204 Anak Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Ungkap Dampak Kemanusiaan Konflik

Jumlah anak yang jadi korban tewas dihitung sejak awal perang.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 20 Maret 2026, 15:03 WIB
Seorang anak laki-laki memegang plakat bergambar pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, selama berunjuk rasa memperingati Hari Al-Quds, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (13/3/2026). Ratusan orang turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Al-Quds Internasional. (Juni KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Teheran - Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 204 anak tewas akibat serangan yang terjadi di tengah eskalasi konflik di kawasan sejak akhir Februari. Data tersebut menjadi sorotan utama dari laporan resmi yang dirilis hingga 15 Maret.

Selain korban jiwa, ribuan anak lainnya juga terdampak. Sebanyak 1.275 anak dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk 45 balita berusia di bawah dua tahun. Secara keseluruhan, jumlah korban luka mencapai lebih dari 18.000 orang, dikutip dari laman Anadolu Agency, Jumat (20/3/2026).

Dalam laporan yang sama, otoritas kesehatan menyebut 18.254 korban luka telah mendapatkan perawatan dan dipulangkan, sementara 1.070 lainnya masih dirawat di rumah sakit. Sedikitnya 735 operasi juga telah dilakukan untuk menangani korban yang mengalami luka serius.

Kelompok perempuan turut menjadi korban dalam jumlah signifikan. Kementerian mencatat 226 perempuan tewas dan 3.002 lainnya mengalami luka-luka.

Lonjakan korban ini terjadi setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari, yang memicu eskalasi besar di kawasan. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. Aksi saling serang ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengguncang stabilitas kawasan serta mengganggu pasar global dan penerbangan internasional.

Meningkatnya jumlah korban sipil, terutama anak-anak, memperlihatkan dampak kemanusiaan yang semakin serius di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya