Deteksi Dini Seperti Skrining Kesehatan, Membantu Mencegah Penyakit Ginjal

Deteksi dini seperti skirining kesehatan bisa membantu mencegah penyakit ginjal. Masyarakat dihimbau untuk memeriksakan kesehatan setidaknya 1 kali setahun.

oleh Nurul Hikmah AzzahraDiterbitkan 16 Maret 2026, 08:00 WIB
Skrining kesehatan bisa membantu mencegah penyakit ginjal. (Foto: Kemenag Jatim)

Liputan6.com, Jakarta - Deteksi dini bisa jadi langkah awal untuk mencegah penyakit ginjal. Deteksi ini berupa pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan kondisi ginjal benar-benar sehat. 

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Pringgodigdo Nugraha, menjelaskan bahwa kewaspadaan sejak awal adalah langkah paling penting yang mudah dilakukan. 

"Pesan pentingnya adalah lakukan pemeriksaan ginjal kalau belum melakukan pemeriksaan ginjal, supaya tahu kesehatan ginjalnya, karena penyakit ini terkadang tak ada gejala," ujarnya dalam acara Kidney Health for All, Caring for People Protecting the Planet di Hotel Borobudur pada Rabu, 11 Maret 2026.

Siapa Saja Wajib Melakukan Skrining?

Pringgodigdo menjelaskan ada enam golongan utama yang memiliki risiko lebih tinggi dan sangat disarankan untuk segera melakukan deteksi dini.

1. Penderita diabetes, karena gula darah yang tidak terkendali merupakan penyebab nomor satu kerusakan ginjal.

2. Penderita hipertensi karena tekanan darah tinggi yang kronis dapat merusak pembuluh darah halus di dalam ginjal.

3. Orang dengan riwayat keluarga penyakit ginjal, karena faktor genetik memegang peranan penting dalam risiko penurunan fungsi organ ini.

4. Usia diatas 60 karena seiring bertambahnya usia, fungsi filtrasi ginjal secara alami akan mengalami penurunan.

5. Penderita penyakit autoimun karena kondisi seperti lupus dapat memicu peradangan pada jaringan ginjal.

6. Penderita obesitas atau gaya hidup tidak sehat seperti berat badan berlebih meningkatkan beban kerja ginjal meningkat.

Upaya Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Ilustrasi Garam Kasar Bumbu Dapur / by freepik

Administrator kesehatan ahli madya, kementerian kesehatan RI, Mohammad Fiqri Qoidhafy, menyampaikan bahwa pola makan menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal.

"Gula, garam, dan lemak berlebih, atau GGL adalah salah satu penyebab gagal ginjal, jika sering dikonsumsi dan terlalu banyak," jelasnya.

Penjagaan gula, garam, dan lemak penting karena banyak individu yang baru menyadari penyakitnya saat sudah berada di stadium lanjut dan melakukan pemeriksaan ke dokter. 

Kerusakan ginjal sering kali bersifat senyap atau tidak menunjukkan gejala sama sekali pada tahap awal. Oleh karena itu, pemeriksaan urin sederhana setahun sekali sangat dianjurkan untuk melihat adanya kebocoran protein (albumin) atau sel darah merah. 

Jika terdeteksi lebih awal melalui skrining, perkembangan penyakit dapat dihentikan, sehingga pasien tidak perlu sampai menjalani terapi penyakit ginjal seperti cuci darah (hemodialisis) yang sangat menyita waktu dan biaya.

"Di awal itu enggak ada gejala, kalau bergejala berarti sudah terlambat, sudah gagal ginjal," pungkas Pringgodigdo

Biaya yang Mahal

Langkah awal ini menjadi semakin penting karena mahalnya biaya pengobatan yang harus ditanggung jika seseorang sudah mencapai tahap gagal ginjal kronis. Data dari BPJS kesehatan  menunjukkan bahwa alokasi dana untuk penanganan gagal ginjal mencapai angka yang sangat fantastis, yakni sekitar Rp13 triliun. 

Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg Tiffany Monica menyatakan, angka ini menempatkan gagal ginjal sebagai penyakit terbesar kedua setelah penyakit jantung dalam hal pembiayaan. 

Jika dihitung berdasarkan biaya per orang, penanganan ginjal justru menempati urutan pertama karena sifat terapinya yang mahal dan berkelanjutan.

“Walaupun lebih besar nominal jantung, tetapi biaya ginjal sebanyak 13 triliun ini diakses oleh 600.000 jiwa sedangkan jantung yang 17 triliun diakses kurang dari 600.000,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya