Pengakuan Mantan Direktur National Counterterrorism Center AS: Tak Diberi Akses ke Trump Soal Serangan Iran

Mantan Direktur National Counterterrorism Center Joe Kent mengaku tak dilibatkan dalam tiap keputusan.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 19 Maret 2026, 11:05 WIB
Direktur National Counterterrorism Center (NCTC) Joe Kent. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Washington D.C - Mantan Direktur National Counterterrorism Center, Joe Kent, mengungkapkan bahwa dirinya dan sejumlah pejabat senior tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan keberatan kepada Presiden Donald Trump terkait keputusan menyerang Iran.

Dalam wawancara dengan komentator konservatif Tucker Carlson pada Rabu, Kent menyebut proses pengambilan keputusan di Gedung Putih berlangsung dalam lingkaran yang sangat terbatas, tanpa perdebatan yang memadai.

“Sebagian besar pengambil keputusan kunci tidak diizinkan untuk datang dan menyampaikan pandangan mereka kepada presiden. Tidak ada debat yang kuat,” ujar Kent, dikutip dari Japan Today, Kamis (19/3/2026).

Kent mengundurkan diri pekan ini dari jabatannya, menyusul kekhawatiran atas eskalasi konflik dengan Iran. Ia menilai tidak ada bukti intelijen yang menunjukkan Iran menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.

Menurutnya, keputusan serangan yang dimulai pada 28 Februari juga dipengaruhi tekanan dari Israel. Kent menuding bahwa pemerintah Benjamin Netanyahu aktif melobi Washington, bahkan dengan informasi yang menurutnya tidak selalu dapat diverifikasi oleh intelijen AS.

“Ketika kami mendengar apa yang mereka sampaikan, itu tidak mencerminkan saluran intelijen kami,” katanya.

Pernyataan tersebut menambah sorotan terhadap dinamika internal pemerintahan Trump, sekaligus memunculkan indikasi adanya perbedaan pandangan di kalangan pejabat tinggi terkait kebijakan luar negeri.

Sebagai kepala lembaga yang bertugas menganalisis ancaman terorisme, posisi Kent berada di bawah koordinasi Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Pada hari yang sama, Gabbard menegaskan bahwa keputusan akhir terkait ancaman Iran sepenuhnya berada di tangan presiden.

Sementara itu, Trump membantah kritik Kent dan menegaskan bahwa Iran merupakan ancaman serius. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya tidak membutuhkan pejabat yang meragukan penilaian tersebut.

“Jika seseorang di pemerintahan tidak percaya Iran adalah ancaman, kami tidak menginginkan orang seperti itu,” kata Trump.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Kent. Namun, komentar tersebut dinilai mencerminkan ketegangan internal di tengah konflik yang terus meningkat dan berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya