Liputan6.com, Jakarta - Maret 2026 mungkin akan dicatat sejarah bukan karena jumlah ledakannya, melainkan karena inilah kali pertama algoritma, bukan jenderal, yang memegang kendali penuh atas nasib ribuan nyawa dalam sebuah 'Perang Algoritma'.
Bayangkan Anda adalah komandan perang. Di meja Anda tersedia sebuah layar. Di layar itu, sebuah angka berkedip: 847. Itulah jumlah target yang telah diidentifikasi oleh sistem AI Anda dalam 60 menit terakhir — target yang dalam perang Vietnam butuh sebulan untuk dikumpulkan oleh ratusan agen intelijen. Di bawah angka itu ada satu tombol merah. Telepon berdering. Atasan Anda berkata: “Kita punya jendela 4 menit sebelum mereka berpindah posisi."
Advertisement
Anda memutuskan menekan tombol merah. Tanpa tahu siapa yang menyusun daftar itu, dari data apa, dengan tingkat kesalahan berapa persen.
Itulah wajah perang di abad ke-21, realita Perang Iran–Israel–AS 2026. Bukan fiksi. Bukan film. Ini adalah dokumentasi dari sebuah pergeseran yang akan mendefinisikan ulang apa artinya berperang, dan apa artinya bertanggung jawab.
900 Serangan Rudal dalam 12 Jam: Ini Bukan Film Fiksi Ilmiah
Pada 28 Februari 2026, ketika koalisi Amerika Serikat dan Israel memulai Operasi Epic Fury terhadap Iran, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: hampir 900 serangan udara presisi dalam 12 jam pertama.
Sebagai perbandingan, serangan terbesar sepanjang Perang Teluk 1991 membutuhkan berhari-hari untuk skala yang jauh lebih kecil. Dan tidak boleh dilupakan, perang menyasar Iran saat ini adalah babak kedua setelah "Twelve-Day War" Iran–Israel pada Juni 2025.
Yang membuat ini berbeda bukan hanya jumlahnya. Melainkan siapa ….. atau lebih tepatnya apa yang membuat keputusan itu.Di balik setiap ledakan, ada sebuah algoritma.
Ketika Algoritma Memilih Siapa yang Harus Mati: Dari Data Mentah ke Ledakan dalam Detik
Untuk benar-benar memahami 'perang algoritma', kita perlu membedah rantai proses yang terjadi yaitu dari sensor yang mengumpulkan data hingga ledakan yang dihasilkan. Setiap mata rantai ini kini melibatkan AI.
Untuk memahami mengapa perang ini bisa berjalan secepat itu, kita perlu berkenalan dengan seorang pilot tempur AS bernama Kolonel John Boyd.
Pada awal 1970-an, Boyd mengembangkan sebuah teori yang kemudian mengubah doktrin militer dunia: OODA Loop. Singkatan dari Observe (Amati), Orient (Pahami), Decide (Putuskan), Act (Bertindak). Boyd mempresentasikan secara formal “ Patterns of Conflict tahun 1986. Prinsipnya sederhana tapi revolusioner: siapa pun yang bisa memutar siklus ini lebih cepat dari lawannya, dialah yang menang. Bukan yang lebih kuat. Yang lebih cepat.
Selama puluhan tahun, OODA Loop dibatasi oleh satu faktor: kecepatan otak manusia.
Kini, AI telah mengambil alih dua fase pertama sepenuhnya. Ia mengamati ribuan sensor satelit sekaligus, memproses data dari seluruh wilayah Iran yang luasnya 1,65 juta km², lalu menyajikan rekomendasi keputusan dalam hitungan detik. Di era AI, fase 'Putuskan' (Decide) yang dahulu merupakan kedaulatan kognitif manusia, kini terdistorsi menjadi sekadar prosedur administratif yang dijalankan dalam hitungan detik.Dan di sinilah muncul fenomena yang disebut para peneliti sebagai Automation Bias.
Ketika sebuah sistem menghasilkan rekomendasi yang tampak meyakinkan, lengkap dengan data, koordinat, dan probabilitas maka manusia secara psikologis cenderung menerimanya tanpa verifikasi. Ini bukan kelemahan individu. Ini adalah respons kognitif yang sangat manusiawi terhadap beban informasi yang luar biasa besar.
Hasilnya: seorang komandan rata-rata hanya menghabiskan 20 detik untuk meninjau setiap target sebelum memberikan tanda persetujuan.
Dua puluh detik untuk memutuskan apakah seseorang harus mati.
Manusia telah tereduksi menjadi sekadar 'pembubuh stempel'(rubber stamp) bagi keputusan mesin yang dingin dan kalkulatif.OODA Loop adalah teori yang lahir dari logika pikiran manusia, yang kini telah dijalankan oleh sesuatu yang sama sekali bukan manusia.
Kill Chain: Dari 'Target List' ke Ledakan
'Kill chain' adalah istilah militer untuk seluruh rangkaian proses dari identifikasi target hingga serangan diluncurkan. Tradisionalnya, ini bisa memakan waktu 72–96 jam, tetapi AI berhasil mempersingkat menjadi hanya dalam hitungan menit.
AI Militer Israel memiliki beberapa sistem AI andalan, tiga diantaranya jadi ujung tombak operasi yaitu The Gospel, Lavenderdan Where’s Daddy.
- “The Gospel” (Habsora dalam bahasa Ibrani) dirancang untuk mengidentifikasi target infrastruktur fisik: gedung, fasilitas militer, pusat komando. digunakan oleh Israel. Dalam konflik di Gaza tahun 2023-2024, dalam sehari ia mampu menghasilkan 100 target baru, sementara analis manusia terbaik, mungkin hanya mampu menyusun 50 target dalam setahun. Ini bukan salah ketik. 100 target per hari vs 50 target per tahun.
- “Lavender” jauh lebih kontroversial karena tidak menyerang bangunan, melainkan manusia. Lavender menganalisis jaringan sosial, koneksi keluarga, komunikasi digital, pola pergerakan, dan ratusan variabel lain. Laporan investigasi +972 Magazine menyebutkan sistem ini memindai lebih dari 37.000 individu, dan memberi masing-masing “skor risiko” antara 0 hingga 100. Sistem ini dikalkulasi dari pola panggilan telepon, jaringan sosial digital, hingga metadata pergerakan. Siapa pun yang skornya tinggi, masuk daftar target.
- “Where’s Daddy?” Nama sistemnya terdengar seperti pertanyaan anak kecil. Tapi fungsinya mematikan. Where's Daddy? adalah sistem yang memantau kapan seorang target berada di rumahnya, sehingga serangan bisa dilakukan tepat saat target hadir, seringkali bersama keluarganya.Dalam operasi melacak Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebuah laporan dari sumber Israel yang dikutip The Guardian menyebut bahwa kamera lalu lintas di Teheran telah diretas bertahun-tahun sebelumnya untuk memantau pergerakan target elite Iran. Data dari kamera itu, dikombinasikan dengan AI pengolah pola, membangun gambaran lengkap rutinitas harian sang pemimpin.
Selain trio maut AI militer Israel, dari sisi Amerika , dua platform AI memainkan peran krusial yang baru terungkap pasca-operasi yaitu Palantir & Claude.
Palantir Technologies adalah perusahaan data dan analitik berbasis di Denver . Perusahaan ini menyediakan perangkat lunak berbasis AI yang digunakan oleh intelijen militer AS untuk menganalisis data drone dan sensor dalam menentukan target. Platform unggulannya menciptakan 'digital twin' dari lokasi fisik, memungkinkan pengambilan keputusan real-time berdasarkan representasi virtual medan perang.
Namun yang paling mengejutkan dan kontroversial adalah penggunaan Claude, yang dikenal sebagai model bahasa besar (LLM) buatan Anthropic, sebuah perusahaan AI berbasis di San Francisco. Hal ini menarik karena, seperti dalam laporan BBC News, Presiden Trump sempat mengumumkan larangan penggunaan Claude, namun ternyata militer Amerika tetap menggunakan Claude, sehingga sempat menimbulkan kontroversi antara Pentagon dan Anthropic.
Selain operasi AI Amerika, salah satu inovasi paling menarik dalam operasi ini adalah penggunaan pertama kali oleh militer AS sebuah senjata baru yaitu drone LUCAS (Low-costUnmanned Combat Aerial Systems) buatan SpektreWorks (berbasis di Phoenix, Arizona).
Ini lebih mirip dengan ‘drone kamikaze’ yang memiliki navigasi otonom, pengenalan target visual berbasis AI.
Yang membuat LUCAS menarik adalah ‘drone kamikaze’ seharga $35.000 per unit ini terinspirasi langsung dari drone Shahed-136 buatan Iran, yaitu senjata murah yang telah digunakan Rusia di Ukraina dan telah menyerang berbagai target di kawasan Teluk. AS mengadaptasi teknologi musuh untuk melawan musuh itu sendiri. Ini adalah contoh nyata bagaimana AI dan analisis data digunakan untuk mempelajari, meniru, dan mengalahkan strategi lawan.
Selain itu, Amerika juga menggunakan 'edge AI' yaitu kecerdasan buatan yang berjalan langsung di perangkat militer, bukan di server pusat. Hal ini dilakukan karena karena jalur komunikasi kerap terganggu dalam keadaan perang. Edge AI memungkinkan pesawat tempur seakan berpikir sendiri.
Misalnya dalam skenario nyata F-35 di atas Tehran, Iran.Dengan pertahanan udara yang aktif, tentu sinyal komunikasi ke pusat komando dijam atau diganggu oleh sistem EW (Electronic Warfare) Iran. Sementara, pilot F-35 mendeteksi konvoi kendaraan militer yang bergerak. Maka sistem edge AI onboard memproses: (1) konfirmasi identifikasi kendaraan militer dari citra infrared, (2) periksa database target prioritas, (3) hitung zona aman dari pemukiman sipil, (4) rekomendasikan parameter serangan.Edge AI bekerja dalam 3 detik, tanpa koneksi ke pusat komando.
Perang Lain yang Tak Terlihat: Serangan ke Pikiran Anda
Sementara bom berjatuhan di Iran, perang lain berlangsung di layar smartphone miliaran orang di seluruh dunia. Iran, yang sadar tidak bisa menandingi teknologi militer lawan, meluncurkan serangan ke ranah persepsi. Video deepfakememperlihatkan pejabat militer Israel seolah mengakui kejahatan perang. Rekaman lama ledakan di China di-recycledan disebarkan sebagai bukti “serangan rudal Iran yang berhasil.” Jaringan bot menyebarkan narasi kepanikan.
Tujuannya bukan mengalahkan musuh di medan pertempuran, tapi menciptakan kekacauan epistemologis yaitu keadaan di mana orang tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang palsu.
Yang menarik, dari sisi berlawanan muncul fenomena baru: seorang warga sipil Israel bernama Yonatan Back dalam waktu 6 jam membangun sebuah dashboard bernama StrikeRadarmenggunakan Claude AI. Platform ini menganalisis data terbuka untuk memprediksi probabilitas serangan militer di berbagai titik. Alat intelijen strategis yang dulu hanya dimiliki negara adidaya, kini bisa dibuat oleh satu orang dalam satu sore.
Para analis menyebut ini sebagai Demokratisasi Intelijen Strategis . Istilah ini mungkin cocok untuk menggambarkan pergeseran, yang mengubah bukan hanya cara berperang, tapi juga siapa yang berhak “tahu” dalam sebuah konflik.
Manusia Telah Berubah Menjadi Titik Data
Jauh sebelum ada AI, seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger sudah memperingatkan tentang bahaya ini. Dalam esainya yang terkenal, “The Question Concerning Technology”(1954), Heidegger memperkenalkan konsep Gestell yang dalam bahasa Jerman berarti “kerangka” atau “enframing.” Iaberargumen bahwa teknologi bukan sekadar alat. Teknologi adalah cara pandang yang mengubah bagaimana kita melihat seluruh dunia.
Dalam pandangan teknologis, segalanya termasuk manusiahanya bernilai sejauh ia bisa dikalkulasi, diukur, dan dimanfaatkan. Dalam kacamata Martin Heidegger, inilah fase Bestand, di mana teknologi mereduksi martabat manusia menjadi sekadar 'persediaan cadangan' atau titik data yang siap dikonsumsi oleh mesin perang.
Bayangkan sistem Lavender. Ia tidak melihat target sebagai seorang ayah yang pulang ke rumah untuk makan malam bersama anaknya. Yang dilihatnya adalah serangkaian variabel: frekuensi komunikasi dengan jaringan tertentu, pola geolokasi yang mencurigakan, skor asosiasi kelompok. Hasilnya: angka antara 0 dan 100. Dan yang lebih mengkhawatirkan: para operator di balik layar pun mengalami hal serupa. Mereka tidak melihat manusia.Mereka melihat koordinat, probabilitas, dan tombol hijauatau merah. Heidegger memperingatkan: “Bahaya terbesar teknologi bukan bahwa ia menghancurkan manusia, melainkan bahwa ia mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri.”
Di layar perang itu, tidak ada wajah. Hanya angka.
Dunia Setelah Perang AI Pertama
Konflik ini tidak berhenti di Iran. Ia mengirimkan gelombang kejut ke seluruh planet.
China, Rusia, India, Turki, dan Inggris semuanya mempercepat program AI militer mereka. Perlombaan senjata baru telah dimulai, kali ini bukan soal nuklir, tapi soal algoritma dan kecepatan pengambilan keputusan. Yang mengkhawatirkan para ahli: tidak ada “Konvensi Jenewa” untuk perang algoritma. Tidak ada perjanjian internasional yang mengikat tentang senjata otonom. Dunia sedang berlomba membangun sesuatu yang belum ada aturannya.
Presiden Trump menilai Operasi Epic Fury dianggap “berhasil” karena bisa mencapai target, pimpinan musuh tewas, infrastruktur militer banyak yang lumpuh. Tetapi ini masih tahap awal operasi, perang belum selesai.
Tapi hal ini masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih berat.
Jika OODA Loop kini dijalankan oleh mesin, apakah manusia masih yang “memutuskan”? Jika Agenda-Setting dan Framingkini dikerjakan oleh algoritma, siapa yang mengontrol kebenaran? Jika tanggung jawab moral bisa hilang ke dalam prosedur system, maka seperti yang diperingatkan Arendt : apakah kita masih bisa menyebut perang ini sebagai tindakan manusia?
Heidegger pernah bertanya: “Apakah kita sedang menguasai teknologi, atau teknologilah yang menguasai kita?”
Dalam era perang AI, ancaman terbesar bukanlah mesin yang membunuh. Ancaman eksistensial terbesar bukanlah mesin yang membunuh tanpa ampun, melainkan manusia yang kehilangan nalar kritis dan berhenti mengajukan pertanyaan etis sebelum tombol 'eksekusi' ditekan oleh algoritma.
Disclaimer Jurnalistik
Artikel ini ditulis pada awal Maret 2026 ketika konflik masih berlangsung; beberapa detail bisa berubah seiring perkembangan situasi.
Sumber & Referensi:
- The Jerusalem Post — 'AI-first Warfare: America's Algorithmic Edge in Operation Epic Fury' (Maret 2026)
- Interesting Engineering — 'AI-Driven Warfare in Iran' (Maret 2026)
- The Conversation — 'The Pentagon Strongarmed AI Firms Before Iran Strikes' (Maret 2026)
- The Daily Star — 'How AI Shaped the Iran-Israel 12-Day War' (Maret 2026)
- ResultSense — 'AI in War: US Military Decision-Making and Oversight Risks' (Maret 2026)
- American Bazaar — 'AI, War in Iran, and the Sovereignty Struggle Over Autonomous Technology' (Maret 2026)
- CSIS Nuclear Network — 'Automating the OODA Loop in the Age of AI' (2022)
- Joint Air Power Competence Centre (JAPCC) — 'Speeding Up the OODA Loop with AI' (2022)
- Martin Heidegger — 'The Question Concerning Technology' (1954; terjemahan Lovitt, 1977)
- Hannah Arendt — 'Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil' (1963)
- McCombs & Shaw — 'The Agenda-Setting Function of Mass Media', Public Opinion Quarterly (1972)
- Robert Entman — 'Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm', Journal of Communication (1993)
- RUSI (Royal United Services Institute) — Laporan AI dalam pertahanan, 2025–2026
- Anthropic/Wall Street Journal — Laporan penggunaan Claude dalam operasi militer AS (Maret 2026)
- NPR, "Trump launches 'Operation Epic Fury' on Iran," 28 Februari 2026.
- +972 Magazine, "Lavender: The AI machine directing Israel's bombing spree in Gaza," 2024.
- BBC News, "Trump orders government to stop using Anthropic," Februari 2026.
- Ynet News, "Israeli AI tool predicts likelihood of US strike on Iran in real time," Januari 2026.