Liputan6.com, Washington, DC - Sebuah investigasi awal militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menyimpulkan bahwa Washington bertanggung jawab atas serangan rudal Tomahawk yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada 28 Februari 2026.
Laporan tersebut disampaikan oleh New York Times yang mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya serta pihak lain yang mengetahui temuan awal penyelidikan. Menurut laporan itu, serangan pada 28 Februari yang menghantam gedung Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh terjadi akibat kesalahan penargetan yang dilakukan oleh perencana militer AS.
Advertisement
Pejabat Iran sebelumnya menyatakan bahwa sedikitnya 175 orang tewas dalam serangan tersebut, dengan sebagian besar korban merupakan anak-anak. Insiden ini menjadi salah satu serangan AS yang paling mematikan dan paling mengejutkan terhadap warga sipil dalam beberapa waktu terakhir.
Temuan awal menguatkan pernyataan pemerintah Teheran sebelumnya. Iran telah merilis rekaman video yang memperlihatkan serangan rudal AS serta fragmen bagian rudal buatan Amerika, meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya berupaya menyatakan bahwa Iranlah yang menghantam bangunan tersebut.
Menurut laporan tersebut, penyelidikan yang masih berlangsung itu menemukan bahwa para perwira di Komando Pusat Militer AS (US Central Command) membuat koordinat target serangan menggunakan data lama yang sudah tidak diperbarui dari Defense Intelligence Agency.
Sejumlah analisis independen sebelumnya telah menunjukkan indikasi kuat bahwa AS bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun pemerintahan Trump tetap menjalankan kebijakan pengelakan terkait serangan yang menghantam sekolah di Kota Minab itu, yang lokasinya berada dekat dengan bangunan yang digunakan oleh pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pada Sabtu (7/3), Trump menyatakan bahwa Iran bertanggung jawab atas pengeboman sekolah tersebut.
"Menurut pendapat saya, berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat, seperti yang Anda tahu, dengan persenjataan mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki akurasi. Itu dilakukan oleh Iran," kata Trump tanpa menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut seperti dikutip dari laporan The Guardian.
Pernyataan Trump tidak diulang oleh juru bicara militer AS yang hanya menyatakan bahwa mereka sedang "menyelidiki" insiden pengeboman itu.
Upaya pemerintahan Trump untuk menghindari tanggung jawab juga terlihat pada Rabu (11/3), ketika Pentagon memberikan pernyataan singkat lima kata kepada The Guardian: "Insiden ini sedang dalam penyelidikan."
Seorang pejabat di Komando Pusat Militer AS mengatakan bahwa tidak pantas memberikan komentar lebih lanjut karena insiden tersebut masih dalam proses investigasi.
Konfirmasi Pakar
Citra satelit dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa meskipun bangunan sekolah pernah menjadi bagian dari kompleks IRGC yang lebih luas, bangunan itu telah dipisahkan dengan tembok dari barak militer setidaknya selama sembilan tahun terakhir.
Bangunan tersebut juga memiliki penanda visual yang jelas sebagai fasilitas pendidikan, termasuk mural berwarna-warni di dinding serta lapangan olahraga kecil, yang keduanya terlihat dalam sejumlah citra satelit.
Tidak ada indikasi bahwa sekolah itu digunakan sebagai bangunan militer pada saat serangan terjadi. Namun lokasinya yang berada dekat dengan kompleks IRGC memberikan alasan yang masuk akal mengapa wilayah tersebut mungkin dipilih sebagai target oleh AS atau Israel.
Sejumlah video yang memperlihatkan sekolah yang hancur akibat ledakan beredar di media sosial Iran setelah kejadian tersebut. Video-video itu telah diverifikasi oleh The Guardian.
Setidaknya empat video menunjukkan lokasi yang sama dari berbagai sudut pandang dan arah pengambilan gambar yang berbeda, dengan ciri khas berupa mural warna-warni pada bangunan sekolah.
Salah satu video memperlihatkan puing-puing sekolah yang hancur. Kamera kemudian beralih dan menunjukkan kepulan asap tebal yang muncul dari balik pagar ke arah pangkalan IRGC. Rekaman ini menjadi petunjuk awal bahwa serangan tersebut tidak hanya menghantam sekolah, tetapi merupakan bagian dari rangkaian serangan yang juga menargetkan kompleks IRGC di dekatnya.
Pada 8 Maret, kantor berita pemerintah Iran, Mehr News Agency, merilis video yang menunjukkan sebuah rudal menghantam suatu lokasi di Minab. Video tersebut kemudian dianalisis dan dilokasikan secara geografis oleh kelompok investigasi Bellingcat.
Geolokasi adalah proses mencocokkan fitur fisik yang terlihat dalam gambar atau video—seperti bangunan, papan reklame, rambu, atau pegunungan—dengan gambar lokasi yang telah diverifikasi, seperti citra satelit, untuk memastikan di mana rekaman tersebut diambil.
Bellingcat berhasil mencocokkan bangunan, menara air, pepohonan, serta jalan yang terlihat dalam video dengan citra satelit lokasi di Minab. Melalui proses tersebut, mereka dapat menentukan sudut pengambilan gambar serta titik jatuh rudal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa rudal tersebut menghantam kompleks IRGC yang berada di sebelah sekolah.
Para pakar persenjataan kemudian mengidentifikasi rudal dalam video tersebut sebagai rudal Tomahawk.
"Melihat pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini, hal itu menunjukkan bahwa ini merupakan serangan AS karena Israel tidak diketahui memiliki rudal Tomahawk," kata NR Jenzen-Jones, Direktur Armament Research Services, sebuah perusahaan konsultan intelijen yang menyediakan analisis persenjataan bagi pemerintah dan organisasi nonpemerintah.
Jenzen-Jones menyebut AS sebagai satu-satunya negara yang terlibat dalam perang Iran yang diketahui memiliki senjata tersebut. Ia menambahkan bahwa rudal yang terlihat dalam rekaman tersebut tidak sesuai dengan klaim yang beredar di internet yang menyebutnya sebagai rudal Soumar milik Iran.
"Terlepas dari berbagai klaim yang beredar secara daring, munisi yang dimaksud jelas bukan rudal Soumar milik Iran. Soumar memiliki mesin eksternal yang khas yang terletak di bagian belakang, di sisi bawah rudal," ujarnya.