Liputan6.com, Jakarta - Siang itu, Stasiun Gambir Jakarta Pusat dipenuhi hiruk-pikuk khas musim mudik. Orang-orang bergegas, menyeret koper, menggenggam tiket, dan membawa harapan untuk segera tiba di kampung halaman.
Di tengah keramaian tersebut, Yogi (27) dan Rembati (26) justru tampak santai. Sesekali mereka tersenyum, menikmati suasana yang bagi banyak orang terasa melelahkan, tetapi bagi mereka menjadi bagian dari pengalaman.
Advertisement
“Kita mau pulang ke Bandung,” kata Yogi singkat, Rabu (18/3/2026).
Perjalanan Jakarta-Bandung memang relatif dekat, hanya sekitar tiga jam. Namun bagi pasangan ini, mudik kali ini terasa berbeda. Mereka sengaja memilih kereta, bukan mobil atau moda transportasi lain.
“Pengen coba suasana mudik naik kereta,” ujar Rembati sumringah, tak sabar menanti pengalaman baru.
Keputusan tersebut bukan tanpa persiapan. Mereka sudah membeli tiket sejak dua minggu sebelum Ramadan, belajar dari pengalaman tahun lalu saat tiket yang didapat kurang sesuai dan sempat mengalami keterlambatan.
“Belajar dari pengalaman, jadi sebelum puasa sudah beli tiket. Yang penting aman dulu,” kata Yogi.
Pengalaman Berkesan
Menariknya, harga bukan lagi pertimbangan utama. Tahun ini, mereka mencoba gerbong panoramik—layanan dengan jendela lebar dan suasana lebih eksklusif.
“Padahal dekat, tapi pengen nyobain aja. Pengalaman baru,” kata Rembati sambil tersenyum dan menggenggam tangan suaminya.
Bagi mereka, mudik juga soal berbagi. Tahun lalu, Rembati ikut Yogi pulang ke Kalimantan. Kini, giliran Bandung menjadi tujuan. Ada keseimbangan dalam perjalanan mereka—bergantian pulang, berbagi cerita, dan merayakan kebersamaan.
Tak semua rencana berjalan mulus. Keinginan melanjutkan liburan ke Garut harus dibatalkan karena tiket habis. Bahkan, saat sempat menemukan satu kursi tersisa, tiket itu langsung lenyap ketika hendak dipesan.
Namun, mereka tidak terlalu kecewa.
“Kita lebih ke experience,” kata Yogi.
Pilihan itu juga membuat mereka tetap setia pada kereta konvensional, meski pernah mencoba kereta cepat. Bagi mereka, pengalaman pertama naik kereta panoramik terasa lebih berkesan.
Begadang Demi Tiket
Cerita lain datang dari pasangan Idam (30) dan Bekti (29) yang hendak mudik ke Yogyakarta. Berbeda dengan Yogi dan Rembati yang sudah bersiap lebih awal, mereka harus berjuang mendapatkan tiket di tengah ketatnya persaingan.
Mereka bahkan rela begadang demi satu kesempatan.
“Ada pengumuman tambahan tiket di Instagram. Jam 12 malam langsung kita coba, dan akhirnya dapat,” kata Bekti.
Berburu tiket sudah menjadi rutinitas tahunan bagi mereka. Strategi menjadi kunci, mulai dari memantau jadwal pembukaan tiket hingga menyesuaikan cuti dengan ketersediaan kursi.
“Dapat tiket dulu, baru ambil cuti,” ujar Idam.
Bagi pasangan ini, kereta tetap menjadi pilihan utama, meski opsi seperti bus atau pesawat tersedia. Kenyamanan menjadi alasan utama.
“Kalau capek bisa jalan (di lorong kereta), lebih fleksibel. Terus lebih pasti waktunya,” kata Bekti.
Mudik Membawa Cerita
Pengalaman naik bus yang kerap molor hingga belasan jam membuat mereka semakin yakin. Kereta, dengan jalurnya sendiri, menawarkan kepastian yang sulit ditandingi moda transportasi lain.
Di tengah riuhnya arus mudik, setiap orang membawa cerita. Ada yang mengejar waktu, ada yang mengejar kenyamanan, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati perjalanan.