Mau Investasi Saham di Tengah Panasnya Geopolitik? Ini Tips untuk Investor Pemula

Investor saham pemula harus berpegang pada prinsip sederhana yakni paham, punya, dan pantau.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 Maret 2026, 13:00 WIB
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) membagikan sejumlah panduan bagi investor pemula yang ingin mulai berinvestasi di pasar saham, khususnya di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi. Investor diingatkan agar tidak terburu-buru mengambil keputusan tanpa memahami produk investasi dan profil risikonya.

Divisi Riset BEI, Anita Kesia Zonebia, mengatakan investor pemula perlu berpegang pada prinsip sederhana yakni “paham, punya, dan pantau” sebelum terjun ke pasar saham. Prinsip tersebut dinilai penting agar investor dapat berinvestasi secara lebih bijak dan terhindar dari keputusan yang merugikan.

"Tips yang bisa dibagikan untuk para investor pemula. Sebenarnya kalau untuk investor, terutama investor pemula, kita sebenarnya berkali-kali bilang 'paham, punya, pantau'," kata Anita dikutip Senin (16/3/2026).

Menurut Anita, langkah pertama yang harus dilakukan investor pemula adalah memahami produk investasi sekaligus mengenali profil risiko diri sendiri. Hal ini penting karena setiap investor memiliki toleransi risiko yang berbeda-beda.

Ia menjelaskan, ada investor yang memiliki karakter berani mengambil risiko, ada pula yang cenderung moderat hingga konservatif. Dengan mengetahui profil risiko tersebut, investor bisa menentukan jenis investasi yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan keuangannya.

"Paham itu ya, kita harus paham juga bagaimana, contoh ya, paham, nggak cuman paham produknya gitu ya. Tapi paham juga dari diri kita sendiri, contohnya profil risiko kita seperti apa. Apakah kita tipe orang yang penyuka risiko, atau yang netral-netral aja, atau yang sama sekali tidak menyukai," jelasnya.

 

Jangan Serahkan Akun Investasi ke Orang Lain

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Anita juga menekankan pentingnya benar-benar memiliki dan mengelola sendiri akun investasi. Investor tidak disarankan menyerahkan kendali akun kepada pihak lain, termasuk teman atau kenalan.

Dia mencontohkan, sering kali ada kasus investor memberikan username dan password kepada orang lain untuk dikelola. Padahal, tindakan tersebut berisiko karena pemilik akun tidak mengetahui transaksi apa yang dilakukan di dalam portofolionya.

"Jadi, jangan kalau ada teman kita bilang, eh sini dong username dan password, biar gue yang kelolain gitu contohnya. Tapi kita nggak benar-benar tahu nih, apa yang dia beli, apa yang dia lakukan dengan akun kita, dan lain-lain. Berarti kan kita nggak benar-benar punya gitu kan istilahnya," ujarnya.

 

Diversifikasi dan Perhatikan Fundamental

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain memahami risiko dan mengelola akun sendiri, investor juga disarankan untuk terus memantau perkembangan pasar. Informasi mengenai kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, hingga sentimen global dapat memengaruhi pergerakan harga saham.

Dalam situasi pasar yang tidak menentu, diversifikasi aset menjadi strategi penting. Investor dapat mempertimbangkan berbagai instrumen investasi seperti emas maupun surat berharga negara, yang dalam kondisi tertentu justru mengalami kenaikan ketika pasar saham melemah.

"Nah, kemudian yang terakhir adalah pantau. Pantau terus informasi yang terjadi. Nah, of course kalau misalnya di saat-saat kayak gini, pastinya kita akan lebih aware dengan yang namanya diversifikasi aset," pungkasnya.

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya