Bermalam di Pura saat Nyepi: Waktu Terbaik untuk Sembahyang

Umat biasanya memilih bermalam di pura sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga kesucian energi spiritual yang diyakini sedang hadir.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 19 Maret 2026, 04:05 WIB
Pura Tri Bhuana Agung Depok. (Liputan6.com/Rio Ferdinand)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan di Depok, ada sebuah ruang spiritual yang menjadi tempat bernaung bagi umat Hindu. Namanya Pura Tri Bhuana Agung. Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di pura ini menjadi lebih hidup. 

Umat datang silih berganti untuk mempersiapkan berbagai rangkaian ritual. Mulai dari menata sesajen, membersihkan area pura, hingga mempersiapkan prosesi Melasti yang menjadi bagian awal penyambutan Tahun Baru Saka. 

Berdasarkan pantauan Liputan6.com di lokasi pada Jumat (13/03/2026) siang, kaum perempuan sibuk menata sesajen di selasar pura. Sajen tersebut ada unsur janur, buah, kue yang merupakan sebagai bagian persembahan. 

Sementara sejumlah umat lainnya tampak berdiskusi mempersiapkan rangkaian upacara yang akan berlangsung hingga puncak hari hening (Nyepi). 

"Kalau di Pura Tri Bhuana Agung Depok, kami biasa melaksanakan Melasti ke Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara, dekat laut," ujar Kadek Budhi Aryawan, Humas Komunitas Banjar sekaligus pengelola Pura Tri Bhuana Agung Depok saat berbincang dengan Liputan6.com . 

Penjelasan itu membuka cerita tentang bagaimana umat Hindu di Depok menjalani rangkaian ritual Nyepi di tengah kehidupan perkotaan yang multikultural. 

Bagi komunitas Banjar Suka Duka Hindu Dharma Kota Depok yang menaungi pura tersebut, Nyepi bukan hanya soal menjalankan kewajiban spiritual, tetapi juga tentang menjaga kebersamaan dan harmoni dengan lingkungan sekitar.

Nama Tri Bhuana Agung sendiri memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam ajaran Hindu berarti tiga jalan menuju moksa atau pembebasan spiritual. Dharma sebagai kebenaran hidup, latihan rohani untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa, serta kesucian yang menjadi puncak penyatuan manusia dengan Tuhan.

Secara arsitektur, pura ini mengadopsi kearifan lokal Bali dengan tiga tingkatan bangunan. Bagian dasar melambangkan bumi, bagian tengah sebagai jalan menuju moksa, dan bagian tertinggi yang disebut Astana sebagai tempat bersemayamnya Sang Hyang Widhi Wasa. 

Berbeda dari kebanyakan pura yang menggunakan konsep Tri Mandala, Pura Tri Bhuana Agung menggunakan konsep Eka Mandala karena keterbatasan lahan, dengan fokus pada ruang utama atau Utamaning Mandala.

Pura Tri Bhuana Agung Depok. (Liputan6.com/Rio Ferdinand)

Ritual Melasti Penyucian Diri

Beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu di Pura Tri Bhuana Agung menjalankan ritual Melasti. Sebuah prosesi penyucian diri dan alam yang dilakukan di sumber air. 

Dalam prosesi tersebut, umat membawa berbagai simbol sakral dari pura menuju laut. Air laut dipercaya sebagai sumber kehidupan yang memiliki kekuatan untuk menyucikan diri dan benda-benda sakral yang digunakan dalam ibadah.

Setelah ritual Melasti selesai, perjalanan spiritual belum berhenti. Para umat kemudian kembali ke pura untuk menjalankan tradisi Makemit, yakni bermalam di pura hingga menjelang Tawur Kesanga. 

"Tradisinya sekembali dari Pura dilanjutkan dengan Makemit atau bermalam di Pura sampai hari Tawur Kesanga," ujar Kadek Budhi.

Tradisi ini dijalankan secara bergiliran oleh anggota Banjar yang terbagi dalam beberapa wilayah kecil yang disebut Tempek. 

"Biasanya secara bergiliran setiap Tempek (wilayah keanggotaan Banjar), mengirimkan perwakilannya untuk bermalam di Pura," katanya.

Sistemnya sederhana. Setiap malam, perwakilan dari Tempek akan datang untuk menjaga pura dan mengikuti kegiatan spiritual hingga pagi hari. 

"Sistemnya sesederhana tiap hari digilir dari setiap Tempek. Di Depok ada 5 Tempek, Tahun ini kita perlu 3 malam Makemit, maka dibagi 1 tempek malam pertama, 2 tempek pada 2 malam selanjutnya," paparnya.

"Bukan berarti ada banyak orang, mungkin hanya 2-5 orang per Tempek sudah cukup," lanjutnya.

Menjaga Tirta Kamandalu dan Energi Positif

Tradisi Makemit bukan sekadar bermalam di pura. Ritual ini memiliki makna simbolis yang dalam. Sebagai simbol turut menjaga air suci simbol energi positif. Dari acara Melasti untuk digunakan pada acara Tawur Kesanga. 

Air suci yang dibawa dari prosesi Melasti dipercaya membawa energi positif yang harus dijaga hingga ritual berikutnya dilaksanakan. 

"Penjagaan itu adalah simbol dari kewaspadaan akan gangguan negatif Butha Kala," ucapnya.

Dalam kepercayaan Hindu, manusia selalu hidup berdampingan dengan energi positif dan negatif. Melasti menjadi simbol pembersihan diri, sementara Makemit menjadi simbol menjaga kesucian hati. 

"Suasana spiritual Melasti itu membangun kesadaran pembersihan diri dan lingkungan, sementara Makemit dalam rangka menyambut Nyepi membangun kesadaran menjaga kebersihan hati dari gangguan Butha Kala," tutur Kadek Budhi. 

Prosesi ini berlangsung hingga menjelang Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi. "Karena puncak penetralisir besar-besaran Butha kala secara spiritual baru dilaksanakan pada saat Tawur kesanga, sehari sebelum Nyepi," katanya.

Pada hari itu, umat Hindu melaksanakan upacara Mecaru sebagai bentuk penyeimbangan energi alam. 

"Karena sehari sebelum Nyepi itu kita ingin menetralisir energi negatif, disaksikan oleh energi positif yang luar biasa yang kita sudah bersihkan gitu, nanti kita menetralisir itu dengan Mecaru (Kurban), ujung malamnya itu kita acara Pengerupukan yang pakai obor, pakai ogoh-ogoh dan sebagainya," jelasnya.

Pura Tri Bhuana Agung Depok. (Liputan6.com/Rio Ferdinand)

Makna Spiritual Bermalam di Pura

Bagi umat yang mengikuti Makemit, malam di pura bukan sekadar waktu berjaga. Ada nilai spiritual yang lebih dalam yang ingin dibangun melalui tradisi tersebut. 

"Kalau Makemit itu menjaga Tirta Kamandalu (Air Suci), tapi sebenarnya bukan hanya itu, kalau Melasti setiap hari Nyepi bangunan pura ini punya benda-benda sakral yang diwariskan dari pendirinya dahulu, yang itu sebenarnya wujud supaya mudah memvisualisasikan energi positif," kata Kadek Budhi. 

Benda-benda sakral tersebut dibersihkan dalam ritual Melasti sebelum kembali ditempatkan di pura. 

"Setahun sekali itu harus disucikan di acara Melasti, nah biasanya itu kalau disucikan, nanti diarak, dikutin, jadi nanti di sini dibuat semacam kayak istilahnya itu Daksina Linggih," jelasnya.

"Sebuah bentuk yang kita perwujudkan, bahwa energinya itu diturunkan di level terendahnya, terus kita bawa kesana, dipercikin air Tirta Kamandalu dan sebagainya," lanjutnya. 

Setelah disucikan, simbol-simbol tersebut kembali ke pura dan dijaga hingga Tawur Kesanga. 

"Kemudian dibawa lagi kesini energinya, ke tempat ibadah sini, tapi yang kali ini energinya itu tidak dibubarkan, tidak dilepas gitu saja, tapi dijaga sampai hari Tawur Kesanga," ujarnya. 

Tradisi Makemit memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Hindu yang menjalaninya. Ibarat kehadiran energi suci dari Tuhan. Seperti sesuatu yang sengaja dihadirkan lebih dekat kepada manusia melalui rangkaian ritual yang telah dilaksanakan sebelumnya.  

"Ibaratnya gini, energi Tuhan itu luar biasa, kalau kita turunkan, kita masukkan energi Tuhan di tempat ini, berarti kita punya keyakinan bahwa ini Tuhannya sedang dekat dengan kita, maksudnya jangan ditinggal begitu saja, harus dijagain malamnya, dijagain terus," katanya.

Karena itu, umat biasanya memilih bermalam di pura sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga kesucian energi spiritual yang diyakini sedang hadir. 

Momen tersebut juga dianggap sebagai waktu yang sangat baik untuk sembahyang. Karena mereka yakin, energi spiritual sedang berada sangat dekat dengan umat yang datang memuja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya