Pengamat Nilai Mojtaba Khamenei Figur Tepat Memimpin Iran di Tengah Perang

Mojtaba Khamenei adalah putra kedua dari mendiang Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran periode 1989 hingga 2026.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 Maret 2026, 09:08 WIB
Mojtaba Khamenei (tengah), putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat menghadiri aksi tahunan Hari Quds atau Hari Yerusalem di Teheran, Iran, pada 31 Mei 2019. (Dok. AP/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Jakarta - Majelis Ahli Iran pada Minggu (8/3/2026), mengumumkan pemilihan Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei atau lebih dikenal dengan Mojtaba Khamenei (56) sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran setelah wafatnya Ayatullah Ali Khamenei akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari.

Dalam pernyataannya seperti dikutip dari Al Mayadeen, Majelis Ahli Iran menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei dipilih dengan mayoritas suara yang sangat besar oleh para anggotanya.

Di akhir pernyataannya, Majelis Ahli menyerukan kepada rakyat Iran, khususnya para ulama serta kalangan intelektual di lembaga pendidikan agama dan universitas, untuk menyatakan baiat kepada kepemimpinan baru serta menjaga persatuan nasional.

Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) dan Institute for Democracy Education (IDe) Smith Alhadar menuturkan bahwa sebenarnya mendiang Khamenei tidak menghendaki puteranya menggantikan dirinya.

"Agar tidak menimbulkan interpretasi publik bahwa ia hendak membangun dinasti. Yang menjadi favoritnya adalah Ayatullah (Alireza) Arafi yang, dari sisi keulamaan, lebih layak dari Mujtaba," ungkap Smith kepada Liputan6.com, Senin (9/3).

Mengutip dari sejumlah media, termasuk BBC dan The Guardian, Khamenei memang menentang gagasan agar putranya menjadi kandidat pemimpin di masa depan atas dasar prinsip. Revolusi Islam 1979 sendiri dulu mengakhiri dinasti kerajaan yang telah berkuasa selama berabad-abad di Iran di bawah pemerintahan shah.

Smith menyoroti pula bahwa Mujtaba baru bergelar hujjatulislam pada saat dipilih, yakni ulama tingkat menengah yang  berada di bawah level ayatullah. Situasi ini sama dengan pada saat ayahnya, Ali Khamenei, terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 4 Juni 1989, meski setelah itu ia segera dipromosikan ke pangkat ayatullah oleh Majelis Ahli untuk memperkuat legitimasi religiusnya di mata publik.

 

 

"Mojtaba Khamenei Tokoh yang Tepat"

Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, terpilih sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran. Foto ini disediakan oleh kantor pemimpin tertinggi Iran dan diambil pada Oktober 2024. (Dok. AFP)

Menurut Smith, pada momentum ini, Mujtaba dianggap tokoh paling tepat untuk menduduki kursi pemimpin tertinggi Iran.

"Ia dipilih tanpa intervensi ayahnya, yang menghilangkan prasangka publik terhadap ambisi Khamenei membangun dinasti," tutur Smith.

Alasan berikutnya, ungkap Smith, Mujtaba sangat dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara emosional maupun ideologis.

"Artinya, ia duplikat ayahnya dalam kebijakan-kebijakan negara. Ini diperlukan IRGC untuk menjaga stabilitas negara," beber Smith.

Hal berikutnya yang menjadi alasan Mujtaba dinilai ideal adalah ia penganut garis keras terkait hegemoni AS dan Israel yg dibutuhkan IRGC dalam situasi perang saat ini.

"Kematian Khamenei dan anggota keluarganya yang tragis dan dramatis membangkitkan simpati rakyat Iran kepada keluarga ini sehingga akseptabilitas rakyat terhadap Mujtaba meningkat," terang Smith terkait alasan lainnya.

Terakhir, Smith menilai, memilih Mujtaba merupakan ekspresi penentangan Iran terhadap Donald Trump dan Benjamin Netanyahu yang menolak Mujtaba menjadi pengganti ayahnya sekaligus memberi pesan kepada AS dan Israel bahwa Iran tidak bergeser dari posisi awalnya dan siap berperang melawan musuh-musuhnya habis-habisan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya