Pemerintah Percepat Gerakan Nasional Bersih Pasar, Tingkatkan Minat Warga Berbelanja

Pemerintah mempercepat Gerakan Nasional Bersih Pasar untuk meningkatkan kenyamanan dan minat masyarakat ke pasar tradisional.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 12 Maret 2026, 15:35 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso (kanan) bersama Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq dalam Gerakan Nasional Bersih Pasar di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mempercepat langkah Gerakan Nasional Bersih Pasar untuk menciptakan pasar rakyat yang bersih dan sehat guna meningkatkan kenyamanan serta menarik minat warga untuk berbelanja di pasar tradisional.

Gerakan tersebut dibangun dengan melibatkan beberapa pihak seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Lingkungan Hidup (LH), Polri dan pemerintah daerah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, kebersihan pasar menjadi faktor penting agar pasar rakyat tetap menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pasalnya, saat ini banyak masyarakat yang beralih dari pasar tradisional ke pasar modern dengan alasan kebersihan.

"Gerakan bersih pasar ini sebenarnya salah satu cara untuk meningkatkan kesehatan, kenyamanan para pedagang dan bapak-ibu yang belanja di pasar. Sehingga pasar rakyat ini tetap menjadi pilihan bagi kita semua untuk berbelanja, juga untuk berwisata kuliner," ujar Budi, Kamis (12/3/2026), seperti dilansir Antara.

Menurut Budi, peningkatan kebersihan di area pasar tidak hanya berdampak pada kesehatan lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung dan aktivitas perdagangan di pasar rakyat.

"Jadi kalau pasarnya bersih, pasarnya sehat, maka semakin banyak orang yang datang untuk berbelanja," ucap Budi.

Pemerintah juga mendorong para pedagang untuk lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan pasar, seperti menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai serta mudah dijangkau agar pengunjung dan pedagang tidak membuang sampah sembarangan.

Pasar sebagai Titik Pengelolaan Sampah Kota

Jelang perayaan tahun baru Imlek, sejumlah harga pangan di pasaran terpantau masih tinggi, seperti cabai rawit merah Rp 60.000/kg, cabai keriting Rp 40.000/kg dan bawang merah Rp 42.000/kg. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh pelaksanaan Gerakan Nasional Bersih Pasar yang menyasar berbagai pasar rakyat sebagai salah satu titik penting pengelolaan sampah di perkotaan.

Pasar menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat yang cukup masif, sehingga potensi timbulan sampah yang dihasilkan juga cukup besar. 

Dalam pernyataannya ia menjelaskan, pasar memiliki peran penting sebagai ruang sosial dan budaya masyarakat. 

Karenanya, kondisi kebersihan pasar dapat pula mencerminkan budaya dan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

"Pasar sebagai simpul budaya tentu dimaknai tempat berbagai macam karakter berkumpul. Jadi bersihnya pasar rakyat seharusnya mencerminkan bersihnya budaya di masing-masing masyarakatnya," terang Hanif.

Hanif juga mengungkapkan bahwa pemerintah terus melakukan evaluasi secara berkala terhadap pengelolaan sampah di kawasan pasar.

Dengan hadirnya Gerakan Nasional Bersih Pasar, ia berharap dapat menciptakan lingkungan pasar yang lebih sehat dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.

Kewajiban Mengelola Sampah secara Mandiri

Aksi bersih sampah Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq dan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat. (Liputan6.com/Henry)

Hingga saat ini, hampir seluruh pasar di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) telah dikenakan sanksi administratif berupa paksaan pemerintah agar menyelesaikan pengelolaan sampahnya secara mandiri.

Menurutnya, volume sampah dari kawasan pasar dan aktivitas perkotaan di Jakarta mencapai hampir 1.000 ton per hari, sehingga diperlukan upaya serius dan kolaboratif untuk mengatasinya.

Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya sebagai langkah awal pengelolaan yang efektif.

Proses pemilahan sampah dapat dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, agar proses pengolahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lebih efisien. Gerakan ini juga sekaligus meringankan beban kerja para petugas pengelola sampah di TPA.

Tanpa pemilahan, biaya penanganan sampah akan jauh lebih besar, termasuk jika mengandalkan teknologi seperti pembangkit listrik tenaga sampah.

"Sehebat apapun teknologi yang digunakan, secanggih apapun metodologi yang didebatkan, maka sejatinya pengelolaan sampah hanya bisa dimulai setelah dilakukan pemilahan," pungkas Hanif.

Infografis Pasar Tanah Abang dan Produk UMKM Tergerus Lapak Online. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya