Liputan6.com, Jakarta - Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun hingga ke kisaran 7.500 pada perdagangan saham awal Maret 2026 dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang datang bersamaan sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap berbagai sentimen negatif.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, mengatakan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong lonjakan harga energi dunia, termasuk minyak mentah jenis Brent crude oil yang sempat menembus level USD 93 per barel.
Advertisement
"Tekanan yang kembali terjadi pada IHSG hingga turun ke kisaran 7.500 pada awal Maret 2026 tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan kombinasi dari tekanan global dan domestik yang datang secara bersamaan sehingga membuat sentimen pasar menjadi sangat sensitif,” ujar Hendra dalam keterangan resmi, dikutip Senin (9/3/2026).
Kenaikan Harga Minyak Dunia Jadi Sentimen Negatif
Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importer energi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Situasi ini juga mendorong investor asing melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tercermin dari arus dana keluar atau foreign net sell di bursa.
Selain faktor global, pasar juga mulai mencermati kondisi fiskal domestik. Hingga Februari 2026, defisit APBN tercatat mencapai sekitar Rp135 triliun. Jika harga minyak dunia tetap tinggi, pemerintah dihadapkan pada pilihan kebijakan yang tidak mudah antara menambah subsidi energi atau menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Jika harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan antara menambah subsidi energi yang akan memperlebar defisit anggaran atau menaikkan harga BBM yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat,” kata Hendra.
Sektor yang Paling Terdampak
Dari sisi sektoral, tekanan pasar biasanya paling terasa pada sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan pelemahan daya beli, seperti consumer goods, transportasi, dan manufaktur. Sektor perbankan juga kerap mengalami tekanan karena kekhawatiran investor terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat memengaruhi kualitas kredit.
Di sisi lain, kondisi geopolitik dan lonjakan harga energi justru membuka peluang bagi sektor tertentu, terutama minyak dan gas serta pelayaran energi. Saham-saham di sektor tersebut berpotensi mendapatkan katalis positif apabila harga energi global bertahan tinggi.
Hendra menilai dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan area support kuat di kisaran 7.450–7.500. Namun jika ketegangan geopolitik mulai mereda dan harga energi kembali stabil, indeks berpeluang bergerak menuju area 7.900 hingga 8.000 dalam jangka menengah.
Ia juga mengingatkan investor untuk tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas pasar. Strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian sekaligus pada satu level harga.
Selain itu, peran pemerintah, regulator, serta Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar melalui kebijakan fiskal yang kredibel, transparansi informasi, serta komunikasi yang baik kepada investor.
Kinerja IHSG Pekan Lalu
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan saham 2-6 Maret 2026. IHSG sepekan tersungkur didorong sejumlah sentimen dari internal dan eksternal terutama ketegangan konflik di Timur Tengah.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/3/2026), IHSG sepekan tersungkur 7,89% sehingga ditutup ke level 7.585,68. Koreksi IHSG ini lebih besar dibandingkan pekan lalu. IHSG turun 0,44% menjadi 8.235,48 pada pekan lalu. Kapitalisasi pasar turun 7,85% menjadi Rp 13.627 triliun dari Rp 14.787 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 7,89% selama sepekan didorong sejumlah faktor. Pertama, eskalasi konflik Timur Tengah dan kecenderungannya meluas. Kedua, ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran sehingga mengakibatkan suplasi menipis dan harga minyak mentah menguat.
"Ketiga ada downgrade untuk outlook Indoensai dari lembaga pemeringkat asing,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, rata-rata frekuensi harian BEI merosot 7,33% sebesar 2,73 juta kali transaksi dari 2,95 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI anjlok 16,64% menjadi Rp 24,97 triliun dari Rp 29,95 triliun pada pekan lalu.
Kemudian rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini tersungkur 17% menjadi 42,34 miliar saham dari 51,02 milair saham pada pekan lalu. Namun, investor asing mencatatkan aksi beli saham Rp 2,22 triliun pada pekan ini. Pekan lalu, investor asing beli saham Rp 4,90 triliun.
Pada pekan depan, Herditya menuturkan, IHSG masih rawan koreksi dengan level support 7.481 dan level resistance di 7.727. Selama sepekan ke depan, IHSG akan dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, masih seputar konflik Timur Tengah yang akan mempengaruhi pergerakan harga komoditas terutama minyak mentah dan emas. Kedua, rilsi data inflasi China dan Amerika Serikat (AS) kemudian disusul data Produk Domestik Bruto (PDB) AS dan pekerjaan AS.
“Ketiga, mendekati momentum Lebaran, di mana diperkirakan terjadi aksi profit taking dahulu,” ujar dia.