Liputan6.com, Jakarta - Ada kegelisahan di balik alokasi anggaran perpustakaan nasional (Perpusnas) yang terjun bebas tahun ini. Padahal pemerintah terus menerus menggelorakan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) demi menuju cita-cita Indonesia Emas.
Denyut aktivitas Perpustakaan Nasional tetap berjalan normal di tengah terbatasnya anggaran. Kamis (5/3/2026) sore di Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan No 11 Gambir, Jakarta Pusat. Hari itu, masih banyak pengunjung yang berdatangan. Wajar saja, Perpusnas kini bukan hanya menjadi tempat meminjam buku tapi juga punya fungsi sebagai ruang membaca, bekerja, dan transfer knowledge.
Advertisement
Dari kejauhan, Syahda, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sibuk mencari buku yang dibutuhkan. Setelah menemukan yang dicari, Syahdan memilih tempat duduk di tempat yang dirasa paling nyaman. Syahda memanfaatkan fasilitas Perpusnas untuk keperluan studynya.
"Aku biasanya belajar di sini. Kemarin juga sempat menyelesaikan skripsi di sini," kata Syahda saat berbincang dengan jurnalis Liputan6.com, Winda Nelfira.
Syahda pengunjung setia Perpusnas. Dalam seminggu, Syahda biasanya datang sekali dan menghabiskan waktu sekitar lima hingga enam jam untuk belajar. Biasanya, Syahdan datang jam 10 pagi. Di sana, dia menghabiskan waktu. Sampai pintu Perpusnas tutup dan lampu dimatikan.
“Bisa lima sampai enam jam,” ujarnya.
Syahda terbiasa memanfaatkan berbagai fasilitas di Perpusnas sejak masa awal kuliah. Koleksi buku yang lengkap menjadi alasan utamanya memilih belajar di Perpusnas.
"Bukunya lebih banyak dibanding perpustakaan di kampus. Fasilitasnya juga bagus, cara pinjam bukunya mudah, dan setiap lantai punya fasilitas berbeda. Menurut aku sangat worth it, apalagi ini fasilitas pemerintah yang gratis," katanya.
Pengunjung lain, Christi, seorang pekerja lepas (freelancer) perusahaan swasta. Dia juga cukup sering menginjakkan kaki di Perpusnas. Memilih tempat yang tenang untuk menyelesaikan pekerjaan. Dalam seminggu, biasanya dia datang sekitar tiga kali.
"Karena saya freelance, jadi bisa sambil kerja di sini. Tempatnya nyaman, ada internet, ada PC (personal computer), dan ada juga ruang untuk meeting atau Zoom," kata Christi.
Kendati tinggal di wilayah Klender, Jakarta Timur, Christi tetap memilih Perpusnas di Jakarta Pusat sebagai alternatif tempat kerja yang kondusi. Dibanding harus bekerja di tempat umum lain.
Dia mulai merasakan perubahan pada jam layanan Perpusnas, terutama untuk penggunaan komputer perpustakaan. Sekarang ini, waktu penggunaan PC dibatasi hanya tiga jam saja. Bagi pengunjung yang masih bekerja atau mengerjakan tugas, waktu tersebut terasa kurang.
"Kadang kita belum selesai, tapi sudah harus berhenti," ujarnya.
Dia sempat terkejut saat mengetahui jam layanan Perpusnas terasa lebih singkat dibanding sebelumnya. Pengurangan jam layanan dirasakan Christi sekitar sebulan belakangan.
"Sempat kaget juga, kok jam tutupnya agak cepat," singkatnya.
Pihak Perpusnas memastikan layanan operasional tetap berjalan normal. Tidak ada perubahan meski anggaran Perpusnas dipangkas lebih dari 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Kami masih memberikan layanan kepada masyarakat sebagai mana biasa," jelas Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso.
Patahnya Semangat Komunitas Literasi
Yang paling terdampak dari berkurangnya anggaran bukan kegiatan formal pemerintah atau pelayanan di Perpusnas. Jauh dari itu, melemahnya semangat komunitas literasi di daerah.
Suara kegelisahan itu datang dari pegiat literasi. Di ujung telepon, Duta Baca Indonesia periode 2021–2025, Gol A Gong bercerita. Tentang kegundahannya.
Banyak komunitas literasi yang selama ini bergerak secara sukarela, kini merasa kehilangan dukungan negara. Sejak akhir tahun 2025 hingga hari ini, tak ada kegiatan literasi di daerah.
"Mereka patah semangat karena mereka sudah berjuang secara sukarela, tapi negara tidak hadir sekarang," kata Gol A Gong.
Duta Baca Indonesia menjadi elemen penting dalam ekosistem literasi nasional. Keberadaan Duta Baca Indonesia selama ini menjadi jembatan antara negara dan komunitas literasi. Namun disayangkan, Duta Baca Indonesia untuk periode 2026-2030. Dugaannya karena keterbatasan anggaran.
