IHSG Tertekan Imbas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, Ini Respons BEI

Manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 09 Maret 2026, 19:49 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham Senin, 9 Maret 2026 imbas ketegangan geopolitik. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menilai kondisi pasar saat ini masih lebih baik dibandingkan gejolak yang sempat terjadi pada April 2025 akibat kebijakan tarif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.

"Saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam. Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Senin (9/3/2026).

Jeffrey menegaskan, pihaknya telah menyiapkan sistem infrastruktur serta perangkat regulasi untuk menghadapi dinamika pasar yang tengah berlangsung.

"Jadi oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” tutur Jeffrey.

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan saham Senin, 9 Maret 2026. IHSG hari ini tertekan di tengah seluruh sektor saham memerah dan rupiah tembus 16.940 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 3,27% ke posisi 7.337,36. Indeks saham LQ45 terpangkas 3,28% ke posisi 750,57. Seluruh indeks saham acuan memerah.

 

 

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya menyebutkan, IHSG melemah di tengah sentimen geopolitik dan potensi inflasi.

“Dari konflik di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz membuat para produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksinya, seiring kekurangan tempat penyimpanan minyaknya karena tidak dapat mengirimkan produksinya ke pelanggan,” ujar dia seperti dikutip dari Antara.

 

 

Sentimen IHSG

Karyawan beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/3/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Seiring dengan itu, harga minyak mentah meningkat tajam yaitu minyak WTI naik 11,86 persen ke level 101,68 dolar AS per barel dan minyak Brent naik 12,77 persen ke level 104,53 dolar AS per barel pada perdagangan hari ini pukul 17.12 WIB, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi dan perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, para menteri keuangan negara G7 dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat minyak secara bersama-sama.

Penarikan cadangan strategis ini sebelumnya pernah dilakukan sebanyak lima kali, diantaranya ketika invasi Rusia ke Ukraina, gangguan pasokan di Libya, badai Katrina, serta selama Perang Teluk pertama.

Dari kawasan Asia, inflasi China meningkat 1,3 persen (yoy) pada Februari 2026 dari 0,2 persen (yoy) pada Januari 2026, atau membukukan kenaikan tertinggi sejak Januari 2023 serta di atas ekspektasi yang sebesar 0,8 persen.

Peningkatan ini terutama efek dari adanya perayaan Tahun Baru Imlek di pertengahan Februari 2026. Selanjutnya investor akan menantikan data ekspor impor Tiongkok di Januari-Februari 2026.

Dari dalam negeri, indeks keyakinan konsumen (IKK) turun di level 125,2 pada Februari 2026 dari sebelumnya 127 pada Januari 2025, seiring dengan melemahnya prospek ekonomi, ekspektasi pendapatan untuk enam bulan ke depan, serta ekspektasi ketersediaan lapangan kerja selama enam bulan ke depan.

 

Sektor Saham

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.403,73 dan level terendah 7.156,68. Sebanyak 708 saham melemah sehingga bebani IHSG. 68 saham menguat dan 41 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 2.474.203 kali dengan volume perdagangan 46,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 23,9 triliun. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 16.940.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham transportasi merosot 5,22%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham basic turun 4,59% dan sektor saham properti melemah 4,57%.

Sektor saham energi terperosok 4,33%, sektor saham industri terpangkas 4,04%. Lalu sektor saham industri tergelincir 4,04%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 3,5%, sektor saham consumer siklikal turun 4,54%.

Lalu sektor saham kesehatan melemah 2,74%, sektor saham keuangan susut 1,34%, sektor saham teknologi melemah 1,58%, dan sektor saham teknologi terpangkas 1,58%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya