Liputan6.com, Jakarta - Bullying atau perundungan masih menjadi masalah serius yang dialami banyak anak, baik di lingkungan sekolah maupun di dunia digital. Meski sering dianggap sebagai konflik biasa antar anak, bullying sebenarnya dapat meninggalkan dampak emosional yang serius dan berkepanjangan.
Organisasi anak dunia United Nations Children's Fund (UNICEF) menjelaskan bahwa bullying biasanya memiliki tiga ciri utama, yaitu niat untuk menyakiti, dilakukan secara berulang, serta adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.
Advertisement
Anak yang melakukan bullying biasanya berada pada posisi yang dianggap lebih kuat, misalnya secara fisik lebih besar, lebih populer, atau memiliki pengaruh dalam kelompok pertemanan.
Selain itu, bullying bukan sekadar kejadian yang terjadi sekali. Perilaku ini biasanya menjadi pola tindakan yang terus berulang, sehingga dapat berdampak besar pada korban.
Dampak Bullying bagi Kesehatan Mental Anak
Perundungan tidak hanya menimbulkan luka fisik, tapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Anak yang mengalami bullying berisiko mengalami kecemasan, stres, hingga depresi.
Selain itu, bullying juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan prestasi akademik anak. Korban sering kali menjadi kurang percaya diri, menarik diri dari lingkungan, bahkan kehilangan motivasi belajar.
Masalah ini juga semakin kompleks dengan munculnya cyberbullying, yaitu perundungan yang terjadi di dunia digital melalui media sosial, pesan singkat, email, atau berbagai platform komunikasi online.
Berbeda dengan bullying secara langsung, cyberbullying dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Konten yang berisi ejekan atau penghinaan juga dapat menyebar dengan cepat dan meninggalkan jejak permanen di internet.
Oleh sebab itu, penting bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama mencegah bullying sejak dini.
Upaya Mencegah Bullying Sejak Dini
Pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan sekolah, tapi juga dapat melibatkan berbagai pihak, termasuk dunia usaha.
Salah satu contoh upaya tersebut dilakukan oleh Wilmar International, yang menjalankan program sosialisasi anti-bullying di sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa dan lingkungan sekolah untuk mencegah serta menanggulangi praktik perundungan sejak dini.
Koordinator Women on Working Group (WoW) Wilmar Central Kalimantan Project, Sarimanah, menjelaskan, sosialisasi anti-bullying telah dilakukan sejak 2019 melalui integrasi materi tersebut ke dalam kurikulum Sekolah Bina Bangsa, sekolah yang dikelola perusahaan di Sampit, Kalimantan Tengah.
"Kami ingin menekan potensi terjadinya perundungan sedini mungkin, sebagai bagian dari upaya melindungi dan membentuk karakter generasi muda," ujar Sarimanah.
Materi pembelajaran anti-bullying tidak hanya diberikan secara teori. Para siswa juga diajak memahami cara mengenali tanda-tanda perundungan, langkah pencegahan, hingga cara memberikan dukungan kepada korban.
Selain itu, siswa juga mengekspresikan pesan anti-bullying melalui berbagai kegiatan kreatif, seperti pentas seni yang mengangkat tema empati, persahabatan, dan saling menghargai.
Menurut Sarimanah, penerapan kurikulum tersebut terbukti memberikan dampak positif bagi perilaku siswa.
"Kami melihat perubahan perilaku positif pada siswa, baik dalam berinteraksi maupun dalam menyelesaikan konflik secara sehat," ujarnya.
Kolaborasi dengan Lembaga Internasional
Untuk memperkuat program tersebut, tim WoW Wilmar juga mendapatkan pelatihan mengenai pencegahan kekerasan terhadap anak dan anti-bullying dari International Labour Organization (ILO) dan United Nations Children's Fund (UNICEF).
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas tim dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada siswa serta lingkungan sekolah.
"Dengan dukungan dari lembaga internasional tersebut, kami berharap dapat terus memperluas dampak positif program ini ke lebih banyak sekolah di wilayah operasional Wilmar," kata Sarimanah.
Dia juga berharap upaya sosialisasi anti-bullying dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk masyarakat.
Hal ini penting mengingat kasus bullying masih sering terjadi di berbagai lingkungan. "Jika lebih banyak pihak berpartisipasi, kasus bullying diharapkan dapat ditekan," pungkasnya.
Tanda Anak Mengalami Bullying
Tidak semua anak berani menceritakan pengalaman bullying yang mereka alami. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan berbagai perubahan perilaku pada anak.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
- Anak memiliki luka atau memar tanpa penjelasan jelas
- Takut pergi ke sekolah
- Terlihat cemas atau mudah panik
- Menghindari pergaulan dengan teman
- Prestasi sekolah menurun
- Mengalami gangguan tidur atau mimpi buruk
- Menjadi lebih tertutup, terutama terkait aktivitas online
- Mudah marah atau menunjukkan perilaku agresif
Jika tanda-tanda tersebut muncul, orang tua dianjurkan untuk segera membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.
"Ketika anak memahami apa itu bullying, mereka akan lebih mudah mengenali perilaku tersebut, baik ketika terjadi pada diri mereka sendiri maupun orang lain," tulis UNICEF dalam panduannya mengenai pencegahan bullying.