Rayakan Idulfitri yang Lebih Ramah Lingkungan, Berikut Tips Lebaran Minim Sampah!

Idulfitri selalu menjadi momen untuk bersilaturahmi. Namun, banyaknya aktivitas dapat memicu lonjakan sampah. Berikut cara untuk mengurangi sampah saat Lebaran.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 18 Maret 2026, 21:25 WIB
Beberapa tanda kenaikan kadar asam urat dalam tubuh setelah lebaran yang perlu diwaspadai agar kita dan keluarga tetap sehat dan terlindungi. (Foto dok: Freepik/rawpixel.com).

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idulfitri sebagai momen yang dinanti oleh seluruh umat Islam dunia akan tiba sebentar lagi. Tapi tahukah kamu, di momen spesial ini terdapat potensi lonjakan sampah yang terjadi?

Hal itu disebabkan oleh banyaknya aktivitas yang memungkinkan orang menghasilkan lebih banyak sampah, seperti dari konsumsi makanan, kemasan sekali pakai, hingga tradisi berbagi bingkisan.

Sampah yang semakin menumpuk sangat berdampak pada masalah lingkungan yang serius. Mulai dari masalah pencemaran lingkungan, sumber kuman penyakit, hingga dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup lain. 

Saat Lebaran, sering kali kita melupakan kebiasaan ramah lingkungan karena terbawa suasana berkumpul bersama keluarga. Selain itu, masih sering juga dalam berbelanja kita terbiasa memilih produk-produk praktis yang sekali pakai demi kemudahan, mulai dari plastik, makanan, tisu dan lainnya.

Selain di Hari Idulfitri, momen mudik juga tak jarang meninggalkan masalah sampah yang menumpuk. Pada tahun lalu, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, dalam masa mudik timbulan sampah bertambah hingga 72 ribu ton, sehingga pihaknya telah mengeluarkan edaran untuk mengendalikan sampah selama libur Lebaran.

"Dari proyeksi yang mudik berdasarkan angka yang disampaikan Kementerian Perhubungan di angka 146 juta, maka proyeksi sampah selama pelaksanaan mudik sekitar 10 hari itu sekitar 72.300 ton selama hari itu saja," kata Hanif, seperti dilansir Antara.

Ia juga menekankan bahwa sampah merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga setiap orang wajib bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing.

"Sampah kita ini tanggung jawab kita. Semakin banyak sampah semakin banyak biaya yang harus kita keluarkan untuk membayar tanggung jawab. Sekali lagi tidak ada sampah itu berkah," imbuhnya.

Budaya Konsumtif Saat Lebaran

Menu lebaran sangat identik dengan lemak tinggi yang bisa berakibat kolesterol tinggi. (unsplash.com/@chuttersnap)

Pada perayaan hari besar ini, jenis sampah yang paling banyak dihasilkan berasal dari sampah plastik, makanan, atau kemasan hampers. Ditambah lagi, pada tahun ini dua hari besar dirayakan dengan beriringan, yakni Perayaan Nyepi dan Idulfitri yang hanya berselang satu hingga dua hari. 

Budaya konsumtif masyarakat juga turut memperparah peningkatan volume sampah saat Lebaran. Masyarakat cenderung membeli barang secara berlebihan, mulai dari makanan, pakaian baru, hingga berbagai produk sekali pakai demi menunjang perayaan. 

Kebiasaan tersebut sering kali tidak diimbangi dengan perencanaan pemilahan yang matang, sehingga banyak makanan terbuang dan barang tidak terpakai berakhir menjadi sampah. 

Selain itu, penggunaan kemasan plastik untuk membungkus makanan, minuman, hingga hampers juga semakin meningkat karena dinilai lebih praktis dan ekonomis. 

Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan ini dapat berdampak pada lingkungan, seperti pencemaran tanah dan air, serta meningkatnya beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 

Tips Lebaran Minim Sampah

Kantong berbahan plastik ini biasanya berakhir pada tempat pembuangan sampah sehingga menyebabkan polusi lingkungan semakin meningkat. (Foto/dok: Freepik)

Untuk mengurangi lonjakan sampah di Hari Raya Idulfitri, berikut beberapa tips praktis yang dikutip dari laman resmi Zero Waste Indonesia agar perayaan Lebaran tetap ramah lingkungan.

1. Gunakan Alat Makan Berbahan Kaca atau Pelepah

Banyak orang yang memilih piring plastik untuk wadah makanan saat Lebaran karena dinilai lebih praktis tanpa harus repot mencuci setelah digunakan. Kebiasaan tersebut tidak baik karena dapat menyebabkan penumpukan sampah. Sebaiknya gunakanlah piring kaca atau pelepah yang bisa dicuci dan digunakan kembali.

2. Bawa Sajadah Sendiri ketika Sholat Ied

Kurangi penggunaan koran sebagai alas sholat di masjid. Biasanya, banyak orang berbondong-bondong membawa koran sebagai alas karena takut sajadah menjadi kotor. Hal tersebut sebenarnya tidak masalah asalkan koran yang telah digunakan dibawa kembali ke rumah. Namun, kebanyakan dari mereka membuangnya begitu saja, bahkan ada yang sampai meninggalkan koran-koran tersebut sehingga berserakan dimana-dimana dan menjadi sampah.

3. Hindari Euforia dengan Kembang Api

Bermain kembang api atau petasan menjadi salah satu momen yang paling umum ditunggu anak-anak saat lebaran. Namun permainan ini sangat membahayakan karena dapat menimbulkan ledakan dan sampah yang mencemari lingkungan. Jadi, cobalah untuk mengganti kegiatan tersebut dengan kegiatan menyenangkan lainnya.

4. Memakai Baju Lebaran yang Sudah Ada

Salah satu kebiasaan menjelang Lebaran adalah memenuhi lemari dengan aneka pakaian baru. Tidak menutup kemungkinan baju yang sudah lama dan tidak pernah dipakai akhirnya terbuang begitu saja. Dampaknya dapat menimbulkan limbah fesyen pencemar lingkungan. Dengan memakai baju yang lama, sewa baju atau bertukar baju dengan keluarga dapat menjadi alternatif untuk merayakan Lebaran dengan minim sampah.

5. Beralih ke THR Online

Biasanya Tunjangan Hari Raya (THR) diterima menggunakan amplop lebaran. Penggunaan amplop ini dapat diminimalisir melalui teknologi aplikasi atau transfer untuk mengurangi sampah bekas amplop yang tidak digunakan.

Infografis Mudik Minim Sampah. (dok. Dinas Lingkungan Hidup/Putri Astrian Surahman)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya