Michael Saylor Balas Kritik Mantan PM Inggris yang Bilang Bitcoin Ponzi

Michael Saylor menanggapi kritik Boris Johnson yang menyebut Bitcoin mirip skema Ponzi dan mempertanyakan nilai aset kripto.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 14 Maret 2026, 11:00 WIB
Michael Saylor dalam Konferensi Bitcoin, Kamis, 7 April 2022, di Miami Beach, Florida. (Foto AP/Rebecca Blackwell)

Liputan6.com, Jakarta - Tokoh kripto sekaligus Executive Chairman MicroStrategy, Michael Saylor, memberikan tanggapan keras setelah mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengkritik Bitcoin (BTC) dan menyebutnya mirip skema Ponzi.

Johnson menceritakan pengalamannya berbincang dengan seorang kenalan di gereja yang mengaku mengalami kerugian setelah tergiur investasi kripto. Menurut Johnson, orang tersebut awalnya menyerahkan sekitar £ 500 kepada seseorang yang menjanjikan dapat melipatgandakan uangnya melalui investasi Bitcoin.

“Setelah tiga setengah tahun kebingungan, dia justru kehilangan £ 20.000,” tulis Johnson dikutip dari crypto news, Sabtu (14/3/2026).

Johnson juga menjelaskan bahwa orang tersebut terus diminta membayar berbagai biaya tambahan dengan harapan bisa menarik kembali uang yang telah diinvestasikan.

Cerita itu kemudian digunakan Johnson untuk mempertanyakan nilai dan struktur mata uang kripto.

Dalam kritiknya, Johnson membandingkan Bitcoin dengan aset tradisional dan barang koleksi.

“Saya bisa melihat nilai intrinsik emas. Saya bahkan bisa memahami mengapa kartu Pokemon bisa mempertahankan nilainya,” tulis Johnson.

Namun ia mempertanyakan dasar nilai aset digital seperti Bitcoin.

“Tapi Bitcoin? Apa sebenarnya itu? Hanya deretan angka yang tersimpan di sejumlah komputer,” tulisnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Bantahan Michael Saylor

PM Inggris, Boris Johnson selesai memberikan pernyataan pada hari pertamanya kembali bekerja setelah pulih dari virus Corona di Downing Street, London, Senin (27/4/2020). Ini menjadi kemunculan pertama PM Johnson di depan publik setelah hampir sebulan terinfeksi COVID-19. (AP/Frank Augstein)

Johnson juga menyinggung asal-usul misterius pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto. Menurutnya, sistem Bitcoin sangat bergantung pada kepercayaan kolektif para pemiliknya.

“Seluruh sistem ini sepenuhnya bergantung pada kepercayaan bersama para pemegang Bitcoin,” kata Johnson.

Ia juga memperingatkan bahwa meningkatnya kasus penipuan yang berkaitan dengan investasi kripto dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sektor tersebut.

“Sejak awal saya selalu curiga bahwa semua cryptocurrency pada dasarnya adalah skema Ponzi,” tulis Johnson. Ia menilai ekosistem kripto sangat bergantung pada masuknya investor baru secara terus-menerus.

Michael Saylor kemudian menanggapi kritik tersebut melalui unggahan di platform media sosial X.

“Bitcoin bukan skema Ponzi,” tulis Saylor.

Ia menjelaskan bahwa skema Ponzi biasanya membutuhkan operator pusat yang menjanjikan keuntungan kepada investor, lalu membayar investor lama menggunakan dana dari investor baru.

Menurut Saylor, struktur Bitcoin sangat berbeda dari skema tersebut.

“Bitcoin tidak memiliki penerbit, tidak memiliki promotor, dan tidak menjanjikan keuntungan apa pun. Yang ada hanyalah jaringan moneter terbuka dan terdesentralisasi yang digerakkan oleh kode dan permintaan pasar,” ujar Saylor.

 

Picu Perdebatan Sistem Moneter

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Saylor sendiri dikenal sebagai salah satu pendukung korporasi paling vokal terhadap Bitcoin. Perusahaannya, MicroStrategy, bahkan menyimpan aset Bitcoin senilai miliaran dolar dalam neraca perusahaan.

Komentar Johnson juga kembali memicu perdebatan lebih luas tentang sistem moneter.

Ia sempat menyinggung model mata uang dalam sejarah yang didukung oleh otoritas pemerintah, seperti koin Romawi yang menampilkan gambar kaisar sebagai simbol kepercayaan terhadap uang negara.

Namun para pendukung kripto berpendapat sebaliknya. Mereka menilai struktur Bitcoin yang terdesentralisasi justru menjadi kekuatan utama karena membuatnya lebih tahan terhadap pengaruh politik maupun inflasi yang dipicu kebijakan pemerintah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya