Liputan6.com, Canberra - Selama ini emas dikenal sebagai salah satu komoditas paling berharga di dunia. Namun siapa sangka, sebuah batu kecil yang terbentuk di dalam empedu sapi kini memiliki nilai jual yang bahkan bisa melampaui harga emas di pasar global.
Fenomena ini membuat banyak peternak sapi mulai memandang berbeda limbah dari ternak mereka. Batu empedu sapi—endapan keras dari cairan pencernaan—kini menjadi komoditas bernilai tinggi karena permintaannya terus meningkat, terutama dari Tiongkok daratan dan Hong Kong.
Advertisement
Selama ribuan tahun, batu empedu sapi digunakan dalam praktik Pengobatan Tradisional Tiongkok. Bahan alami ini dipercaya memiliki manfaat untuk mengobati berbagai penyakit serius, seperti hipertensi hingga gangguan kardiovaskular, dikutip dari laman SCMP, Rabu (11/3/2026).
Lonjakan permintaan juga dipicu oleh tingginya angka stroke di Tiongkok yang disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bahan obat tradisional meningkat tajam.
Menurut laporan The Wall Street Journal, pada 2025 harga batu empedu sapi mencapai sekitar USD 5.800 per ons, atau sekitar Rp98 juta per ons (dengan asumsi kurs sekitar Rp16.900 per dolar). Angka ini membuatnya hampir dua kali lebih mahal dibandingkan harga emas pada periode yang sama.
Di pasar pengobatan tradisional, batu empedu sapi dikenal dengan nama Niu Huang (牛黄). Bahan ini menjadi komponen utama dalam obat herbal terkenal Angong Niuhuang Wan yang biasa diresepkan untuk kondisi neurologis serius seperti stroke, koma akibat demam tinggi, hingga gangguan kesadaran.
Langka dan Sulit Ditemukan
Nilai batu empedu sapi tinggi bukan hanya karena manfaatnya, tetapi juga karena kelangkaannya. Batu tersebut biasanya terbentuk pada sapi yang berusia lebih tua.
Namun dalam praktik industri peternakan modern, banyak rumah potong hewan memilih menyembelih sapi pada usia lebih muda demi efisiensi produksi daging. Akibatnya, peluang menemukan batu empedu alami menjadi semakin kecil.
Kelangkaan ini memicu “demam batu empedu” di berbagai daerah peternakan besar seperti Brasil, Australia, hingga negara bagian Texas di Amerika Serikat.
Muncul Penyelundupan hingga Pasar Gelap
Tingginya harga batu empedu sapi bahkan memicu tindak kriminal. Di wilayah pedesaan Bahetus, negara bagian São Paulo, Brasil, sejumlah peternakan dilaporkan menjadi sasaran perampokan.
Menariknya, para pelaku bukan mencuri sapi, melainkan mencari batu empedu yang mungkin terdapat di dalam hewan tersebut.
Kasus penyelundupan juga meningkat di rumah potong hewan, di mana beberapa pekerja diduga menyembunyikan batu empedu untuk dijual secara ilegal. Kondisi ini memicu berkembangnya pasar gelap komoditas tersebut.
Tingginya permintaan juga mendorong para peneliti di Tiongkok untuk mengembangkan batu empedu sintetis. Produk buatan laboratorium ini dirancang untuk meniru sebagian efek medis dari batu empedu alami, terutama manfaat neuroprotektif dan perlindungan hati.
Meski begitu, batu empedu alami masih dianggap sebagai standar terbaik dalam pengobatan tradisional.
Menariknya, media Rusia juga melaporkan bahwa permintaan batu empedu manusia di Tiongkok mulai meningkat. Harga satu batu empedu manusia dilaporkan bisa mencapai sekitar USD 1.270 atau sekitar Rp21 juta, tergantung ukuran dan kualitasnya.
Nilai yang terus melonjak membuat batu empedu—yang dulu dianggap limbah biologis—kini berubah menjadi komoditas langka bernilai tinggi di pasar global.