Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan arus balik Lebaran kerap menjadi momen yang menguras energi, sama melelahkannya dengan saat berangkat mudik. Jarak tempuh yang panjang, ditambah kemacetan di sejumlah titik, menjadi kondisi yang sulit dihindari para pemudik.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan. Salah satu risiko yang kerap mengintai pengemudi adalah fenomena microsleep, yaitu kondisi ketika seseorang tertidur sesaat tanpa disadari saat mengemudi.
Advertisement
Microsleep disebut sebagai salah satu penyebab signifikan kecelakaan lalu lintas. Bahkan, lembaga keselamatan jalan raya Malaysia mencatat sekitar 20 persen kecelakaan di jalan raya berkaitan dengan kondisi ini, termasuk yang berujung fatal.
Microsleep terjadi ketika pengemudi mengalami penurunan kesadaran selama dua hingga 10 detik. Dalam kondisi ini, mata bisa saja tetap terbuka, tetapi otak tidak sepenuhnya memproses situasi di sekitar.
Meski hanya berlangsung dalam hitungan detik, dampaknya bisa sangat fatal. Pada kecepatan tinggi, kendaraan dapat melaju ratusan meter tanpa kendali. Hal ini meningkatkan risiko tabrakan dengan kendaraan lain, pembatas jalan, hingga pejalan kaki.
Fenomena ini umumnya dipicu oleh kelelahan dan gangguan ritme sirkadian tubuh, terutama saat perjalanan panjang seperti arus balik Lebaran.
Pengemudi sering kali tidak menyadari tanda-tanda awal microsleep. Padahal, tubuh biasanya sudah memberikan sinyal sebelum kondisi ini terjadi.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Tubuh terasa gelisah atau sering mengubah posisi duduk
- Kecepatan kendaraan tidak stabil
- Mata terasa berat dan sulit fokus
- Sering menguap atau kehilangan konsentrasi.
Jika tanda-tanda ini mulai muncul, pengemudi disarankan untuk segera menepi dan beristirahat.
Cara Efektif Mencegah Microsleep
Saat ini, banyak kendaraan modern telah dilengkapi fitur keselamatan canggih seperti Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) atau sistem peringatan konsentrasi pengemudi. Namun, teknologi ini bukan solusi utama.
Para ahli menegaskan bahwa tidak ada sistem yang mampu sepenuhnya menggantikan kewaspadaan manusia. Faktor kelelahan tetap menjadi ancaman terbesar di balik kemudi.
Untuk menghindari risiko microsleep saat arus balik, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Pastikan tidur cukup sebelum perjalanan
- Beristirahat setiap 2–3 jam di rest area atau SPBU
- Hindari memaksakan diri saat mengantuk
- Konsumsi makanan ringan atau minuman yang membantu menjaga konsentrasi.
Di tengah perkembangan teknologi otomotif yang semakin canggih, keselamatan berkendara tetap sangat bergantung pada kondisi fisik dan mental pengemudi.
Microsleep menjadi bukti nyata bahwa kehilangan fokus sesaat bisa berujung pada kecelakaan serius.
Oleh karena itu, menjaga kondisi tubuh tetap prima selama perjalanan arus balik bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan