Prabowo Instruksikan Satgas EBTKE Percepat Peralihan Energi Fosil, Antisipasi Pasokan

Presiden Prabowo meminta percepatan pengembangan energi terbarukan, terutama tenaga surya, guna mengantisipasi ketidakpastian pasokan energi global

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 16 Maret 2026, 00:05 WIB
Presiden Prabowo Subianto

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kepada para jajarannya, khususnya yang tergabung dalam Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE), untuk mempercepat peralihan dari penggunaan energi fosil menuju energi baru terbarukan, terutama yang berasal dari tenaga surya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang memimpin Satgas EBTKE menyampaikan bahwa arahan percepatan transisi energi tersebut diberikan Presiden dengan mempertimbangkan ancaman krisis minyak yang saat ini tengah membayangi kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.

"Itu salah satu yang juga kita bicarakan (saat rapat bersama Presiden) bahwa harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini," ujar Menteri ESDM Bahlil, melansir Antara, Jumat 13 Maret 2026.

Selanjutnya, Menteri Bahlil mengatakan, dirinya juga melaporkan hasil rapat perdana satgas, yang diikuti oleh beberapa pemangku kepentingan, di antaranya delapan menteri, jajaran pimpinan Kementerian ESDM, dan para petinggi PT PLN.

Lebih lanjut, kata dia, satgas memiliki kemampuan untuk segera menerapkan rencana kerjanya terkait transisi energi, yang mencakup penghentian penggunaan bahan bakar fosil di beberapa pembangkit listrik, seperti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih menggunakan bahan bakar solar.

"Targetnya adalah agar tim dapat langsung bekerja saat Hari Raya Idulfitri, yang akan datang minggu depan," ucap Bahlil.

Transisi Energi Dipercepat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Krisis Minyak Global

Harga minyak dunia kembali tertekan seiring permintaan melambat, sedangkan produksi minyak melimpah dan kekhawatiran ekonomi global.

Menurut Bahlil, di tengah kondisi geopolitik perang ini membuat masa depan energi sulit diprediksi.

"Dalam kondisi geopolitik perang ini, tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang. Oleh karena itu, kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri, energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk kita bisa lakukan (transisi) seperti ini," kata Bahlil.

Meski demikian, Bahlil mengatakan pemerintah tentu menunggu infrastruktur pembangkit listrik pengganti, yaitu yang bersumber dari energi baru dan terbarukan haruslah rampung dibangun terlebih dulu, baru nantinya akan menyetop operasional pembangkit listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil.

"Bangun dulu dong, kalau di-setop belum dibangun kan penggantinya tidak ada. Jadi, paralel, begitu dibangun, begitu sudah langsung COD, PLTD-nya dimatikan," kata Bahlil.

Tanggal operasi komersial atau COD (Commercial Operation Date) merupakan tahap yang menandai selesainya proses pengujian teknis serta dimulainya operasional pembangkit listrik untuk menyalurkan energi listrik ke jaringan milik PLN.

 

 

Infografis Pemicu Harga Minyak Goreng Melonjak (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya