Liputan6.com, Jakarta - Elon Musk mengumumkan proyek Terafab, sebuah kolaborasi lintas perusahaan antara Tesla, SpaceX, dan xAI. Proyek ambisius ini ditargetkan menjadi fasilitas manufaktur semikonduktor (pabrik chip) terbesar yang pernah ada, guna menyokong visi Musk dalam membangun 'peradaban galaksi'.
Ia mengungkapkan Terafab dirancang untuk menghasilkan daya komputasi sebesar satu terawatt setiap tahunnya.
Advertisement
Langkah itu diambil sebagai respons atas ketimpangan antara ketersediaan pasokan chip global dengan kebutuhan teknologi masa depan perusahaannya yang terus meroket.
Meski mengapresiasi mitra rantai pasok saat ini seperti Samsung, TSMC, dan Micron, Musk menyebut kapasitas produksi global saat ini masih jauh dari cukup.
Menurut kalkulasinya, total kapasitas produsen chip dunia saat ini hanya mampu memenuhi sekitar dua persen dari kebutuhan daya komputasi Tesla dan SpaceX di masa depan.
"Pilihannya hanya dua: kita membangun Terafab atau kita tidak akan memiliki chip sama sekali," tegas Musk, dikutip dari Engadget, Selasa (24/3/2026).
"Dan karena kita butuh chip tersebut, maka kita akan membangun Terafab," ia menambahkan.
Pusat Data Orbital dan Robotika
Proyek yang diperkirakan menelan investasi minimal USD 20 miliar (sekitar Rp 340 triliun) ini akan berbasis di Austin, Texas, berdekatan dengan markas besar Tesla.
Secara teknis, Terafab akan memproduksi dua kategori komponen utama, antara lain:
- Chip Terestrial: Dioptimalkan untuk sistem Full Self-Driving (FSD) pada mobil Tesla dan pengembangan robot humanoid, Optimus.
- Chip Ruang Angkasa: Komponen berdaya tinggi dengan ketahanan ekstrem untuk kebutuhan SpaceX.
Ambisi ini sejalan dengan langkah SpaceX yang awal tahun ini telah mengajukan izin kepada Federal Communications Commission (FCC) untuk meluncurkan satu juta satelit. Tujuannya untuk menciptakan "pusat data orbital" yang akan menjadi tulang punggung komunikasi masa depan.
Respons Pengamat
Kendati terdengar revolusioner, para pengamat industri mengingatkan publik untuk tetap bersikap realistis.
Rekam jejak Elon Musk sering kali diwarnai dengan janji-janji besar yang realisasinya memakan waktu lebih lama dari jadwal atau belum sepenuhnya terwujud.
Proyek-proyek seperti Hyperloop yang hingga kini belum beroperasi secara komersial, harga Cybertruck yang melambung dari janji awal USD 40.000, hingga klaim kemampuan otonom penuh (fully autonomous driving) yang terus tertunda, menjadi catatan kritis bagi para investor dan analis dalam menanggapi proyek Terafab ini.