"Oke, anggaran misalnya dikurangi, tapi mestinya Duta Baca Indonesia itu dilanjutkan. Karena di beberapa daerah, komunitas-komunitas itu bergerak," ucapnya.
Gol A Gong menjelaskan, keberadaan Duta Baca memiliki makna simbolik bagi masyarakat di daerah. Dari pengalamannya ketika datang ke berbagai kota dan kabupaten, masyarakat memandang Duta Baca sebagai kehadiran negara dalam gerakan literasi.
"Representasi negara ketika kami bisa datang," ujarnya.
Surat untuk Presiden
Di tengah lesunya anggaran perpusnas, Gol A Gong menyinggung pentingnya keseimbangan antara program pembangunan fisik dan pembangunan intelektual masyarakat. Pembangunan literasi seharusnya berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi agar investasi sumber daya manusia benar-benar optimal.
"Kami tidak menolak MBG, cuma ironis gitu. Mestinya MBG dan perpustakaan itu paralel supaya seimbang," katanya.
Kegelisahannya disampaikan melalui sebuah surat terbuka yang diunggah di akun media sosialnya pada 3 Maret 2026. Ditujukkan untuk Presiden Prabowo Subianto. Dalam surat tersebut, Gol A Gong menyampaikan solusi dari pemangkasan anggaran literasi. Dia berharap Presiden Prabowo meliburkan sehari saja program MBG. Kemudian, anggaran MBG satu hari itu bisa dialihkan ke Perpusnas RI.
"Itu duitnya yang mencapai Rp1,2 triliun per hari itu alihkan ke Perpustakaan Nasional RI," ucap dia.
Anggaran sebesar itu dapat memberikan dampak besar bagi pengembangan perpustakaan dan gerakan literasi di Indonesia. Terbukti, program Perpusnas selama ini telah memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan budaya membaca di masyarakat.
Gerakan literasi di Indonesia sebenarnya sedang tumbuh melalui kolaborasi antara negara dan masyarakat. Karena itu, Gol A Gong berharap momentum tersebut tidak terhenti akibat keterbatasan anggaran.
Pencapaian Pembangunan Literasi di Indonesia
Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso setuju dengan pendapat Gol A Gong tentang tumbuhnya literasi. Meski anggaran dipangkas, pencapaian pengembangan literasi di Indonesia mengalami perbaikan dari waktu ke waktu. Ada dua ukuran yang bisa menjelaskan hal itu. Pertama, jika melihat dan bandingan 5 tahun terakhir, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia makin meningkat.
"Hal itu kita bisa lihat dari sisi prevensi membaca masyarakat yang lebih tinggi, kemudian juga durasi membacanya yang juga lebih lama, termasuk juga bahan bacaan yang diselesaikan dibaca," jelas Joko.
Menurutnya, tingkat kegemaran membaca orang Indonesia ada di kisaran angka 71,2. Artinya, posisi membaca orang Indonesia, yang berkaitan dengan budaya baca itu posisinya sedang menuju tinggi.
"Nah saya kira, sebenarnya budaya baca ini menjadi satu persyarat untuk mendorong kecakapan literasi masyarakat," katanya.
Ukuran kedua adalah tingginya tingkat kunjungan ke perpustakaan dibandingkan dengan 3 tahun terakhir. Di Perpusnas misalnya, dalam sehari melayani 2.400 kunjungan. Bahkan angka itu akan mencapai 3.000 jika ditambah dengan waktu akhir pekan, belum lagi angka berkunjung secara online.
Disinggung pemangkasan anggaran perpusnas yang bersamaan dengan gencarnya program andalan pemerintah yakni makan bergizi gratis, Joko tak mau mengaitkannya. Menurutnya, pemenuhan gizi anak-anak juga sama pentingnya dengan pemenuhan pengetahuan masyarakat.
"Artinya selain gizi yang memenuhi kesehatan, tentu kita juga butuh asuhan, sumber-sumber pengetahuan. Karena itu yang akan membentuk kekerdasan. Jadi dalam pandangan kami, bangsa yang cerdas, selain mempengaruhi kesehatan, kita juga perlu memperhatikan sumber-sumber pengetahuan," ungkapnya.
Joko hanya berharap, pemerintah tetap berpihak pada program-program yang berkaitan dengan penguatan literasi, karena bagaimana pun, katanya, bangsa dengan ekonomi berkualitas tinggi tentu memiliki budaya literasi yang tinggi pula.
Saat ditanya, makan bergizi gratis atau buku bergizi gratis, Joko Santoso menyebut, buku bergizi gratis menjadi penting, karena dengan pengetahuan yang tinggi, kecerdasan akan tercipta, sehingga mereka mampu menghidupkan dan menghidupi dirinya dalam sebuah ekosistem.