Liputan6.com, Jakarta - Bus Transjabodetabek rute Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta (SH2) dilengkapi dengan ruang khusus untuk menyimpan koper penumpang yang hendak bepergian melalui bandara. Hal itu disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Menurut Pramono, fasilitas tersebut disiapkan karena layanan bus ini memang dirancang untuk melayani mobilitas masyarakat yang membawa bagasi menuju bandara.
Advertisement
"Jadi yang pertama, busnya berbeda. Di dalam busnya sendiri ada tempat untuk menaruh koper-koper, walaupun pasti kalau orang bepergian kopernya banyak, tidak semua koper itu akan bisa mendapatkan tempat tersendiri," ujar Pramono di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, sebagian koper penumpang yang menuju Bandara Soetta nantinya kemungkinan tetap dibawa oleh penumpang di dalam kabin bus jika kapasitas ruang koper tidak mencukupi.
"Sehingga ada beberapa koper yang nantinya bersama penumpang, itu konsekuensinya," terang Pramono.
Selain itu, lanjut dia, bus Transjabodetabek rute Blok M-Bandara Soetta juga didesain dengan dek atau lantai bus lebih rendah untuk memudahkan mobilitas penumpang serta menyesuaikan dengan titik pemberhentian di kawasan bandara.
"Deknya (deck) lebih rendah karena di sana ada tiga titik di Bandara yang harus diberhentikan," ucap Pramono.
Diprakirakan Angkut hingga 2.000 Penumpang
Melalui layanan Transjabodetabek SH2 rute Blok M-Bandara Soetta diprakirakan sekitar 1.900 hingga 2.000 penumpang dapat terlayani setiap hari. Target tersebut mengacu pada pengalaman rute sebelumnya, seperti Blok M–Bogor, yang awalnya ditargetkan melayani 2.000 penumpang per hari.
Estimasi waktu perjalanan dari Blok M menuju Bandara Soetta sekitar 121 menit dengan panjang lintasan mencapai 65,1 kilometer (km). Sebanyak 14 unit bus akan dioperasikan pada rute ini.
Bus beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 22.00 dengan waktu tunggu (headway) sekitar 10–20 menit. Untuk sementara, tarif ditetapkan sebesar Rp3.500 untuk kurun waktu tiga bulan sebelum dievaluasi.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi meluncurkan layanan Transjabodetabek rute Blok M ke Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Kamis (12/3/2026). Tarif ditetapkan sebesar Rp3.500 selama tiga bulan pertama.
Pramono mengatakan kebijakan tarif tersebut ditetapkan untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum saat menuju bandara.
"Hari ini kita memulai sesuatu yang baru yang ditunggu oleh masyarakat, yaitu untuk meresmikan layanan TransJabodetabek SH2 rute Blok M - Bandara Soekarno-Hatta. Trayek ini adalah trayek yang ditunggu oleh banyak orang," kata Pramono di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026).
Tarif Akan Naik dan Alami Penyesuaian
Menurut Pramono, selama tiga bulan ke depan tarif layanan tersebut disamakan dengan tarif transportasi Transjakarta ke rute-rute lain.
"Seperti yang tadi saya sampaikan, untuk rute SH2 Blok M ini, Pemerintah DKI Jakarta sudah memutuskan selama 3 bulan, terutama dalam rangka menyambut Idulfitri, kami akan menetapkan tarifnya tetap Rp 3.500 selama 3 bulan ini," terang dia.
Setelah masa promosi berakhir, Pemprov DKI Jakarta akan mengevaluasi tarif karena panjang rute dan kebutuhan subsidi menuju Bandara Soetta yang dinilai cukup besar. Pramono menyebut tarif kemungkinan akan disesuaikan setelah tiga bulan.
"Setelah itu, kami akan melakukan evaluasi karena memang bebannya cukup berat dan subsidinya terlalu besar. Kami akan menaikkan angkanya di rentang antara Rp 10.000 sampai dengan Rp15.000," kata Pramono
Pramono menjelaskan peluncuran rute tersebut bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi menuju bandara yang selama ini mendominasi perjalanan.
Ia menyebut sekitar 70–80 persen penumpang bandara masih menggunakan kendaraan pribadi ketika bepergian. Padahal, berdasarkan data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, jumlah pengguna Bandara Soekarno-Hatta mencapai sekitar 54,9 juta orang per tahun.
"Kita tahu bersama bahwa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ketika mereka akan bepergian menggunakan airport, itu antara 70 sampai 80 persen menggunakan kendaraan pribadi," jelas Pramono.