Perang Iran Picu Krisis Energi, Bangladesh Tutup Universitas dan Batasi Penjualan BBM

Bangladesh mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan energinya, yang kini terganggu akibat perang Iran.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Maret 2026, 08:30 WIB
Kekhawatiran akan meluasnya perang dalam skala penuh memicu warga Iran untuk mencari keamanan di negara tetangga, khususnya melalui perbatasan darat menuju Provinsi Van, Turki. Tampak dalam foto, warga negara Iran menunggu bus di Turki setelah melewati perbatasan Kapikoy/Razi di Provinsi Van, Turki timur laut, pada Selasa 3 Maret 2026, sehari setelah kedua negara tersebut secara bersama-sama menangguhkan penyeberangan harian di perbatasan mereka karena serangan Israel-Amerika Serikat yang terus menghantam wilayah Republik Islam tersebut. (Ali IHSAN OZTURK/AFP)

Liputan6.com, Dhaka - Pemerintah Bangladesh menutup seluruh universitas serta memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar di tengah krisis energi yang dipicu perang Iran.

Seluruh universitas negeri dan swasta di Bangladesh resmi ditutup mulai Senin (9/3/2026). Penutupan ini dilakukan dengan memajukan masa libur Idulfitri sebagai bagian dari langkah darurat pemerintah untuk menghemat penggunaan listrik dan bahan bakar.

Para pejabat pemerintah menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menurunkan konsumsi listrik, tetapi juga mengurangi kemacetan lalu lintas yang selama ini menyebabkan pemborosan bahan bakar.

Pemerintah menjelaskan bahwa kampus mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk berbagai keperluan, termasuk asrama mahasiswa, ruang kelas, laboratorium, serta penggunaan pendingin udara. Dengan memajukan masa libur, tekanan terhadap sistem kelistrikan nasional yang saat ini sedang tertekan diharapkan dapat berkurang.

"Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini," demikian pernyataan Kementerian Pendidikan Bangladesh dalam sebuah surat edaran yang disampaikan kepada pihak universitas seperti dikutip dari Al Jazeera.

Sebelumnya, sekolah negeri maupun swasta di Bangladesh sudah lebih dulu diliburkan selama bulan suci Ramadan. Dengan penutupan universitas ini, sebagian besar institusi pendidikan di negara tersebut kini tidak beroperasi selama periode tersebut.

Bangladesh yang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan energinya juga mulai memberlakukan batas harian penjualan bahan bakar sejak Jumat lalu. Kebijakan ini diterapkan setelah muncul aksi pembelian panik dan penimbunan bahan bakar oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari langkah penghematan yang lebih luas, pemerintah juga meminta sekolah dengan kurikulum asing serta pusat bimbingan belajar swasta untuk menghentikan sementara kegiatan operasional selama periode ini guna mengurangi penggunaan listrik.

Selain penutupan lembaga pendidikan, pemerintah juga mengeluarkan pedoman bagi berbagai institusi dan kantor agar menggunakan listrik secara lebih efisien. Pedoman tersebut mencakup pemanfaatan cahaya alami secara maksimal serta pengurangan penggunaan lampu dan listrik yang tidak diperlukan.

Langkah-langkah ini diambil ketika Bangladesh menghadapi ketidakpastian pasokan bahan bakar dan gas menyusul gangguan pada pasar energi global yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Konflik telah meluas di Timur Tengah dan menghambat ekspor minyak serta gas, sehingga harga energi meningkat. 

 

Upaya Menstabilkan Pasokan Energi

Kekurangan gas yang parah bahkan telah memaksa Bangladesh menghentikan operasional empat dari lima pabrik pupuk milik negara. Pasokan gas yang tersedia dialihkan ke pembangkit listrik untuk mencegah terjadinya pemadaman listrik secara luas.

Negara dengan populasi sekitar 170 juta jiwa—yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar kedelapan di dunia—juga telah membeli gas alam cair (LNG) dari pasar spot dengan harga yang jauh lebih tinggi. Selain itu, pemerintah berupaya mendapatkan tambahan kargo LNG guna menutup kekurangan pasokan.

"Kami melakukan segala hal yang kami bisa untuk mengurangi konsumsi serta memastikan stabilitas pasokan listrik, bahan bakar, dan impor energi," ujar seorang pejabat senior di Kementerian Energi, Tenaga, dan Sumber Daya Mineral Bangladesh.

Para analis energi menilai langkah-langkah tersebut dapat memberikan bantuan jangka pendek bagi sektor kelistrikan sambil menunggu pemerintah menstabilkan impor bahan bakar serta mengatur distribusinya. Namun mereka juga memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap kalender akademik dapat menimbulkan tantangan bagi para mahasiswa jika krisis energi terus berlanjut.

Hingga saat ini, pihak berwenang belum menyampaikan berapa lama penutupan universitas akan berlangsung. Namun, institusi pendidikan diperkirakan akan kembali menjalankan kegiatan akademik secara normal setelah libur Idulfitri apabila situasi energi membaik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya