Penambang Bitcoin Ini Kantongi Kredit USD 1 Miliar dari JPMorgan dan Morgan Stanley

Perusahaan penambang bitcoin (BTC) Core Scientific mendapatkan fasilitas pendanaan USD 1 miliar. Berikut tujuannya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 24 Maret 2026, 16:54 WIB
Core Scientific Inc, salah satu penambang bitcoin (BTC) terbesar di Amerika Serikat (AS) mengamankan fasilitas kredit (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Liputan6.com, Jakarta - Core Scientific Inc, salah satu penambang bitcoin (BTC) terbesar di Amerika Serikat (AS) mengamankan fasilitas kredit USD 1 miliar atau Rp 16,89 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.890).Pendanaan itu berasal dari JPMorgan Chase dan Morgan Stanley.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (24/3/2026), pembaruan terbaru mencakup komitmen tambahan USS 500 juta atau Rp 8,44 triliun dari JPMorgan. Sebelumnya dari Morgan Stanley sekitar USD 500 juta.

Dengan demikian, total pembiayaan mencapai USD 1 miliar untuk rencana ekspansi Core Scientific. Pembiayaan itu akan dipakai untuk mengembangkan infrastruktur pusat data, termasuk pembelian peralatan, akuisisi lahan dan pengadaan energi.

Saat berita ditulis, saham CORZ naik 4,87%, dan diperdagangkan di kisaran USD 16,58. Dalam enam bulan terakhir, harga saham CORZ melemah 2,47% mencerminkan penurunan di pasar kripto. Akan tetapi, secara year-to-date naik 3,69%.

Fasilitas penambangan bitcoin yang tersebar di Alabama, Georgia, Kentucky, North Carolina, North Dakota, Oklahoma, dan Texas. Namun, seperti banyak pesaingnya, Core Scientific juga perlahan-lahan beralih dari aktivitas penambangan.

Adapun penambang bitcoin berjuang untuk berlanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, penambangan bitcoin telah menjadi industri yang sangat kompetitif.

Harga energi yang lebih tinggi, peningkatan kesulitan jaringan dan peristiwa halving bitcoin berkala mengurangi imbalan penambangan. Pada saat yang sama, permintaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan komputasi berkinerja tinggi tidak dapat dihentikan  tetap bertahan dengan pendapatan yang stabil dan dapat diprediksi, beralih ke aktivitas lain menjadi satu-satunya pilihan.

 

Beralih jadi Perusahaan AI

Seorang teknisi melakukan perawatan pada rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Dengan mengubah fungsi pusat data untuk kolokasi dan beban kerja AI, penambang dapat memonetisasi infrastruktur dengan lebih baik, mendiversifikasi aliran pendapatan, dan mengurangi paparan terhadap volatilitas pasar kripto.

Faktanya, selama pengumuman pendapatan pada 3 Maret, Core Scientific mengungkapkan bahwa mereka menjual sekitar 1.900 BTC pada Januari seharga USD 175 juta untuk mendanai rencana AI mereka.

Pada Juli 2025, CoreWeave, perusahaan penambang Bitcoin yang beralih menjadi perusahaan AI terkemuka, mengakuisisi Core Scientific dalam transaksi saham penuh. Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi untuk menerapkan beban kerja AI dan HPC dalam skala besar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Penambang Bitcoin Tinggalkan Kripto, Lebih Untung Garap AI

Rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). Pabrik yang berada di lokasi rahasia di Islandia ini merupakan salah satu pabrik bitcoin terbesar di dunia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Sebelumnya, hashrate atau kekuatan komputasi jaringan Bitcoin turun tajam karena banyak penambang beralih ke bisnis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan aktivitas mining kripto.

Selama ini, pergerakan hashrate Bitcoin biasanya sejalan dengan harga aset tersebut. Ketika harga naik, para pelaku industri akan meningkatkan kapasitas penambangan untuk memaksimalkan keuntungan.

Dikutip dari U.Today, Senin (23/3/2026), pada awal 2026, hashrate bahkan sempat melonjak hingga mendekati 1.200 exahash per detik (EH/s). Namun, tren tersebut berbalik arah ketika harga Bitcoin mulai mengalami tekanan.

Penurunan tajam ini mencerminkan perubahan strategi di kalangan miner, yang kini mulai mengalihkan sumber daya mereka ke sektor lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Peralihan ke sektor AI dipicu oleh perbedaan margin keuntungan yang signifikan. Industri kecerdasan buatan membutuhkan daya listrik besar dan sistem pendingin canggih—dua hal yang sudah dimiliki perusahaan penambang Bitcoin.

 

Bisnis AI Lebih Menggiurkan Dibanding Mining Kripto

Kepala Operasi, Philip Salter mengecek rig penambangan di pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). Pabrik yang berada di lokasi rahasia dan merupakan salah satu pabrik bitcoin terbesar di dunia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Sejumlah perusahaan seperti Core Scientific, Bit Digital, dan Iris Energy mulai memodifikasi pusat data mereka untuk mendukung komputasi AI dengan GPU berperforma tinggi.

Dari sisi pendapatan, penambangan Bitcoin hanya menghasilkan sekitar USD 57 hingga USD 129 per megawatt. Sementara pusat data AI mampu menghasilkan USD 200 hingga USD 500 per megawatt dengan kapasitas listrik yang sama.

Perbedaan ini membuat bisnis AI jauh lebih menarik bagi pelaku industri.

Transformasi ini juga terlihat dari berbagai kerja sama besar antara perusahaan penambang dan raksasa teknologi global.

Perusahaan Iris Energy (IREN) menandatangani kontrak layanan cloud AI senilai USD 9,7 miliar dengan Microsoft.

Sementara itu, Hut 8 menjalin kesepakatan infrastruktur AI senilai USD 7 miliar dengan Google.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya