyatakan akan merebut sebagian wilayah Lebanon selatan untuk membentuk apa yang disebut sebagai "zona penyangga defensif". Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan harapan tercapainya kesepakatan damai.
Dalam pertemuan dengan kepala staf militer, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa pasukan Israel akan mengendalikan jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan yang membentang hingga Sungai Litani. Sungai tersebut berada di Lebanon dan bermuara ke Laut Mediterania, sekitar 30 kilometer di utara perbatasan Israel. Demikian seperti dikutip dari The Guardian.
Advertisement
Pernyataan Katz mengindikasikan kemungkinan kehadiran militer Israel dalam jangka waktu yang panjang. Kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran menilai langkah ini sebagai "ancaman eksistensial" bagi negara Lebanon.
Katz juga menyebut bahwa seluruh jembatan di atas Sungai Litani, yang disebutnya digunakan Hizbullah untuk memindahkan personel dan senjata ke Lebanon selatan, telah dihancurkan.
Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel seharusnya menerapkan kedaulatan atas wilayah di Lebanon selatan. Pernyataan ini menunjukkan visi ekspansionis yang memicu kekhawatiran, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Desakan Pemerintahan Lebanon terhadap Hizbullah
Ketegangan di Lebanon sendiri meningkat terkait dengan perang Iran. Pemerintah Lebanon pada Selasa mengusir Duta Besar Iran Mohammad Reza Shibani, dengan menyatakannya sebagai persona non grata dan memerintahkannya meninggalkan negara tersebut paling lambat hari Minggu (29/3). Langkah ini dianggap belum pernah terjadi sebelumnya dan mencerminkan perubahan sikap Lebanon terhadap pengaruh Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mendesak Hizbullah menghentikan serangan terhadap Israel. Ia menegaskan bahwa upaya membalas apa yang terjadi pada para pemimpin Iran "tidak ada hubungannya dengan Lebanon". Namun, Hizbullah mengecam keputusan pemerintah tersebut, menilai langkah itu justru menguntungkan Israel dan memperdalam perpecahan internal, di tengah kekhawatiran akan konflik domestik baru.
Lebanon kini semakin terseret dalam konflik regional yang melibatkan Iran, seiring serangan udara Israel di wilayahnya dan pertempuran dengan Hizbullah di selatan.
Pada Selasa sore, warga di kota Jounieh, Lebanon utara, keluar dari rumah mereka dalam kebingungan setelah mendengar ledakan di sepanjang wilayah pesisir. Ledakan tersebut terjadi setelah sebuah rudal Iran yang mengarah ke Siprus dicegat di udara di atas wilayah Lebanon.
Menurut laporan Reuters, sebuah rudal Iran yang mengarah ke Siprus berhasil dicegat oleh kapal angkatan laut asing di atas wilayah Lebanon utara. Insiden ini menyebabkan puing-puing berjatuhan di sepanjang pantai Lebanon dan merusak sejumlah jalan.